Survei SAP: 40% Pemimpin Bisnis Sedang Wait and See

Andreas Diantoro, Managing Director SAP Indonesia.

Survei SAP mengungkapkan bahwa 40% dari 4.500 pemimpin bisnis di Asia Tenggara masih mengadopsi pendekatan wait and see dalam menanggapi pandemi. Dalam konteks yang lebih luas, hal ini dinilai akan membantu negara-negara di Asia Tenggara mempertahankan statusnya sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia yang mendukung konsumen dan bisnis.

“Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan ekonomi dunia mengalami periode reset untuk rebound. Waktu untuk bersaing sudah dimulai kembali, dan negara-negara yang bergerak cepat sekarang ini akan menjadi yang terdepan, sementara yang lain tertinggal,” kata Rachel Barger, President & Managing Director SAP South East Asia.

Bagi negara dan perusahaan yang cepat puas dengan tindakan wait and see, kata dia, mereka akan tertinggal dan bahkan menjadi tidak relevan. Sebab ketika bisnis mengkalibrasi ulang strategi jangka panjang, sangat penting untuk menjadi realistis dan tidak banyak berharap.

Dalam survei juga terungkap bahwa era digital berkembang menjadi era "cerdas" dimana bisnis menghadapi tantangan baru di tengah gangguan digital dan aturan main yang baru. Perusahaan-perusahaan yang menang adalah mereka yang bertransformasi melalui inovasi, terlebih lagi di era disrupsi digital saat ini diperparah oleh pandemi Covid-19.

Menurut Rachel, dalam realitas baru tersebut, intelligent enterprise mampu untuk do more with less, memberikan customer experience yang terbaik, membangun rantai pasok yang tangguh, sambil menciptakan model bisnis dan sumber pendapatan yang baru.

"Saat ini, bisnis berada dalam masa transisi menuju the new normal, dimana perkantoran dan pabrik serta akses ke tempat-tempat publik mulai dibuka secara bertahap. Untuk dapat bertahan dan beradaptasi di masa-masa krisis seperti sekarang ini, teknologi memiliki peranan penting bagi perusahaan-perusahaan," jelasnya.

Andreas Diantoro, Managing Director SAP Indonesia menyarankan, agar pemimpin juga disadarkan betapa pentingnya resiliensi bagi bisnis untuk bisa bertahan. "Dapat kita lihat, di saat disrupsi terjadi akibat Covid-19, perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan digital platform dan resource planning, mampu bertahan dan mampu melakukan penyesuaian pada bisnisnya dengan lebih baik," ungkap dia.

Survei juga melihat bahwa mayoritas pemimpin bisnis regional (63%) telah melihat perubahan dalam perilaku dan motivasi pembelian pelanggan sejak awal 2020. Meskipun 21% bisnis tidak yakin atau tidak memiliki cukup wawasan tentang perubahan kebutuhan para pelanggannya.

Di tengah-tengah perubahan ini, organisasi-organisasi masih bergerak secara konservatif terkait transformasi digital mereka, dengan mengadopsi sikap protektif dengan pandangan bahwa gangguan dari Covid-19 akan berlalu pada waktunya.

Walaupun bisnis telah mengubah operasional mereka menuju ke arah e-commerce dan penjualan secara online, bisnis yang berskala lebih kecil masih khawatir dengan biaya implementasi platform digital dan operasional untuk memenuhi permintaan yang mendadak.

Sekitar 20% bisnis memperkirakan kebutuhan untuk menyesuaikan strategi customer experience mereka untuk memenuhi harapan dan juga kebutuhan pelanggan yang berkembang di seluruh platform.

Rantai pasok dan operasi juga merupakan aspek lain yang diperhatikan oleh bisnis, dengan 22% bisnis berharap adanya perubahan signifikan di masa depan. Bersamaan dengan perubahan pola konsumsi pelanggan, rantai pasok juga telah berubah ke pola ‘stop-go’ agar sejalan dengan protokol kesehatan.

"Ketika bisnis sudah memahami realitas ekonomi yang baru di era post Covid-19, kekhawatiran dan ketidakpastian akan prospek pertumbuhan dan kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang telah menjadi perhatian utama mereka," katanya.

Lebih dari 80% pemimpin bisnis regional yang disurvei juga berharap ada dampak signifikan/masif untuk mengubah model atau operasional bisnis mereka, dengan hanya 1% mengharapkan business-as-usual dalam jangka panjang.

Dengan business-as-usual tidak lagi menjadi opsi, pemimpin bisnis regional menyesuaikan prioritas organisasi dengan berfokus pada transformasi bisnis (21%), meningkatkan keterlibatan pelanggan (15%), membuat proses bisnis menjadi lebih efisien (14%), memastikan kelangsungan bisnis (12%), dan ketahanan dan redefinisi rantai pasok (9%).

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)