Syngenta Dukung Pertanian Berkelanjutan di Indonesia

Erik Fyrwald, CEO Syngenta

Erik Fyrwald, CEO Syngenta, perusahaan agribisnis global, berkunjung ke Indonesia untuk menunjukkan komitmen perusahaan untuk
mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) di Indonesia.

Syngenta telah hadir melayani petani di Indonesia lebih dari 54 tahun. Perusahaan itu ingin terus berkontribusi dalam memajukan pertanian di Indonesia.

“Kami hadir untuk mendukung program-program Pemerintah Indonesia dalam mencapai swasembada dan ketahanan pangan.Kami mendukungnya melalui investasi, penelitian dan pengembangan, teknologi, penyediaan benihdan perlindungan tanaman, serta pelatihan praktik pertanian yang baik,” ujar Erik pada lawatan perdananya ke Indonesia dalam siaran persnya hari ini (16/9/2018).

Kedatangan Erik di Indonesia kali ini untuk berdiskusi dengan berbagai mitra dalam upaya membangun visi bersama untuk masa depan pertanian global yang berkelanjutan. Melalui dialog dan pertemuan-pertemuan, kami bisa mengetahui lebih banyak tantangan-tantangan di sektor pertanian untuk merumuskan secara tepat peranan dan kontribusi yang perlu Syngenta tingkatkan untuk mewujudkan visi pembangunan pertanian masa depan itu.

Dalam kunjungan dua hari di Indonesia, pekan lalu, Erik mendapat kesempatan bertemu dan berdialog dengan para pemangku kepentingan di bidang pertanian seperti para petani, otoritas pertanian,mitra bisnis, peneliti, dan lainnya.

Kunjungan ini juga merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerjanya ke berbagai negara di seluruh dunia selama tiga bulan ke depan, dalam rangka konsultasi dan dialog secara langsung dengan para pemangku kepentingan dari seluruh dunia, sebagai upaya membangun visi bersama untuk masa depan pertanian global.

Walaupun Indonesia menghadapi tantangan di bidang pertanian yang sama dengan negara-negara lainnya, namun dengan lahan pertanian yang subur, populasi yang terus meningkat, serta ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah, Indonesia menyimpan potensi pertanian besar di Asia Tenggara.

Erik juga menjawab pertanyaan-pertanyaan atas perubahan manajemen Syngenta. Seperti telah publik ketahui, sejak tahun lalu, 100 persen saham perusahaan asal Swiss ini, telah dibeli oleh ChemChina.

Dengan perubahan kepemilikan mayoritas saham, Syngenta sekarang sepenuhnya perusahaan swasta. “Kami sekarang menjadi lebih leluasa melakukan inovasi dan investasi. Contohnya dalam satu tahun terakhir ini, kami telah telah melakukan akuisisi empat perusahaan; yakni satu perusahaan benih di Brazil, satu perusahaan hortikultura, dan dua perusahaan digital untuk program digitalisasi pertanian,” jelas dia.

Hal ini menunjukkan bahwa justru setelah adanya perubahan kepemilikan,Syngenta menjadi semakin agresif berinvestasi. Untuk lima tahun ke depan, akan lebih banyak investasi yang akan dilakukan.

Erik yang menjadi CEO Syngenta sejak Juni 2016, menjelaskan, di Indonesia, aktivitas bisnis Syngenta saat ini didukung satu pusat riset dan pengembangan berskala internasional terletak di Cikampek, Jawa Barat; satu pabrik perlindungan tanaman di Bogor, Jawa Barat; dan satu pabrik pengolahan benih di Pasuruan, Jawa Timur, dengan total investasi US$27 juta.

Di pasar pertanian, salah satu produk Syngenta paling populer yakni benih Jagung Hibrida NK Perkasa dan berbagai produk perlindungan tanaman. Hadir di Indonesia sejak 1960-an, salah satu produk terbaru Syngenta yakni herbisida Apiro yang diluncurkan ke pasar April lalu.

Digitalisasi Pertanian dan Holtikultura

Perubahan kepemilikan meningkatkan anggaran tahunan riset Syngenta. Untuk tahun 2018 ini, Syngenta menganggarkan biaya riset hingga US$1,3 miliar secara global, dengan fokus program digitalisasi pertanian.

Menurut Erik, teknologi digital pertanian kini telah mulai berkembang di Amerika Serikat. Dimulai dari traktor yang dilengkapi dengan sistem digital, sehingga bisa mengetahui berapa jumlah tanaman yang harus ditanam pada suatu lahan, kondisi tanahnya seperti apa, berapa pupuk yang akan digunakan, bahkan bisa mengetahui tren preferensi konsumen sehingga petani dapat memproduksi produk-produk pertanian yang disukai pasar. Banyak juga mesin pertanian telah dilengkapi dengan citra foto satelit, sehingga bisa memprediksi iklim, kondisi tanah, cuaca, dengan akurasi dan presisi tinggi. “Kami juga sedang mengembangkan pemanfaatan drone untuk

“Kami juga sedang mengembangkan pemanfaatan drone untuk pertanian. Dengan drone diterbangkan di atas lahan pertanian, kita bisa melihat kondisi tanaman, serangan hama dan penyakit tanaman, kebutuhan nutrisi tanaman, dan lain-lain. Juga e-commerce produk pertanian,” ujar Erik .

Meski Syngenta telah hadir di Indonesia selama puluhan tahun, Erik mengakui masih memiliki sejumlah kendala dalam bisnis Syngenta di Indonesia. Terutama untuk memasarkan produk benih sayuran (hortikultura) seperti tomat, cabe, jagung manis, dan melon.

“Kami juga berbicara dengan para mitra bisnis mengenai kemungkinan dibukanya kembali bisnis benih sayuran di Indonesia. Selama ini kami merasa terhambat dengan adanya batas maksimum investasi asing sebesar 30 persen. Padahal dibutuhkan investasi yang sangat besar untuk kegiatan dan penelitan benih hortikultura. Oleh karena itu, kami berharap Pemerintah Indonesia bisa meninjau kembali undang-undang hortikultura itu,” dia menguraikan.

Sesuai dengan Undang-undang Hortikultura Tahun 2013, perusahaan asing hanya diizinkan menguasai saham maksimal 30 persen dalam bisnis hortkultura. Peraturan inilah yang menurut Syngenta masih membatasi peluang bisnisnya di Indonesia.

Erik mengharapkan adanya deregulasi undang-undang hortikultura. Karena dengan pengalaman research & development Syngenta yang panjang, kualitas benih sayuran yang dijual dijamin akan menguntungkan petani di Indonesia. Dengan benih berkualitas, maka produktifitas akan meningkat. Bahkan, Indonesia berpeluang besar bisa mengekspor produk hortikultura ke mancanegara.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)