Tahun Ajaran 2020/2021 Menuntut Lembaga Pendidikan Mentransformasi Layanan ke Digital

Tahun Ajaran 2020/2021 baru saja dimulai, namun di tengah pandemi yang masih berlangsung akan menuntut banyak perubahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh semua jenjang lembaga pendidikan baik formal maupun informal terkait tata kelola manajemen pendidikan di masa new normal saat ini .

Banyak lembaga pendidikan yang “shock” dan tidak siap menghadapi pandemi yang menuntut adaptasi baru era belajar online. Banyak kasus di mana akibat pembatasan bersosialisasi (social distancing) menyebabkan orang tua/siswa/mahasiswa tidak bisa keluar rumah untuk melakukan pendaftaran murid baru, menunda pembayaran atau bahkan tidak bisa membayar biaya pendidikan dikarenakan banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan hingga berkurangnya pendapatan, bersekolah/belajar juga harus melalui media online (pembelajaran jarak jauh).

Untuk bisa mengikuti kegiatan belajar secara online, banyak orang tua/guru/lembaga pendidikan yang siap mulai dari ketersediaan perangkat yang memadai, akses internet yang terbatas, ketidaksiapan guru dalam menyiapkan media belajar secara digital atau lebih jauh lagi pemahaman mereka bagaimana memanfaatkan teknologi yang bisa mendukung proses belajar jarak jauh tersebut dengan baik.

Belakangan muncul kasus, beberapa lembaga pendidikan mulai berguguran menutup lembaga pendidikannya karena tidak lagi memiliki dana pendidikan yang cukup untuk membiayai operasional lembaganya. Kondisi seperti ini tentu saja sangat menyedihkan bagi kita semua, kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya harus menghantam dunia pendidikan.

Beberapa lembaga pendidikan yang berada di kelas menengah atas yang sebelumnya sudah memiliki sistem online walaupun belum menyentuh semua layanan mereka masih bisa bertahan di tengah pandemi dan untuk lembaga pendidikan di kelas menengah ke bawah jauh lebih berat lagi kondisinya.

Saat ini lembaga pendidikan harus berpikir ulang memperbaiki sistem internal operasional mereka, terutama yang berhubungan dengan sistem pembelajaran siswa dan keuangan karena hal ini jantungnya lembaga pendidikan. Update terakhir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 dimulai pada Juli 2020, tapi bagi lembaga pendidikan yang masih berada di zona merah tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dan harus melakukan pembelajaran dari jarak jauh. Bahkan, ke depan pola ini akan diberlakukan secara permanen menggunakan sistem blended learning (hybrid) dalam proses pembelajaran siswanya.

Pertanyaan besarnya sejauh mana kesiapan ekosistem pendidikan menghadapi ini? Melihat permasalahan yang terjadi pada lembaga pendidikan di atas, produk besutan iGlobal yaitu Pintro sebagai sebuah institusi yang fokusnya sudah lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia pendidikan mulai dari jenjang sekolah, perguruan tinggi hingga lembaga kursus ini pun bertekad untuk membantu lembaga pendidikan.

“Sesuai visi yang dimiliki oleh Pintro yaitu untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik melalui digitalisasi, yang bisa dinikmati oleh semua jenjang lembaga pendidikan” ujar Syarif Hidayat, Pendiri dan CEO Pintro.

Syarif menilai, selama ini kendala untuk langsung bertransformasi digital bukan hal yang bisa dianggap mudah. Selain butuh pemahaman bisnis flow edukasi yang matang, kecepatan dalam proses implementasinya agar bisa cepat bisa dinikmati. Permasalahan biaya apalagi saat pandemi, fokus lembaga pendidikan berubah sebatas penyelamatan cashflow keuangan. Hal ini menjadikan lembaga pendidikan dilema untuk menjalankan transformasi digital antara awareness digital yang naik, tuntutan cashflow, infrastruktur dan team pengembang yang handal.

Berlangsungnya Tahun Ajaran Baru 2020/2021 di tengah pandemi ini pun membuat Pintro ingin memberikan kontribusi yang lebih untuk keberlangsungan dunia pendidikan agar lebih baik dengan memberikan tiga solusi bagi dunia pendidikan yang ingin bertransformasi digital. Pertama, lembaga pendidikan bisa memanfaatkan layanan digital dengan bergabung bersama marketplace system pendidikan digital secara gratis yang bisa diakses secara online melalui web based dan mobile apps.

Kedua, bagi lembaga pendidikan yang ingin memiliki aplikasi sendiri untuk memajukan nama brand-nya, tapi terkendala biaya, saat ini bisa menggunakan paket Pintro Co-brand “Booster”. Paket tersebut dapat dipilih dan proses implementasinya pun hanya dalam hitungan minggu. Untuk dapat menikmati paket Booster, lembaga pendidikan hanya perlu membayar mulai dari Rp5.000.

Ketiga, bagi lembaga pendidikan yang memiliki biaya operasional berlebih dan ingin mentransformasikan semua layanannya fully digital bisa memilih paket Pintro Co-brand “Premium”. Fitur yang dapat dinikmati mulai dari enrollment, online payment, academic, e-learning, e-raport, payroll, budgeting, accounting, finance dan fitur lainnya tersedia dan saling terintegrasi.

“Dengan adanya ketiga solusi Pintro ini bisa membawa percepatan tranformasi digital bagi semua lembaga pendidikan agar kualitas pendidikan di Indonesia bisa tumbuh menjadi lebih baik,” ujar Syarif menegaskan.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)