Strategi Knauf Kembangkan Pasar Gypsum di Indonesia

Knauf, perusahaan multinasional yang bergerak di bidang konstruksi, khususnya produk gypsum, melihat pasar Indonesia cukup menjanjikan dan memilih Indonesia sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk pengembangan usahanya. Pabrik pertama Knauf Gypsum Indonesia sendiri telah berdiri sejak tahun 2003 di daerah Cikampek, Jawa Barat dengan luas lahan 157.764 meter persegi, dan telah memasok produk pada proyek residential, office, commercial, dan hotel di kota-kota besar di Indonesia.

 

Samuel E. Hutabarat, Sales & Marketing Director Knauf, mengatakan, penambahan jumlah pabrik di Eropa dan Asia merupakan salah satu strategi Knauf untuk memenuhi kebutuhan pasar. "Prinsip dasar Knauf adalah dengan mendirikan fasilitas produksi pada tempat tersedianya material mentah dan pada tempat dibutuhkannya produk kami," ujarnya.

Maka pada tahun 2015 Knauf membangun pabrik ke dua di Gresik, Jawa Timur, dengan luas 54.607 meter persegi, untuk menjangkau kebutuhan pasar di wilayah timur Indonesia. "Beroperasinya 2 pabrik ini merupakan strategi ekspansi Knauf sekaligus menjadi bentuk investasi di Indonesia. Jadi yang di Cikampek untuk memenuhi kebutuhan di wilayah barat, dan di Gresik untuk wilayah timur," tambahnya.

Terkait strategi penambahan fasilitas produksi tersebut, Samuel juga mengungkapkan kapasitas produksi gypsum Knauf bisa mencapai sekitar 25 juta sampai 35 juta meter persegi. Samuel juga menjelaskan, Knauf fokus menyasar segmen menengah atas. "Untuk komposisi harga berbeda-beda tergantung head cost masing-masing daerah area. Target utilisasi pabrik di semester dua dari sebelumnya 80 persen sampai 90 persen," ungkapnya.

Sementara itu, strategi dari sisi produk, Elisabeth Tambunan, Technical & Account Manager Knauf, menjelaskan, Knauf menghasilkan produk yang memiliki diferensiasi seperti gypsum yang memiliki insulasi termal dan insulasi suara. "Kami punya papan gypsum namanya fire shield yang bisa tahan api sampai dua jam. Lalu produk yang di Indonesia sama dengan yang ada di Eropa dan seluruh dunia," tutur Elisabeth.

Selain itu, perusahaan asal Jerman ini mengembangkan diversifikasi usaha salah satunya menyediakan sistem konstruksi, menyediakan produk-produk lime stone, dan rekayasa bangunan pabrik. "Kami optimis Indonesia akan tumbuh karena pembangunan infrastrktur sekarang yang begitu masif sehingga kebutuhan properti akan sejalan, 6 sampai 7 persen kenaikannya saya kira," tambahnya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)