Strategi Praktisi Humas Hadapi Generasi Millenial

(ki-ka) GM Corporate Affairs PT Nusantara Infrastructure Tbk, Deden Rochmawaty; Praktisi PR Junita Kartikasari; Akademisi PR Universitas Tarumanagara Yugih Setyanto; Dekan Fak Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, Riris Loisa.

Strategi kehumasan atau public relations (PR) korporasi saat ini harus mengikuti pola konsumsi media kaum millenial. Semakin intensif penggunaan media sosial dan digital telah mengubah kerja praktisi PR.

“Kalau dulu kami hanya monolog, satu komunikasi, sekarang tidak bisa lagi, harus greater dialogue. Kami berkomunikasi lewat chatting dan pesan instan,” kata General Manager Corporate Affairs PT Nusantara Infrastructure Tbk, Deden Rochmawaty, dalam Seminar Nasional Komunikasi dan Entrepreneurship: “Transformasi Paradigma Public Relations di Era Digital” di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Tarumanagara, Jakarta, (29/11/2012).

Deden mengungkapkan, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan infrastruktur di Indonesia, khalayak PR yang berkaitan langsung dengan perseroan cenderung menggunakan media konvensional. Namun, komunikasi interaktif di ranah dunia maya juga diprioritaskan. “Bagi para influencer infrastruktur usia tertentu kami menggunakan media konvensional, tetapi informasi yang harus kami luncurkan dalam hitungan detik, kami memanfaatkan media sosial,” dia menguraikan.

Praktisi PR, Junita Kartikasari, menekankan empat hal yang harus diikuti praktisi PR di era digital. Pertama, social engagement dengan menjadikan sebuah topik menjadi pembicaraan di dunia maya (trending topic). Kedua, menghasilkan pengguna baru. Ketiga, mencapai target pasar. Keempat, menciptakan pembelian/penggunaan. “Lakukan sesuatu yang berbeda, bukan hanya menciptakan pelanggan. Dulu tugas PR hanya ngomong, sekarang tugasnya adalah mendengar, what happen around you, then you speak,” kata Junita yang juga penulis buku Viral dan PR Profesional ini.

Junita menuturkan pengalamannya saat menjadi PR merek shampoo asal Amerika Serikat. Setelah melalukan riset dan diskusi dengan tim penjualan, shampo difokuskan pada pelanggan pria terlebih dahulu. Model bisnis diubah dengan fokus pada gaya hidup konsumen pria Indonesia yang sebagian besar menyukai sepak bola. PR membuat program nonton bareng (nobar) gratis pertandingan sepak bola di salah satu stadion sepak bola di Jakarta dengan syarat pembelian produk shampo. “Kami bisa menggelar nobar dengan 20.000 penonton, selama nobar pengunjung aktif mengunggah status di media sosial, market share kami pun meningkat”, katanya.

Media sosial juga digunakan untuk mengaktifkan keterlibatan pelanggan. “Kalau kamu cinta sama bola, kamu vote mereka di Facebook merek shampoo kami, yang paling banyak vote, kami datangkan pelatihnya,” kata Junita.

Dosen PR yang juga Humas Universitas Tarumanagara, Yugih Setyanto, mengatakan, meski media sosial menjadi ranah baru PR, media konvensional tidak perlu sepenuhnya ditinggalkan. Pasalnya, sejumlah media cetak dan media televisi masih kerap diakses oleh pemangku kepentingan dan mitra kerja PR lainnya.

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)