Sukses ANTV Berkat Pandai Membaca Preferensi Audiens

Vice President Director PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV), Otis Hahijary.

Perlambatan ekonomi yang terjadi di kawasan Asia Pasifik serta merta juga mempengaruhi pertumbuhan industri media di kawasan tersebut. Terjadi penurunan 2,7%, namun justru dalam kondisi tersebut ANTV berhasil mengalami pertumbuhan dua digit.

Media Partners Asia (MPA) memproyeksikan tahun 2018 industri televisi Indonesia mengalami peningkatan di tengah pertumbuhan digital. Menurut Vice President Director PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV), Otis Hahijary, di industri televisi dikenal advertising expenditure (ad-ex), yaitu konsumsi iklan terhadap income per kapita. “Dibandingkan Australia, Hong Kong, Selandia Baru, dan Jepang, Indonesia masih sangat kecil. Orang masih belum sadar untuk beriklan,” ujarnya.

Kondisi ini membuat kesempatan untuk improvement masih sangat besar. Keberadaan fenomena media dgital yang menggeliat saat ini, menurut Otis sebagai complementary free to air. “Saya melihat sebagai “teman,” bukan disrupsi. Dari tahun 2008 hingga 2016, menurut data AC Nielsen, popularitas internet Indonesia memang naik. Namun penetrasi televisi masih paling tinggi,” ungkapnya. Keberadaan digitalisasi malah dirasa dapat membantu industri televisi.

Baginya, digital adalah peluang baru dan grup ANTV telah siap masuk ke era tersebut. Studi banding telah dilakukan ANTV ke Italia, Australia dan BBC Inggris untuk mempelajari transformasi televisi analog ke digital yang telah mereka lakukan. Melihat bisnis pertelevisian di tahun 2018, ia cukup optimis untuk tumbuh, meskipun satu digit. Di industri televisi, Indonesia masih berada di early stage, sehingga ruang berkembangnya masih sangat besar.

Tahun 2018, ANTV akan tetap fokus pada konten hiburan. Dengan filosofi prime time di ANTV yang setiap jamnya dalam sehari yang ditujukan bagi target penonton masing-masing. “Oleh karena itu, kami membagi dengan beberapa sub-day part, dengan konsentrasinya pada pemirsa wanita. Karena itu, hasilnya all day part kami bisa nomor satu,” jelasnya. Dalam sebuah bisnis, pria ini percaya kunci sukses dalam mengelola sebuah bisnis adalah memahami pelanggan (penonton).

Pada 2018 juga serial India akan menjadi pilihan kembali. Ia percaya ada daur hidup dalam setiap program. Program tayangan asal Turki, animasi asal Eropa Timur & Pakistan juga akan menghiasi ANTV. Otis berusaha membawa program yang belum dilirik pemain lain ke Indonesia, seperti serial kartu Marsha & the Bear. “Kami selalu mengambil flanking attack strategy, mengambil genre yang belum digarap orang lain,” ujar Otis.

Targetnya untuk menjadi nomor satu kembali di 2018 senantiasa diwujudkan ANTV. Kreativitas bagaimana membaca preferensi aundiens menjadi startegi yang dijalankan. Pria lulusan Lancaster University ini terus menantang timnya agar terus membaca perubahan-perubahan yang ada dengan coaching setiap hari.

Reportase: Herning Banirestu
www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)