SukkhaCitta Ingatkan Keberlanjutan Lewat Pameran Kapas

Kita tidak bisa mengurangi krisis iklim tanpa memperbaiki industri sandang. Tanpa kita sadari, bagaimana pakaian kita dibuat adalah salah satu penyebab utama pencemaran air bersih, eksploitasi perempuan, dan pemanasan global.

Laporan McKinsey tahun 2020 mengungkapkan, dengan perkiraan terendah, industri fesyen menyumbang lebih banyak jejak karbon (Green House Gas emission/GHG) dibanding negara Jerman, Perancis dan Inggris digabung. Kemudian <60% berasal dari tahap materialnya, tahap awal yang bahkan tidak diketahui asalnya oleh 89% brand fesyen.

Untuk memastikan kita tidak mencapai kenaikan suhu 1.5C di tahun 2030, penting untuk kita mengurangi separuh dari emisi ini. Akan tetapi, dengan perkembangan yang begitu cepat, emisi yang dihasilkan justru diprediksi akan meningkat sebanyak 50% dalam 8 tahun ke depan.

Sebagai usaha sosial yang bermisi memberdayakan ibu-ibu di desa sambil merawat alam, SukkhaCitta hadir dengan misi membangun dunia yang lebih inklusif dengan merubah bagaimana pakaian kita ditanam, dibuat, dan dipakai.

Founder and CEO of SukkhaCitta, Denica Riadini-Flesch mengatakan, berawal dari tahun 2016, pihaknya telah memberikan dampak pada lebih dari 1.482 ibu di seluruh Indonesia. Dengan akses pasar yang adil, SukkhaCitta telah meningkatkan penghasilan dari pengrajin dan petani kecil binaan sebesar 60%.

Adapun pelatihan pewarnaan alam dan daur ulang yang dilakukan telah mencegah +1,2 juta liter air limbah beracun. Hingga saat ini, kata dia, SukkhaCitta telah meregenerasi 20 hektar tanah gersang melalui program penghijauan dan penanaman hutan serta pertanian regeneratif.

Untuk menelusuri asal dari pakaian yang kita pakai, SukkhaCitta mengadakan pameran KAPAS: Healing Mother Earth, Healing Ourselves yang telah berlangsung sejak 15 April hingga 15 Mei 2022 di Ashta District Jakarta. Melalui pameran ini, SukkhaCitta ingin berbagi kearifan lokal nenek moyang kita yang telah merawat Ibu Pertiwi lintas generasi. Mengembalikan hubungan timbal balik antara kita dan tanah, dari para perempuan yang merupakan tameng pertama dari perubahan iklim.

“Pameran ini menceritakan perjalanan petani dalam menanam kapas di Indonesia dengan metode tumpang sari. Metode ini menjadi kearifan lokal nenek moyang yang merawat Ibu Pertiwi dan menganyam ekonomi hijau,” kata Denica pada acara konferensi pers virtual, Jumat (22/04/2022).

Lebih lanjut ia menjelaskan, tumpang sari secara alami menyeimbangkan siklus karbon antara tanah dan atmosfir. Dengan menanam berbagai jenis tanaman, menggunakan pupuk kompos dan menghindari menggali tanah yang dalam, mereka mengembalikan kemampuan tanah menyerap air dan menyimpan karbon.

Petani kecil Indonesia telah mempraktikan pertanian regeneratif atau tumpang sari selama beberapa generasi– sebelum perusahaan kimia meyakinkan mereka untuk melakukan yang sebaliknya. Bersama dengan Sukkha Citta, saat ini mereka kembali menelusuri jejak nenek moyang mereka – dari agroforestry tradisional hingga rempah-rempah digunakan sebagai pestisida alam. "Dari kebun ke karya (farm to closet), kita akan mengeksplorasi proses dan dampak dari apa yang kita pakai," ujar Denica.

Melalui pameran ini, SukkhaCitta juga ingin mengingatkan masyarakat mengenai keberlanjutan atau sustainability bahwa pakaian yang kita kenakan berasal dari tanah dan harus dapat kembali ke tanah setelah tidak digunakan.

"Itu adalah proses yang sangat panjang. Dalam pameran ini, akan terlihat prosesnya mulai dari farm, saat bijinya ditanam di tanah sampai menjadi pohon kapas. Kemudian kapasnya diproses menjadi benang dan ditenun hingga menjadi pakaian. Terlihat pula apa yang akan terjadi setelah baju tidak dipakai lagi," jelas Co-Founder and Chief of Sustainability Officer SukkhaCitta Bertram Flesch.

Menurut Bertram, jika pakaian dibuat secara tradisional dan alami seperti menggunakan kapas yang berasal dari pohon, maka bisa kembali lagi ke tanah dan menjadi makanan untuk kehidupan selanjutnya. Berbeda dengan pakaian yang terbuat dari poliester atau bahan lain yang melalui proses kimiawi, Bertram mengatakan pakaian dengan bahan tersebut akan sangat sulit terurai di alam.

"Kita sering lupa bahwa pakaian sekarang banyak yang menggunakan poliester yang sebenarnya plastik. Plastik bisa saja kita kembalikan ke tanah, tapi tanah tidak bisa menerima. Untuk itu, kita ingin mengingatkan kembali bahwa ada jalan yang sangat panjang untuk sebuah pakaian dan selalu ada dampak dari apa yang kita pilih, baik itu dampak untuk lingkungan ataupun untuk orang-orang di sekitar," tuturnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)