Strategi Cogindo Mencapai Target Pendapatan Rp1 Triliun

Tri Tjahjonoputro, Presiden Direktur PT Cogindo Daya.

Sejak didirikan tahun 1998, PT Cogindo Daya Bersama menggeluti bisnis jasa operation and maintenance (O&M) pembangkit listrik milik Indonesia Power (IP) dan PLN.

IP adalah pemilik 99,9% saham Cogindo dan  sisanya dimiliki oleh Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan IP. Saat ini total aset Cogindo  mencapai Rp899 miliar, melayani 12 provinsi melalui 22 proyek yang diisi oleh 2.200 karyawannya.

Tri Tjahjonoputro, Presiden Direktur PT Cogindo Daya Bersama, mengungkapkan, jumlah listrik yang dikelola sekarang untuk jasa O&M Support 4,633 MW dan Jasa O&M Alat Bantu 8,593 MW. Selain bisnis jasa O&M, Cogindo juga mengelola kegiatan usaha penjualan tenaga listrik, sewa ganset, maintenance, repair & overhaul , dan stockiest.

Sekarang ini Cogindo telah memiliki 4 lini bisnis dan sejak berdiri terus berkembang, terutama pada saat Fast Track Pembangkit (FTP) 1 tahun 2006-2007. “D isana kami sudah mulai banyak bisnis O&M untuk mengoperasikan pembangkit listrik milik PLN yang ditugaskan kepada IP. Daris itu sebagian dari jasa O&M dikerjakan oleh Cogindo,” ungkapnya.  Perusahaan juga melakukan jasa O&M kepada pembangkit IP sendiri.

Untuk proyek jasa O&M swasta pernah dicoba Cogindo saat awal berdiri sekitar tahun 1998-2008, yaitu melayani jasa O&M pembangkit kecil di mall & industri kecil dan menyewakan pembangkit ke pihak swasta. Namun, kini tidak berkembang dan kurang menguntungkan perusahaan. Akhirnya, Cogindo berpindah haluan ke jasa O&M pembangkit milik IP dan PLN.

Lalu, apa keunggulan Cogindo dibandingkan kompetitor lainnya? Dijelaskan Tri, Cogindo memiliki jam terbang tinggi di pengelolaan pembangkit di sektor PLTP (panas bumi). Ini yang menjadi keunggulannya, perusahaan lain tidak memiliki keahlian untuk mengerjakan sektor tersebut. “Selain itu, kami juga memiliki kelebihan lain mengelola sektor PLTDG (pembangkit diesel dan gas). Saat ini kami memiliki PLTD MFO (marine fuel oil) di Batakan sebesar 45 MW,“ jelasnya.

Keahlian yang dimiliki Cogindo memberikan kepercayaan pada manufaktur dari engine maker untuk melakukan jasa service di jasa PLTDG untuk seluruh PLN Group. Jasa yang diberikan meliputi penyiapan jasa service outrage management dan suku cadangnya. Selain itu, meningkatkan kompetensi di bidang maintenance, repairing, dan jasa overhaul (MRO). “Itu yang tidak dimiliki oleh sesama bisnis kami. Kami memiliki kompetensi di MRO juga,” ujar Tri.

Tantangan yang dihadapi Cogindo saat ini adalah bagaimana meningkatkan  kompetensi SDM, karena Cogindo bergerak di jasa O&M dengan teknologi yang terus berkembang. Faktor tersebut paling penting, selain mencari bisnis lain untuk mencapai target revenue yang ditetapkan pemerintah tahun depan. “Kami ditantang untuk mengambangkan bisnis Enginering, Procurement & Construction (EPC) agar bisa lebih meningkatkan kompetensi di bidang O&M dan pembangunannya,” tambahnya.

Saat ini Cogindo mengoperasi O&M yang telah dibangun dan berusaha menbangun DNA. Cogindo mendapatkan kepercayaan dari shareholder untuk membangun pembangkit (EPC) di 9 lokasi, antara lain 7 di Papua, 1 di Sulawesi, dan 1 di Natuna. “Total akan kami bangun 240 MW dan full 100% dioperasikan oleh Cogindo. Selain itu,  punya kontrak dengan konsorsium EPC yang ada di Jakarta untuk mengembangkan pembangkit di 4 lokasi di Ambon (45MW), Baubau (600MW), Jayapura (625MW), dan Riau (400MW) total 1,670MW,” papar Tri.

Dalam roadmap 2017, perusahaan tak hanya berusaha meningkatkan pendapatannya, namun juga meningkatkan kompetensi. Cogindo memberikan jasa bukan hanya sebatas jasa O&M, tapi juga Independent Power Producer (IPP) yang menjual energi listrik ke PLN di Batakan sebesar 45 MW, termasuk sewa pembangkit di Bali dan Lombok. Total jasa O&M yang dikerjakan untuk pembangkit IP dan PLN sebesar 4.900 MW.

Pasar pembangkit di seluruh Indonesia sekitar 55 ribu hingga 56 ribu MW, dimana Cogindo mengoperasikan 4900 MW, ditambah dengan beberapa pembangkit yang saat ini sudah operasikan oleh IP hampir 9000 MW. “Market Cogindo sendiri di Indonesia sekitar 20% dengan kenaikan per tahunnya sekitar 20%. Tahun 2016-2017 total pendapatan Cogindo mencapai Rp760 miliar dan tahun 2018 ditargetkan mencapai Rp1 triliun,” ungkap Tri dengan optimistis.

 

Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)