Strategi Sophos Memerangi Blended Cyberattacks yang Baru

Sophos, perusahaan keamanan jaringan dan endpoint global yang berbasis di Inggris, mengumumkan Intercept X for Server dengan Endpoint Detection and Response (EDR).

Dengan menambahkan EDR pada Intercept X for Server, manajer Teknologi Informasi (TI) dapat menyelidiki serangan-serangan siber terhadap server, target yang dicari karena berharganya nilai data yang disimpan di server.

Penjahat siber secara berkala mengembangkan metode mereka dan kini menggabungkan kemampuan otomasi dengan peretasan agar berhasil menjalankan serangan kepada server-server. Serangan rumit jenis baru yang mengabungkan penggunaan bot untuk mengidentifikasi calon korban dengan active adversaries sehingga dapat menentukan siapa yang akan diserang dan cara menyerangnya.

Worms Deliver Cryptomining Malware to Web Servers, dalam artikel SophosLabs Uncut menegaskan bagaimana mudahnya para penjahat siber untuk memanfaatkan bot untuk menemukan sasaran yang lemah. Laporan tersebut menjelaskan bahwa serangan otomatis yang mampu mengirimkan bermacam kode berbahaya ke server-server.

Bagaimana anatomi dari Blended Cyberattack? Saat bot mengidentifikasi sasaran yang potensial, para penjahat siber menggunakan kecerdasan mereka memilih korban berdasarkan lingkup data sensitif atau kekayaan intelektual yang dimiliki sebuah lembaga, kemampuan untuk membayar tebusan, atau akses ke server-server dan jaringan lain.

Langkah terakhir adalah logis dan manual: masuk ke dalam sistem, menghindari deteksi dan bergerak lateral untuk menyelesaikan misi. Tujuannya adalah menyelinap masuk diam-diam untuk mencuri data penting lalu keluar tanpa diketahui, melumpuhkan cadangan data dan mengenkripsi server-server untuk meminta tebusan dalam jumlah besar, atau menggunakan server sebagai landasan untuk menyerang perusahaan-perusahaan lain.

“Blended cyberattacks, yang tadinya hanya bagian kecil dari nation state attackers, kini menjadi praktek yang umum di kalangan penjahat siber karena serangan ini menguntungkan. Perbedaannya adalah para nation state attackers cenderung bertahan di dalam jaringan cukup lama sementara penjahat siber biasa mengejar kesempatan mendapatkan uang dengan cepat,” jelas Dan Schiappa, Chief Product Officer Sophos.

Kebanyakan malware saat ini bekerja secara otomatis sehingga mudah bagi para penyerang untuk menemukan sebuah lembaga yang postur keamanannya lemah, menilai potensi pembayaran mereka, dan teknik-teknik peretasan menggunakan teknik peretasan hand-to-keyboard untuk membuat kerugian sebanyak mungkin.

Dengan Intercept X for Server with EDR dari Sophos, manajer TI pada perusahaan berbagai ukuran, kini memiliki pandangan terhadap semua server yang mereka miliki dari sisi keamanan. Hal ini memungkinkan mereka untuk mendeteksi serangan tersembunyi secara proaktif, memahami lebih baik dampak insiden keamanan dan dengan cepat membayangkan serangan secara lengkap.

Saat ancaman masuk ke dalam jaringan, mereka langsung menuju ke server. Sayangnya, ciri khas dari server membuat banyak lembaga enggan melakukan perubahan yang seringkali menunda patch deployment. Para penjahat siber mengandalkan kesempatan ini. Jika lembaga-lembaga menjadi korban sebuah serangan, mereka perlu tahu keseluruhan konteks perangkat dan server mana yang terkena serangan agar lembaga dapat meningkatkan keamanannya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berdasarkan peraturan yang lebih ketat.

Mengetahui informasi ini dengan tepat pertama dapat membantu bisnis untuk menyelesaikan masalah-masalah dengan lebih cepat dan mencegah terulang kembali pencurian data. Jika para regulator mengandalkan forensik digital sebagai bukti kehilangan data, maka bisnis dapat mengandalkan forensik yang sama untuk menunjukkan data mereka tidak dicuri. Sophos Intercept X for Server with EDR memberikan pemahaman dan intelijen keamanan yang diperlukan.

Sophos Intercept X for Server with EDR memperluas penawaran EDR dari Sophos yang pertama kali diumumkan bagi endpoints di Oktober 2018. Sophos EDR didukung oleh teknologi pembelajaran mendalam (deep learning) untuk mendeteksi malware. Deep learning neural network diajarkan ke ratusan ribu sampel untuk mencari atribut mencurigakan dari kode berbahaya untuk mendeteksi ancaman yang belum pernah ada. “Penelitian kami menunjukkan bahwa perhatian akan kurangnya keamanan dan kemampuan sudah menjadi perhatian manajer IT dan keamanan di banyak lembaga," jelas Fernando Montenegro, Senior Industry Analyst di 451 Research.

“Pelanggan kami menggunakan Intercept X with EDR dari Sophos untuk endpoint mereka dan masukan yang kami terima adalah EDR dari Sophos mudah diimplementasikan, mudah digunakan dan mudah dikelola. Hal ini mengurangi tingkat kemampuan yang dibutuhkan untuk mengelola EDR dan membuat pelanggan kami lebih efektif melindungi server, yang merupakan faktor penting mengingat tingginya tingkat serangan di sini,” ujar Sam Heard, presiden dari Data Integrity Services, mitra Sophos di Lakeland, Fla.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)