Strategi Lion Air Garap Bisnis Kurir

 Farian Kirana, CEO Lion ParcelMengoptimalkan konsep value chain, Lion Air Group (LAG) makin aktif menggarap bisnis kurir. Sejak 2016 mereka serius menggenjot pertumbuhan bisnis ini dengan mengusung merek Lion Parcel. Bisnis baru ini tentu saja agak berbeda dengan bisnis-bisnis lain di LAG yang umumnya bersifat airline-centric seperti ground handling services, perawatan dan perbaikan pesawat (Batam Aero Technic), serta katering (PT Lion Boga).

Meski tak terkait langsung dengan bisnis penerbangan, bisnis kurir ini sangat dekat dengan rantai nilai LAG karena mengandalkan jaringan, operasional armada pesawat, dan frekuensi penerbangan yang tinggi. Mereka sendiri sebenarnya sudah mulai merintis bisnis kurir ini tahun 2013, tetapi waktu itu masih menggunakan nama Lion Express.

Agresivitas Lion Parcel yang bermula dari sebuah maskapai penerbangan ini tentu saja menarik, terlebih melihat model penetrasinya yang berkebalikan dengan pemain kurir besar seperti FedEx dan DHL. “Perusahaan logistik seperti DHL dan FedEx baru membeli pesawat belakangan setelah bisnis kurirnya besar. Lion Parcel ini kebalikannya. Kami sudah memiliki banyak pesawat, baru kemudian membangun perusahaan logistik. Kami memanfaatkan aset yang ada dan potensi pasar yang semakin tumbuh,” Farian Kirana, CEO Lion Parcel yang juga keponakan pendiri LAG, Rusdi Kirana, menjelaskan.

Menurut Farian, LAG merambah bisnis kurir karena melihat ada peluang pasar yang besar, termasuk geliat bisnis e-commerce. Namun di luar itu, ada alasan strategis lain. Pada bisnis logistik/kurir lain, katanya, kargo adalah salah satu komponen biaya terbesar, 35-40%. “LAG memiliki space kargo sendiri, memanfaatkan ruang yang tidak terpakai di dalam bagasi pesawat. Tidak perlu tambahan cost lagi. Bagasi pesawat yang belum terisi penuh bisa digunakan untuk barang dari Lion Parcel,” tunjuk Farian seraya menambahkan, kini LAG mengoperasikan lebih dari 300 pesawat.

Melihat penetrasi jaringan yang sudah dibangun, Lion Parcel memang tumbuh cepat. Nyaris di semua kota yang memiliki bandar udara, pasti ada konsolidatornya (perwakilan). “Hingga kini kami mempunyai 4.000 agen drop off yang tersebar di Indonesia. Jaringan kami bisa mencapai daerah pelosok karena kemitraan yang kami jalin,” Farian menjelaskan. Lion Parcel memang sangat mengandalkan pengiriman ritel melalui agen drop off dan pengiriman dari daerah-daerah. Sebab itu, jumlah armada motornya pun lebih banyak dibanding mobil karena para mitranya memiliki armada motor. “Jaringan Lion Parcel dapat tumbuh secara cepat karena kami menggunakan asset-light model di mana kami tidak memiliki cabang agen dan kurir sendiri, namun menjalin kemitraan dengan orang lain sebagai konsolidator. Partnership model ini menggunakan mekanisme revenue sharing,” kata Farian. Dalam pola kerjasama ini, pihak LAG memodali para mitra berupa sistem, standar operasional prosedur (SOP). dan atribut Lion Parcel agar bisa menjalankan usaha kurir.

Bahkan. sejak Maret 2018 Lion Parcel juga mempunyai layanan kurir virtual. Kalangan individu bisa mendaftar menjadi mitra kurir yang bertugas mengantar barang di area/domisili masing-masing. Keuntungan sebagai kurir ini adalah memperoleh penghasilan minimal Rp 1 juta per bulan dari pickup fee setiap pengambilan barang. Kurir akan mendapatkan Rp 5.000 per kilogram dan delivery fee setiap pengantaran barang Rp 3.000 per kg. Mereka bisa memperoleh penghasilan sampai Rp 5 juta per bulan dari Lion Parcel. “Hal yang menarik, mereka yang bergabung sebagai kurir Lion Parcel juga bekerja sebagai ojek online. Jadi, mitra kami memungkinkan mendapatkan penghasilan dari dua perusahaan,” katanya. Yang jelas, dengan model bisnis kemitraan ini, skalabilitas Lion Parcel meningkat lebih cepat dibanding menggunakan aset sendiri, selain lebih hemat biaya investasi tentunya.

