SWA 100 & Indonesia Trillionaire Club: Strategi Perusahaan-perusahaan Publik Tingkatkan Shareholders Value

Perusahaan-perusahaan publik yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga agar nilai perusahaan tidak menurun. Tujuannya, agar investor atau para pemegang saham (shareholders) puas dengan mendapatkan capital gain, return dan dividen yang signifikan jumlahnya.

Namun, badai pandemi Covid-19 yang sudah 18 bulan memporak-porandakan kondisi kesehatan dan perekonomian bangsa Indonesia, juga memukul kinerja bisnis  emiten-emiten yang sahamnya tercatat di BEI. Mayoritas emiten terengah-engah menghadapi pandemi ini, meski ada pula yang berhasil menorehkan kinerja jempolan.

“Berdasarkan peringkat SWA100 tahun 2021, ternyata hanya 13 dari 100 perusahaan tersebut yang menghasilkan Wealth Added Index  (WAI) positif. Artinya, hanya 13% perusahaan dalam SWA100 2021 yang mampu menciptakan kekayaan bagi para pemegang sahamnya,” ungkap Kemal Effendi Gani, Group Chief Editor SWA dalam keterangan tertulis (14/10/2021).

Kendati demikian, masih ada sejumlah  emiten yang menghasilkan shareholders value tinggi kepada para investor. Bahkan, di kelompok perusahaan lapis kedua BEI, capital gain sahamnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan persen dalam setahun.

Peluang untuk menambah kekayaan dengan berinvestasi di luar 100 perusahaan berkapitalisasi besar sangatlah terbuka.  Tahun 2020 saja, banyak saham yang kenaikan harganya lebih dari 100%.  Sebut saja saham Bank BRI Syariah (yang sekarang dimerger dengan Bank Syariah Mandiri dan Bank BNI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia), harga sahamnya naik 581,82% (dari Rp 330 menjadi Rp 2.250), saham Bank Rakyat Indonesia Agroniaga melonjak 422,73%, saham Pyridam Farma naik 392,42%, dan saham Kimia Farma meningkat 240%.

Bahkan, perusahaan yang melakukan IPO (initial public offering) di Semester I/2021, ada yang harga sahamnya naik hingga ribuan persen hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan. Sebut saja, PT DCI Indonesia yang melantai di BEI pada 6 Januari 2021, harga sahamnya melejit 13.947%, dari harga perdana Rp 420 naik menjadi Rp 59.000 pada akhir Juni 2021. Adapun PT Bank Aladyn Syariah (IPO pada 1 Februari 2021), harga sahamnya naik 3.016%, dan PT Damai Sejahtera Abadi harga sahamnya meningkat 1.078%.

Adapun 10 saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI berdasarkan SWA100 2021 adalah saham Bank Central Asia Tbk, Bank Rakyat Indonesia Tbk.- Persero (kini menjadi Bank Suaroah Indonesia),  Telkom Indonesia (Persero) Tbk., Bank Mandiri (Persero) Tbk., Unilever Indonesia Tbk., Astra International Tbk.,    H.M. Sampoerna Tbk., Chandra Asri Petrochemical Tbk., Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dn Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Martin Schwarz, Direktur Eksekutif Stern Value Management, menerangkan, saham perbankan menjadi penangkal penurunan nilai kekayaan yang lebih dalam. “Untungnya, sektor perbankan tidak terdampak. Sektor ini bahkan dipandang sebagai safe harbor dari dampak wabah virus Covid-19. Ini sekaligus menjadi peluang untuk berinvestasi di institusi keuangan. Bahkan ke depan, sektor ini akan membantu meretas jalan pertumbuhan,” kata Martin.

Bagaimana strategi perusahaan-perusahan publik meningkatkan shareholders value? Apa saja terobosan-terobosan inovatif di tengah pandemi Covid-19 untuk menjaga pertumbuhan kinerja perusahaan? Bagaimana caranya menjadi investor yang cerdas? Pertanyaan-pertanyaan yang membuat penasaran itu terjawab dalam diskusi menarik di acara Webinar & Awarding SWA 100 & Indonesia Trillionaire Club:  Winning Strategy to Boost Shareholder Value and How to Become Smart Investor.

Acara penting yang digelar oleh SWA dan Swanetwork pada Kamis (14/10/2021) ini menghadirkan empat pembiacara hebat di bidangnya masing-masing. Keynote speaker dengan tema ‘New Trends in Managing Performance and Becoming Wealth Creators’ disampaikan oleh Erik Stern selaku  Lead Executive Director Stern Value Management.

