Strategi Penggajian Kirana Megatara: Tidak Panik Meski Bisnis Karet Tengah Lesu | SWA.co.id

Strategi Penggajian Kirana Megatara: Tidak Panik Meski Bisnis Karet Tengah Lesu

Industri karet di Tanah Air sedang sangat lesu. Harga karet yang sangat ditentukan oleh harga komoditas internasional terus menurun drastis. Harga karet terjerembab di level US$ 1,3 per kg, padahal zaman jayanya dulu sempat mencapai US$ 5 per kg. Dalam setahun terakhir harganya masih stagnan di level US$ 1,3 per kg. Sangat rendah. Wajarlah, hampir semua industri pengolahan karet di Indonesia teriak kesulitan karena margin yang tertekan hebat.

Imbasnya para petani juga malas menyadap karet, karena uang yang didapat tidak cukup digunakan untuk biaya keseharian mereka. Banyak petani karet yang kemudian beralih profesi, atau kalau biasanya petani karet melakukan pemupukan, kini mereka enggan melakukannya. Otomatis PT Kirana Megatara sebagai perusahaan pengolah karet yang membeli karet dari petani posisinya terjepit. Dari sisi harga, Kirana tidak bisa menata harga dunia, di lain sisi pasokan dari petani makin sulit.

Murti Widianingsih, General Manager HR & General Affair PT Kirana Megantara

Murti Widianingsih, General Manager HR & General Affair PT Kirana Megantara

Bila banyak perusahaan karet lain kemudian memilih untuk mengurangi gaji karyawan atau bahkan mem-PHK-kan sebagian besar karyawan, Kirana tak menempuh jalur itu. Dari sisi bisnis manajemen Kirana berusaha terus melakukan perbaikan, efisiensi, serta  terobosan agar ongkos produksi bisa lebih kecil dan bisa tetap mendapatkan margin keuntungan. Kemudian, dari sisi SDM, strategi yang dibuat tidak panik.

“Meskipun kondisi menurun seperti ini, kami tetap menyiapkan dan mengelola SDM untuk jangka panjang. Kami tidak reaktif, tapi proaktif,” kata Murti Widianingsih, GM HR & GA PT Kirana Megatara. Murti menjelaskan, tim manajemen sudah mengumpulkan semua karyawan, bahwa meski kondisi sulit, yang dipesankan bukan bagaimana melakukan cost cutting, tetapi bagaimana optimizing benefit for every cost we spend. Bisnis dan operasional jalan terus, biaya tidak bisa dikurangi begitu saja. “Manajemen mengajak semua tim berpikir kreatif, mulai dari level GM ke atas. Mari melakukan bisnis tidak as usual,” katanya.

Di bagian SDM, pihaknya tidak memotong biaya pengembangan SDM. “Tapi kami mencari in creative way, yang efeknya boosting performance secara langsung, boosting productivity. Jadi cari cara-cara yang efeknya langsung ke bisnis,” kata Murti. Hingga sekarang tidak ada benefit karyawan di Kirana yang dihilangkan. Justru pihaknya tak ingin membuat kebijakan SDM yang mendemotivasi dan menimbulkan sinyal negatif terhadap para talenta.

Tak heran, kini di 15 pabrik yang dimiliki Kirana, menurut Murti, motivasi kerja tidak terlihat menurun. Semangat kerja tetap terjaga dan turnover karyawan tidak signifikan. “Tertinggi turnover karyawan kami hanya 1%. Itu sudah tinggi. Sebelumnya tidak pernah mencapai 1%. Di pabrik turnover-nya mencapai 0,5-0,8%,” ujar Murti. Yang tingkat turnover-nya tinggi di kantor pusat, rata-rata 1,8%. Hanya saja, Murti menyampaikan, menurut riset, dibanding pemain lain, perusahaannya termasuk yang terendah angka turnover-nya. Ia membandingkan dengan consumer goods yang rata-rata 6%-7%, serta industri bank dan asuransi yang bisa 10%.

Pihaknya tak takut kehilangan talenta karena sejak 2012 sudah melakukan rekrutmen besar-besaran dalam rangka memperbesar kapasitas. Tak heran, sebelumnya sempat memiliki 5.800 karyawan (sekarang 5.100 karyawan). Hingga saat ini pihaknya terus mengembangkan pemimpin baru di perusahaan dan menjaga mereka. Murti menjelaskan, saat ini manajemen di sejumlah pabrik Kirana masih transformasional, karena sebelumnya dimiliki pihak lain yang kemudian diakuisisi Kirana.

Soal kompensasi dan benefit ke karyawan, “Kami mengkaji terus. Semua kami berikan sesuai kemampuan perusahaan. Tapi dalam kondisi sulit ini, kami tidak mengurangi benefit mereka. Jangan sampai langkah itu menurunkan motivasi kerja karyawan,” ujar Murti. Untuk  itu, pihaknya selalu berusaha menerapkan prinsip The Best We Can Do. “Artinya kami sudah melakukan yang terbaik yang bisa kami berikan dan lakukan ke karyawan. Kami juga tidak melupakan internal fairness selain external competitiveness. Semua kompensasi berdasarkan performa,” ia menjelaskan. Pihaknya berusaha memberikan nilai lebih dari sisi suasana di Kirana yang nyaman buat bekerja.

 

Sudarmadi/Herning Banirestu

 

 

Editor : Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Festival Big Data Hadir Kedua Kalinya

Mediatrac kembali mengadakan festival big data untuk kedua kalinya. Festival yang diadakan selama 5 hari ini memiliki beberapa rangkaian acara...

Close