Tantangan dan Peluang Digitalisasi UMKM

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luar biasa bagi dunia usaha UMKM di Indonesia. Mulai dari pengaruh terhadap omzet, penjualan, produk, hingga penutupan usaha. Tak sedikit para pelaku UMKM kemudian memanfaatkan kanal digital utuk membantu penjualannya.

Mulya Amri, Direktur Riset Katadata Insight Center (KIC), mengungkapkan data yang dirilis oleh KIC bahwa penggunaan internet oleh pelaku UMKM yang paling banyak adalah untuk memasarkan produk (60,2%). Kemudian disusul untuk bermedia sosial, mempromosikan barang/jasa, mencari informasi, memesan bahan baku, memasarkan produk melalui marketplace, mengirim pesan instan ke pelanggan. Kemudian sebanyaka 84% responden menggunakan perangkat smartphone untuk mengaksesnya.

Sementara itu, ia melanjutkan, kendala yang dihadapi para pelaku UMKM dalam memasarkan produk melalui internet adalah konsumen belum mampu menggunakan internet (34%), disusul Kurangnya pengetahuan menjalankan usaha online, tenaga kerja tidak siap, infrastruktur telekomunikasi tidak kayak, dana tidak memadai, dan lain-lain.

Mulya menggarisbawahi sejumlah tantangan untuk menggunakan, antara lain terkait infrastruktur, banyak daerah di pelosok yang belum ada akses internet. Di dareah Jabodetabek ada sekitar 19% pelaku UMKM yang tidak memiliki smartphone. Kemudian terkait Teknik pengoperasian soal kemampuan menggunakan aplikasi, memfoto produk, dan lainnya.

Menurutnya, perlu ada kemampuan peralihan antara cara berjua;an offline ke online. “Banyak UMKM yang belum digital, di mana masalahnya? Memang berjualan di internet tidak serta merta bisa langsung tanpa memiliki kemampuan di tengahnya, bahwa dia harus punya laptop/internet dan kemampuannya,” ujar Mulya di acara #JagaUMKMIndonesia yang diselenggarakan oleh Unilever Indonesia dan Katadata bersama Kemenkop UKM RI.

Terkait tantangan ini, Rofi Uddarojat, Manager Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah IdEA, menambahkan, biasanya ada dua hal dari aspek internal yakni terkait kapasitas diri dan literasi digital. Sementara pad aspek eksternal adalah terkait logistik bahwa logistik di Indonesia masih sangat mahal.

“untuk yang internal, salah satu tipsnya silakan bergabung di marketplace, di situ bisa mendapatkan tips-tips. Terkait masalah logistik, kalau dari e-commerce beberapa solusi untuk ini adalah intra region,” ujarnya di acara yang sama.

Rofi melanjutkan, walau bagaimanapun sudah terbantu oleh digital, tapi kunci sukses tetap berada apda kualitas barang yang dijual, serta kejelasan target pasarnya.

“Kunci sukses terkait digitalisasi adalah kualitas barangnya, Kalau kualitas barangnya sudah mumpuni dan tahu target market-nya pasti akan mendapat pelanggan yang loyal. Kemudian juga mesti masuk komunitas-komunitas, karena ini tempat untuk saling belajar dan men-support satu sama lain,” ujarnya.

Enny Hartati Sampurno, Integrated Operations Director PT Unilever Indonesia, Tbk, pada diskusi yang sama juga mengatakan, bahwa saat ini terjadi shifting yang besar dari offline ke online. Maka dari itu, Unilever sangat merangkul dalam menggunakan digital.

“Melalui Digital bisa berkomunikasi langsung. Inilah mengapa Unilever sangat embrace menggunakan digital,” ujar Enny.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)