Sementara itu, Sharing Session from the Best Ones dengan tiga pembicara:  Anton Sukarna - Sales and Distribution Director PT Bank Syariah Indonesia Tbk,  Panji Winanteya Ruky - Direktur Transformasi Bisnis PT Pupuk Indonesia (Persero) dan Ryan Filbert - Whitelist Imlemented Information Security Management Services PT Industri Paman Ryan

Baskoro Santoso, Investor Relations Mayora Indah, mengungkapkan, di tengah tekanan sentimen negatif terhadap pasar modal sebagai dampak pandemi Covid-19, Mayora optimistis harga sahamnya yang berkode MYOR dalam jangka panjang akan mengikuti kinerja perseroan.  Untuk itu, yang dilakukan perseroan adalah memaparkan informasi sebenar-benarnya kepada pemegang saham, baik pribadi maupun institusi, baik minority maupun majority, mengenai kinerja perseroan, tantangan apa yang dihadapi dan bagaimana strategi perseroan dalam menghadapi ini semua, corporate governence, serta rencana jangka panjang perseroan. “Selama pandemi, kinerja Mayora tidak terlalu terdampak signifikan. Hal ini karena Mayora bergerak di industri food and beverage yang merupakan sektor pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat,” ucapnya.

Untuk PT Bank Syariah Indonesia Tbk (kode saham BRIS) yang memiliki nilai aset  sekitar Rp 234,4 triliun,  pada Kuartal I/2021 dan mencetak kinerja cemerlang dengan net profit sekitar Rp 741,6 milar. Pada 1 Juli 2021 harga saham BRIS ditutup Rp2.280 (nilai PBV sekitar 4,1). Jika dibandingkan dengan jumlah aset, besarnya net profit dengan PBV saham bank umumnya, maka harga saham BRIS masih tergolong  murah. Misalnya di akhir tahun 2021 harga saham BRIS mencapai sekitar setengah saja dari nilai Price Book Value/PBV saham bank lain, maka harga saham BRIS kemungkinan bisa saja melejit hingga 10.000 (dengan imaginasi nilai PBV 18).

Ke depan, dengan fundamental dan kekuatan yang ada di belakang BSI, tidaklah mustahil, saham BRIS terbang tinggi karena BRIS memiliki aset yang besar, sudah mampu mencetak laba yang besar, dan terus bertumbuh serta berinovasi (salah satunya terus mengembangkan Super Apps BSI Mobile untuk mendukung digitalisasi).Maka tidaklah mustahil, ada kemungkinan harga saham BRIS bisa menyentuh level 10.000 di akhir tahun 2021 atau bahkan di atas itu.

PT Ace Hardware Tbk (ACES) justru makin ekspansif saat pandemi. Emiten ini membuka hingga 10 gerai dan memiliki total 214 saat ini. Aca adalah destinasi untuk rumah dan gaya hidup dengan rangkaian produk terlengkap dan berkualitas. Dilengkapi layanan inovatif yang terintegrasi baik online dan offline, ACE hadir sebagai The Helpful Place yang memahami dan memenuhi kebutuhan terkini pelanggannya di seluruh Indonesia.

Sementara itu,  PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. atau emiten Grup Mayapada( sebagaimana dikatakan Direktur Sejahteraraya Anugrahjaya Charlie Salim, kini perseroan sedang mengerjakan 3 proyek pengembangan rumah sakit. Dengan demikian, pada akhir tahun 2021, perseroan akan memiliki 5 rumah sakit dan 6 rumah sakit pada 2023. Pembangunan yang tengah digenjot yakni pembangunan Mayapada Hospital Surabaya (MHSB), pengembangan gedung baru Mayapada Hospital Tangerang (MHTG), dan pembangunan Mayapada Hospital Bandung (MHBD).

Jonathan Tahir, Group CEO Mayapada Healthcare, mengatakan siap bergandeng tangan dengan pemerintah dan organisasi profesi untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pelayanan kedokteran wisata sebagai destinasi unggulan Wisata Kesehatan Indoensia (Indonesia Health Tourism). Berbagai upaya yang dilakukan oleh para emiten untuk meningkatkan nilai perusahaan juga berpengaruh besar terhadap perekenomian nasional karena peran mereka yang signifikan. Jadi, mereka memang punya tanggung jawab besar untuk menjaga agar nilai perusahaan tidak menurun, yang pada akhirnya membuat para pemegang saham sejahtera.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)