Tarian Indah Sarana Menara di Bisnis Tower

Peluang di bisnis sewa menara telekomunikasi masih sangat menjanjikan. Tengok keuntungan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (Sarana Menara) yang terus menanjak. Setelah era 4G, anak usaha Grup Djarum ini mulai bersiap memasuki era 5G.

Saat ini, pengembangan jaringan 4G tengah marak di Indonesia. Hal ini tidak terjadi di luar negeri yang sudah mulai menyiapkan diri untuk era 5G. Ini jelas peluang emas emiten dengan kode TOWR ini untuk meningkatkan biaya sewa menara miliknya.

Apalagi, koneksi yang sudah ada tidak akan diganggu-gugat karena 4G adalah tulang punggung 5G. Salah satu syarat 5G, kecepatan koneksi internet adalah di atas 100 Mbps. Koneksi yang sudah ada hanya tinggal ditingkatkan (upgrade).

“Selama kurun 2007-2010 di tower hanya ada 2G. Kami menambahkan equipment 3G karena perkembangan 3G. Setelah era 3G berjalan, revenue kami bertambah,” kata Adam Gifari, Wakil Presiden Direktur Sarana Menara.

Adam Gifari, Wakil Presiden Direktur PT Sarana Menara Nusantara Tbk Adam Gifari, Wakil Presiden Direktur PT Sarana Menara Nusantara Tbk

Menurut dia, bisnis sewa menara masih sangat cerah karena operator seluler kini semakin banyak yang memilih menyewa ketimbang membangun dan memiliki menara sendiri karena cost of fund yang relatif mahal. “Operator seluler tidak lagi mengurusi pembangunan menara, termasuk mengurus izinnya. Mereka hanya cukup menyewa,” katanya.

Perseroan yang berdiri tahun 2003 itu mengakuisisi 2.500 tower milik XL-Axiata senilai Rp 3,5 triliun. Ini melanjutkan ekspansi besar-besaran sejak tahun 2007-2008 dengan membeli menara milik PT Hutchison CP Telecommunications di Indonesia lewat PT Profesional Telekomunikasi (Protelindo). Ekspansi berlanjut di 2009-2010. Pada tahun 2014, Sarana Menara bahkan berani membangun ribuan tower.

“Saat ini, kami memiliki 12 ribuan menara dengan nilai Rp 14-15 triliun. Setelah akuisisi tower XL, jumlah tower kami menjadi 14.000 ribuan,” ujar dia.

Hasilnya, kinerja Sarana Menara semakin kinclong. Sepanjang 2015, mereka meraup laba bersih Rp 2,96 triliun, melesat 168,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan laba ditopang melonjaknya pendapatan keuangan bersih. Penyumbang terbesar pendapatan adalah PT Hutchison CP Telecommunications sebesar 38%. Diikuti, PT Telkomsel dan PT XL Axiata Tbk yang masing-masing menyumbang 20%.

Saat ini, pertarungan para perusahaan menara terjadi di antara empat pemain. Yakni Protelindo, PT Tower Bersama Tbk, PT Solusi Tunas Pratama Tbk, dan PT Dayamitra Telekomunikasi. Saat ini, ada sekitar 80.000 menara telekomunikasi di Indonesia dan sebanyak 50.000 di antaranya dimiliki independent tower provider, seperti Protelindo, dan lainnya. Sisanya masih milik operator telekomunikasi, seperti Telkomsel, Indosat, dan XL-Axiata.

(Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)