Tantangan Leonardo Kamilius Membangun KKI

Semuanya dimulai sejak ia meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan di McKinsey, sebuah perusahaan konsultan manajemen. Sebagai lulusan dengan gelar cumlaude dari Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Leonardo Kamilius (Founder & CEO Koperasi Kasih Indonesia) berhasil bersaing dengan lulusan terbaik lainnya dari berbagai perguruan tinggi yang bekerja di perusahaan asing itu.

Leonardo Kamilius, Founder KKI (Koperasi Kasih Indonesia) Leonardo Kamilius, Founder KKI (Koperasi Kasih Indonesia)

Bahkan karirrnya terbilang melesat, baru setahun bekerja, ia sudah dipromosikan menjadi business analyst. Ia menceritakan, saat itu terjadi gempa di Padang tahun 2006, ia memutuskan untuk membantu di sana. “Saya merasa bahagia saat itu. Mungkin passion saya di sini,” ujarnya sambil tersenyum.

Setelah cuti tanpa dibayar selama 2 minggu, ia kembali bekerja di McKinsey selama setahun, walaupun saat itu mulai terpikir untuk mendirikan NGO (Non Government Organization). Ia sempat tidak berani keluar dari perusahaan sampai akhirnya ia yang dikeluarkan dari perusahaan.

Bukan tanpa halangan ia membangun bisnis sosial ini. Di tahun pertama, KKI mengalami masalah finansial. Tapi setelahnya makin banyak orang yang percaya dan menjadi donator. Kemudian di tahun kedua, ada masalah perekrutan pegawai. Gaji dan bonus yang sudah diatas UMR tidak membuat mereka tertarik untuk bergabung.

"Saya dan rekan saya, Luciana Siregar memulai berdua. Apa yang membuat yakin? Awalnya ibu saya tidak setuju. Saya coba dulu setahun. Jika gagal, saya balik kerja di perusahaan. Keyakinan itu naik turun," katanya. Tantangan lain adalah dari sisi personal. Sempat tidak memiliki gaji, terkadang hanya Rp 50 ribu/hari.

"Awalnya saya melihat Grameen Bank yang fokus ke pemberdayaan perempuan. Ada riset yang pernah saya baca, ketika laki-laki dapat Rp 10 ribu, yang ke anak-anak cuma Rp 3 ribu. Tapi jika perempuan yang dapat Rp 10 ribu, maka Rp 9 ribu untuk keluarga," ungkapnya.

Leonardo melihat intervensi untuk keluarga masuk dari peran seorang perempuan, selain memegang dan mengelola keuangan, mereka juga memberi pendidikan untuk anak-anaknya. Melalui KKI, ia ingin membantu ibu-ibu yang kurang mampu untuk memiliki taraf kehidupan yang lebih sejahtera untuk diri dan keluarganya.

Ia mulai mengenalkan mengenai pentingnya menabung, memberi pelatihan, dll. Tidak mudah mengubah pola pikir anggota. Ia menceritakan pengalamannya ada anggota koperasi yang bermasalah yaitu tidak membayar pinjaman, tidak mengikuti pelatihan, dll. Menurutnya sikap-sikap seperti itu yang membuat ekonomi mereka masih lemah.

Pada mulanya, pemasukan uang berasal dari donasi per individu dengan jumlah sekitar 120 donatur. Tetapi sekarang sudah berasal tabungan ibu-ibu. Untuk dana kelola berjumlah Rp 6,5 miliar, sedangkan aset saat ini Rp 8,5 miliar. "Sekarang sudah lebih dari 14 ribu orang, yang aktif sekitar 8100 orang. Wilayah kami meliputi Jakarta, yaitu di Kecamatan Cilincing, Koja, dan Tanjung Priuk," ujarnya. Kini, beberapa dari anggota koperasi sudah mendapat hasil dari menabung. ada yang berhasil membangun rumah, DP rumah, beli tanah di kampung, dan membiayai kuliah anaknya.

Memasuki tahun ke-6, ia mengatakan KKI masih terus memperbaiki manajemen. "Kekurangan kami adalah ibu-ibu kalau mau setor atau ambil uang harus ke kantor, padahal itu membuang waktu dan biaya. Sistem IT juga belum kuat," tambah pria yang hobi membaca ini.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)