Target MRT Jakarta Bangun Lifestyle Kota Baru hingga 2035

William Sabandar - Direktur Utama

PT MRT Jakarta terus melakukan pembangunan fase dua tahap satu yang meliputi wilayah Bundarah HI hingga Harmoni di tahun ini. Pembangunan tersebut dijadwalkan akan selesai pada bulan Maret 2025.

Berbagai poroyeksi pembangunan juga sudah dijadwalkan perseroan sampai tahun 2035 mendatang. Wilayah pembangunan yang dimaksud meliputi proyeksi pembangunan fase 2A tahap 2 yakni jalur Harmoni sampai Kota yang diharapkan akan selesai pada Agustus 2027, dan dilanjutkan dengan pembangunan fase 2B yang meliputi wilayah Kota sampai dengan kawasan Ancol Barat.

Tidak hanya itu, di wilayah Timur, perusahaan juga memproyeksikan pembangunan jaringan MRT dari wilayah ujung Menteng sampai Kalideres dan proyek pembangunan jalur Fatwati hingga kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di wilayah Selatan. “Ada satu jalur baru yang akan kita bangun melalui skema Public Private Partnership yakni mulai dari Fatmawati hingga TMII,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar dalam Forum Media: Dialog Awal Tahun bersama MRT Jakarta (05/01/2021).

Secara keseluruhan, jumlah total panjang jalur yang akan dibangun adalah sepanjang 235 kilometer yang ditargetkan akan rampung pada 2035 mendatang. Adapun dana yang diperlukan untuk proyek Fatwati hingga TMII adalah sebanyak Rp25 triliun – Rp28 triliun. Sementara, untuk wilayah Kota hingga Ancol sebesar Rp10 triliun, dan untuk wilayah Ujung Menteng hingga Kalideres diproyeksikan akan memakan dana sebanyak Rp50 triliun – 55 triliun.

Dalam pembangunannya, MRT Jakarta akan mengadopsi konsep pembangunan MRT di kawasan Thamrin dan Sudirman. “Kami tidak  hanya membangun transportasi, tetapi juga membangun era dan budaya baru, lifestyle kota yang baru,” kata dia menambahkan.

Nantinya, perusahaan juga akan membangun stasiun ikonik di kawasan Monas dan melakukan revitalisasi stasiun kota dan kawasan kota tua yang bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan dan Pemerintah DKI Jakarta. Sehingga, kawasan tersebut akan menjadi kawasan low emission zone atau kawasan yang ramah pejalan kaki.

Untuk lebih mendukung adanya pembentukan lifestyle atau budaya kota baru, MRT Jakarta juga sedang mempersiapkan pembangunan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD). Ada lima kawasan yang rencananya akan dikembangkan oleh MRT dan anak perusahaan PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ).

Kelima kawasan tersebut adalah LebakBulus, Fatmawati, Blok M-Sisingamangaraja, Istora-Senayan, dan DukuhAtas. Sementara itu, di wilayah utara, Perseroan juga akan mengembangkan wilayah TOD di kawasan Bundaran HI, Glodok, Kota Tua, hingga Ancol Barat. “Pengembangan TOD akan mengikuti pengembangan jalur MRT. Seiring dengan masuknya jalur MRT, kawasan kota juga akan terbangun,” ujarnya.

PT MRT Jakarta juga melakukan transformasi di sektor sistemasi dengan menggandeng PT Transportasi Jakarta,  PT Jakarta Propertindo, dan PT Kereta Api Indonesia. Keempat perusahaan tersebut sepakat untuk mendirikan perusahan patungan yang diberinama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) untuk mengurusi integrasi moda transportasi di Jabodetabek. Sementara, untuk ticketing akan dipegang oleh PT Jak Lingko Indonesia.

“Kami sepakat membentuk perusahaan patungan, sub holding, untuk melakukan pengintegrasian. Jadi, PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) untuk mengoperasikan pengintegrasian seluruh transportasi berbasis rel di jabodetabek.”

Lebih jauh, dia mengatakan bahwa di tahun ini pihaknya juga sedang melakukan proses akusisi saham PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang nantinya akan memunculkan perusahaan join venture untuk mengelola transportasi terintegrasi dari sisi layanan, dan pengembangan TOD di wilayah Tanah Abang, Senen, Juanda, dan Sudirman.

Di sisi ticketing dan sistem pembayaran. PT Jak Lingko Indonesia ditugaskan untuk mengelola pengintegrasian seluruh sistem tiket di wilayah Jabodetabek. Integrasi sistem ini rencananya akan dimulai pada kuartal III tahun 2021 dan akan mulai dioperasikan pada Maret 2022. Adapun skema pembayaran yang akan digunakan adalah dengan QR Code melalui aplikasi Jak Lingko. “Saat ini kami sedang proses memilih mitra, ada sekitar 83 perusahaan dari penjuru dunia yang mengikuti kontes pemilihan ini. Kira0kira di bulan Februari, kita sudah bisa mengetahui siapa mitra yang akan kita ajak,” kata dia.

Sebagai tambahan, PT MRT Jakarta berhasil membukukan laba operasional tahun 2020 sebesar Rp75 miliar. Angka ini lebih rendah dari tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp172 miliar. Sementara itu, perusahaan juga mengalami penuruna EBITDA dari yang tadinya sebesar Rp427 miliar di tahun 2019 menjadi Rp416 miliar di tahun 2020.

Untuk pendapatan non farebox, MRT Jakarta membukukan pendapatan sebesar Rp237 miliar. Perusahaan berencana untuk menggenjot pendapatan di sektor ini pada tahun 2021, dengan target optimis sebesar Rp450 miliar. Adapun strategi yang dilakukan untuk mencapai angka tersebut dengan memaksimalkan periklanan di dalam dan luar stasiun, memaksimalkan kerjasama dengan layanan telco, kerjasama penamaan stasiun, kerjasama payment gateway, retail, dan komersialisasi pilar MRT.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)