Farian tak menampik persaingan bisnis kurir sudah sangat ketat. Untuk itu, pihaknya menawarkan keunggulan (value proposition) dalam hal kecepatan pengantaran barang. “Kami memiliki armada pesawat sendiri dengan rute-rute penerbangan jarak jauh dengan frekuensi tinggi sehingga barang bisa sampai tujuan dalam waktu 1-2 hari saja dengan harga yang setara dengan pengiriman di Jabodetabek menggunakan ojek online. Dengan harga yang ekonomis, kami bisa kirim dengan cepat ke daerah-daerah terpencil,” Farian menandaskan.

Menurutnya, saat ini industri e-commerce masih terpusat di Jawa tetapi nantinya apabila menginginkan e-commerce mewakili 5% dari seluruh transaksi ritel di Indonesia, Indonesia harus menyasar wilayah Indonesia Timur agar transaksi lebih merata. Dan, Lion Parcel bisa mengambil peran tersebut. Memang akhirnya setiap perusahaan kurir akan fokus pada kekuatan masing-masing meski dalam praktiknya juga terjadi irisan-irisan. Go-Jek dengan layanan Go-Send, misalnya, akan mengambil pasar city courier. Sementara Lion Parcel mengarah pada pengiriman yang cepat untuk jarak jauh.

Lion Parcel mengandalkan jaringan antaran melalui sinergi dengan berbagai pihak. Untuk Indonesia, pengiriman parcel ini mengikuti rute Lion Air, Batik Air, dan Wings Air yang menjangkau daerah pelosok (kotamadya/kabupaten). Pada jaringan internasional, juga diperkuat rute penerbangan Malindo Air berbasis di Malaysia dan Thai Lion Air di Bangkok, Thailand.

Lion Parcel juga bersinergi dengan Pos Indonesia dan Loginext. Kerjasama dengan LogiNext dalam konteks membangun sistem optimasi logistik dalam pengerjaan berbagai pengiriman paket yang tepat waktu melalui optimisasi jalur dan otentikasi pencatatan yang efektif. Adapun kerjasama dengan Pos Indonesia sebagai vendor untuk penerusan dalam pengantaran barang hingga ke pelosok. “Lion Group memiliki kemampuan terbang hingga ke daerah terpencil dan Pos menjangkau sampai ke tingkat desa,” kata Farian yang bergabung dengan Lion Parcel sejak awal 2016.

Farian menjelaskan, kini Lion Parcel merupakan unit bisnis yang pertumbuhannya tercepat di LAG dengan pertumbuhan dari bulan ke bulan mencapai digit ganda. Kontribusi pengiriman terbanyak datang dari Jakarta dan Batam. Meski demikian, hingga kini mereka terus berusaha belajar dan mengembangkan diri.

Tugas perusahaan logistik adalah memenuhi permintaan-permintaan dari pasar yang sebelumnya tidak ada. Contohnya, ada perusahaan e-commerce yang menawarkan layanan ‘coba terlebih dahulu baru kemudian dibayar’. Hal-hal seperti ini membutuhkan treatment tersendiri. Kalau hal tersebut tidak dilakukan, nanti bisa diambil oleh kompetitor. Industri e-commerce ini relatif baru sehingga banyak hal masih trial and error. Kami perlu terus mendengarkan apa yang dibutuhkan pasar,” papar Farian. Selain itu, pihaknya juga terus melakukan tracking dan analisis terhadap kinerja para kurirnya dan memberikan insentif lebih besar kepada mitra kurir yang kinerjanya bailk.(*)

Sudarmadi & Jeihan Kahfi Barlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)