Strategi Brilio.net Raih Kenaikan Jumlah Pembaca Hingga 139%

Perubahan pola konsumsi berita dari generasi millennial di era digital disadari betul oleh Brilio.net. Pendekatan multiplatform dilakukan oleh media startup asal Yogyakarta ini untuk bisa menjangkau audiens yang lebih banyak. Media sosial, aplikasi pesan hingga agregator berita dimaksimalkan demi membuat konten yang berpotensi viral.

Hasilnya, pada usia yang genap dua tahun pada 18 Maret 2017. Brilio kini memiliki 22 juta pembaca (unique visitors) dengan 111 juta halaman yang dibaca (pageviews) setiap bulannya. Angka ini meningkat hingga 139% dan 121% dibanding periode yang sama tahun lalu. Video pendek yang diproduksi Brilio di Youtube dan Facebook juga mengalami peningkatan dengan dilihat lebih dari 4 juta kali setiap bulannya.

Joe Wadakethalakal, CEO Brilio.net, mengatakan, generasi millennial yang merupakan segmen utama audiens Brilio memiliki rentang perhatian yang terbatas. Mereka kebanyakan menghabiskan waktu dengan menggunakan beberapa aplikasi yang biasanya merupakan kombinasi aplikasi pesan dan media sosial pada smartphone. “Jika ingin menjangkau millennial, harus menerbitkan konten pada aplikasi yang mereka gunakan,” jelasnya.

Joe Wadakethalakal – CEO Brilio.net

Sebanyak 80% dari content view Brilio.net kini terjadi melalui gabungan dari platform media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, Youtube), aplikasi pesan (Line, BBM), dan agregator berita (UC News, Kurio, Babe, Baca dll). Jika dirinci lebih detail, 34,4% audiens mengakses konten dari agregator berita, 23,5% dari media sosial, 20,9% dari aplikasi pesan dan sisanya baru melalui on-site (langsung ke website Brilio.net). Sedangkan mayoritas audiens yakni 95% mengakses dari smartphone berbanding 5% dari desktop atau tablet.

Selain memaksimalkan saluran distribusi, strategi lainnya ialah penyesuaian konten dengan karakteristik yang disukai millennial. “Millennial itu suka konten yang lucu dan unik, menggugah nurani, inspiratif serta memuaskan rasa penasaran dan ingin tahu mereka,” ujar Titis Widyatmoko, Editor in Chief Brilio. Tak hanya itu, Brilio juga selalu fokus pada upaya untuk memaksimalkan kepadatan konten. Semakin mudah dipahami, konten akan semakin menarik perhatian audiens.

Sedangkan dari sisi bisnis, Brilio secara konsisten tidak menerapkan banner-ads pada tampilan situsnya. Sebagai gantinya, konten-konten native advertising seperti sponsored content, sponsored video dan event menjadi andalan dalam mencari revenue.

“Selain menganggu kenyamanan membaca, banner-ads juga sangat berpotensi untuk diabaikan dengan maraknya pengggunaan ad-blockers. Kami percaya bahwa native advertising adalah cara terbaik untuk marketer menggapai audiens yang relevan dengan kebutuhan mereka,” tutur Joe.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
AFTECH Menanti OJK Tindak Lanjuti Aturan Layanan P2P Lending

Pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi FinTech (AFTECH) Indonesia mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk lebih serius menunjukkan komitmennya dalam...

Close