Strategi Menuju Kemandirian Industri Baja Nasional

Industri baja nasional yang mandiri diharapkan mampu mendukung tumbuhnya ekonomi nasional. Dengan metode Three Circular Economy, pengamat ekonomi optimistis tujuan itu dapat segera terwujud. Three Circular Economy ini sendiri adalah analisa umum antara peningkatan produksi dalam negeri, konsumsi produk dalam negeri, penurunan impor serta adanya investasi, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam diskusi online Infrastructure Connect Digital Series 2021 dengan tema ‘Menuju Kemandirian Industri Baja Nasional dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional’  (7/10/2021), Direktur logam Dirjen ILMATE Kemenperin RI Budi Susanto mengungkapkan, Kemenperin sudah memiliki rencana pengembangan industri besi dan baja nasional. Rencana itu dibuat dari tahun 2015 sampai tahun 2035. Pada rencana tahap dua (tahun 2020-2024), target kapasitas produksi di akhir tahun 2024 sebesar 17 juta ton.

“Di bulan ke 4 tahun 2021 ini sudah mencapai 11,7 ton. Ini juga kalau dilihat dari targetnya (2021) ini 11,9 juta ton. Jadi kita sekarang masih kekurangan 0,2 juta ton. Mudah-mudahan dengan beroperasinya fasilitas LSM dari Gunung Rajapaksi yang 11 juta ton ini nanti bisa terpenuhi. Kemudian Cilegon karena kita sudah sebut sebagai kota baja kita juga canangkan ada cluster 10 juta ton. Ini merupakan bagian dari yang 17 juta ton. Nah ini di tahun 2019 sampai 2022 ini juga sudah ditetapkan sebesar 6,9 juta ton. Dan ini mudah-mudahan juga bisa terpenuhi, ” terang Budi.

Budi menjelaskan, menurut data dari Badan Pusat Statistik 5 Agustus 2021, sektor konstruksi yang membutuhkan banyak baja dan besi sebagai material konstruksi kini tumbuh 4,42 persen. Pertumbuhan ini terjadi karena adanya realisasi belanja pemerintah untuk konstruksi yang mengalami kenaikan sebesar 50,52 persen. Kemudian kebijakan PPnBM (Pajak Penjualan untuk Barang Mewah) untuk otomotif. Kebijakan ini juga mendorong pemakaian baja juga yang pada akhirnya meningkatkan impor besi dan baja.

Di kesempatan yang sama, pelaku usaha di sektor industry baja, khususnya baja ringan, Stephanus  mengatakan, ekonomi nasional bisa meningkat jika ada beberapa faktor pendukung seperti investasi, konsumsi, ekspor/impor dan kemajuan teknologi.

“Dari sisi ekonomi nasional bisa meningkat kalau ada investasi, adanya konsumsi, dan ekspor impor. Kemudian yang terakhir percaya teknologi. Dengan pengaplikasian industri 4.0 ini (pertumbuhan ekonomi nasional) akan mempercepat lagi. Jadi 4 hal itu yang kami selalu usahakan di dalam perusahaan kami ini,” terang Vice Presiden Tatalogam Group itu.

Namun demikian, pimpinan perusahaan baja ringan terbesar di Indonesia itu melanjutkan, saat ini masih ada beberapa permasalahan yang bisa menjadi batu sandungan dalam menggapai tujuan kemandirian baja nasional sekaligus mengancam keselamatan jiwa penggunanya di  Indonesia.

Jadi yang banyak masuk sekarang ini adalah baja di bawah 0,2. Baja ketebalan inti 0,18 - 0,17 - 0,16. Ini banyak yang kami temukan. Dan tentu kalau dari produsen dalam negeri tidak bisa membuat baja dengan ketebalan seperti ini, karena semua baja yang diproduksi di tanah air itu sudah harus sesuai dengan SNI. Tapi memang ada 1-2 pelaku industri yang mengundang baja impor ini bisa masuk. Akibatnya, beberapa tahun ini banyak sekolah, rumah sakit, dan juga fasilitas umum lainnya yang ambruk. Terakhir itu di pasar Weleri, Kendal. Ini kami mohon perhatiannya untuk baja-baja non standar ini,” jelas Stephanus.

Menurut Stephanus, ada 5 strategi yang bisa dilakukan guna mencapai kemandirian Industry baja nasional. Yang pertama adalah dengan menegakkan standar yang tegas dan wajib, khususnya untuk SNI dan meningkatkan TKDN.

Strategi berikutnya, mengenai peningkatan investasi industry baja yang mengedepankan teknologi yang ramah lingkungan. Karena itu dia berharap, pemerintah lebih selektif terhadap Penanam Modal Asing (PMA) sehingga State of The Art pada Industri 4.0 memiliki DNA (Device, Network, & Aplication).

Berikutnya, pelibatan UMKM secara massif menjadi strategi yang cukup berguna untuk meningkatkan industry kecil di pelosok-pelosok.. Pelaku UKM/IKM ini juga harus dibekali dengan pelatihan-pelatihan dan sertifikasi agar mereka lebih berkembang.

“Strategi ke 4 yang kami lakukan sejak tahun lalu adalah peningkatan ekspor. Tujuan dari ekspor ini adalah kami ingin meningkatkan kualitas dan service agar memiliki produk dan pelayanan dalam industry baja dengan standar internasional,” terang Stephanus lagi.

Yang terakhir, strategi metode Inovasi CPM yaitu Channel, product, marketing. Channel adalah cara distribusi dari pabrik hingga ke tangan pelanggan yang mengadopsi digital channel dan juga pelibatan UKM. Inovasi Product yang tak pernah berhenti, kemudian marketing yang dapat menyentuh langsung ke pelanggan.

“Marketing ini tentang bagaimana cara memasarkan dan menyentuh ke pelanggannya langsung. Jadi pandemic ini sedikit membawa inovasi bahwa dengan pandemic kami melakukan live streaming, live selling yang saat ini umumnya sudah banyak kita lihat di luar negeri,” ujar Stephanus lagi.

Value chain dari PT Tatalogam Lestari yaitu Tatalogam Group mulai dari bahan baku pelapisan, kemudian di forming dan juga didistribusikan hingga sampai ke produk akhir yaitu Domuus  menjadi rumah.  “Yang terakhir tentang distribution channel kami, ini distribution channel adalah untuk meminimalisir time to market. Tentu ini kami sudah melakukan pencatatan dengan sumber daya material konstruksi melalui SIMPK (Sistem Informasi Material),” jelasnya.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)