Apresiasi SWA & Stern Value Management untuk 100 Emiten Terbaik

Majalah SWA bersama konsultan manajemen strategi dari Amerika  Serikat, Stern Value Management kembali merilis survei SWA 100 yang memuat deretan 100 perusahaan publik berkinerja jempolan.

Tujuan survei ini agar pemilik dan pengelola perusahaan, investor, analis, manajer invetasi dan masyarakat dapat memperoleh gambaran perkembangan kinerja perusahaan publik, dan seberapa besar perusahaan publik tersebut mampu memberikan manfaat dan keuntungan pada para investor, pemilik dan semua pemangku saham.

Metode pengukuran yang dilakukan melalui pendekatan Wealth Added Index atau WAI, yang dikembangkan oleh Stern Value Management. Kemal Effendi Gani, Chief Editor SWA Group, menjelaskan, dengan menggunakan pendekatan WAI, dapat diketahui kelebihan total return atau kekayaan yang dihasilkan perusahaan publik di atas cost of equity atau return minimal yang diharapkan oleh investor. Adapun perhitungannya kinerja publkc ini dilakukan pada periode tahun 2013 hingga 2017 dengan menggunakan data kinerja fundamental dan harga saham.

“Dengan metode Wealth Added Index, kita dapat mengetahui emiten/perusahaan yang dapat menghasilkan nilai penambahan kekayaan atau return positif, yang bisa diperoleh apabila total return yang dihasilkan emiten/perusahaan untuk pemegang saham (yang biasa disebut total shareholder return) lebih tinggi dibandingkan biaya modal (cost of equity)-nya,” ujarnya dalam sambutan di malam penganugerahan Malam Pemberian Penghargaan “SWA100, Indonesia Best Wealth Creators, Indonesia Best Public Companies, 2018”.

Erik Stern, Presiden Stern Value Management, menilai beberapa tahun terakhir, peringkat emiten di Indonesia tidak banyak berubah. Menurutnya, hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang lesu, akibatnya selama lima tahun terakhir kinerja saham perusahaan-perusahaan besar kurang bagus. “Buktinya dari 100 perusahaan hanya ada 23 perusahaan yang mencatatkan nilai WAI Positif,” ungkapnya.

Namun menariknya di tahun ini, di tengah kondisi ekonomi yang masih stagnan, BRI justru mampu meloncat dari peringkat ke tujuh menjadi peringkat satu dengan catatan WAI yang positif yaitu meningkat dari Rp 34,66 triliun menjadi Rp 183,4 triliun. Haru Koesmahargyo, Direktur Strategi Bisnis dan Keuangan BRI, menjelaskan, pihaknya terus fokus menggarap potensi di usaha mikro, pasalnya saat ini dari 250 juta populasi Indonesia, 40% belum tersentuh oleh perbankan.

Selain itu, pihaknya juga melakukan digitalisasi untuk para mantri dengan adanya layanan aplikasi yang bisa digunakan melalui smartphone, sehingga bisa memudahkan mereka dalam bekerja. “Kami membelikan para mantri di desa itu mobile phone lalu dimasukkan aplikasi dan mereka pergi tidak usah pulang lagi. Jadi mereka foto lalu dikirim ke kantor. Begitu dapat lima, tidak usah pulang. Ini yang kami lakukan digitalisasi. Ini sudah keniscayaan, kalau tidak kita ketinggalan. Tapi mengimplementasikan ke 1.500 tidak mudah juga, tapi kami usahakan perlahan-lahan tahun depan sudah selesai,” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)