Adopsi Platform Low-code di Indonesia Meningkat 86%

Ilustrasi coding. (dok. IDC)

Hasil gabungan riset OutSystems dan studi IDC menunjukan terdapat peningkatan adopsi platform low-code di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Platform low-code merupakan seperangkat tools untuk membantu developer dalam menciptakan aplikasi dengan lebih cepat ketimbang membuat coding dari awal.

Studi ini mengungkapkan bahwa 59% organisasi atau perusahaan di Asia Pasifik telah mengadopsi platform low-code, dan 13% dari mereka yang disurvei mengatakan ingin mengadopsi sistem ini dalam waktu 18 bulan ke depan.

Saat ini tingkat adopsi penggunaan platform low-code di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di Asia Pasifik dengan mencapai tingkat adopsi sebesar 86%. Walau demikian, masih banyak bisnis di Indonesia mengandalkan infrastruktur teknologi lama yang sudah ketinggalan zaman, sehingga masalah kompatibilitas pasti muncul ketika apa yang disediakan oleh platform yang lebih baru, seperti low-code, harus diintegrasikan dengan perangkat lunak lama.

Mark Weaser, Wakil Presiden Asia Pasifik OutSystems, menyampaikan bahwa integrasi merupakan kunci untuk mewujudkan efisiensi operasional. "Mengintegrasikan aplikasi dengan kumpulan data yang ada dapat membantu bisnis mengumpulkan informasi baru untuk meningkatkan proses dan alur kerja," paparnya dalam keterangan tertulis, (15/4/2020).

Tantangan yang biasa dihadapi dalam pengembangan aplikasi perangkat lunak hampir sama ditemukan juga di beberapa negara lain di Asia Pasifik, yaitu mengintegrasikan berbagai sistem, teknologi & environment, kelangkaan SDM, serta kurangnya keterlibatan pengguna bisnis.

Para pengembang lokal juga ingin menghabiskan lebih sedikit waktu untuk melacak bug, men-debug, dan melakukan coding. Dengan begitu developer dapat lebih memusatkan fokus mereka dalam membangun proses dan manajemen aplikasi, melakukan analisis kebutuhan perangkat lunak dan menguji fungsi, unit dan integrasi. Karena pada dasarnya, low-code adalah cara untuk merancang dan mengembangkan aplikasi software dengan cepat, dan kode manual minimal yang memungkinkan pengembang memberikan hasil maksimal yang cepat dan handal.

Peraturan pemerintah tahun 2016 mengenai perlindungan data pribadi membuat banyak organisasi atau perusahaan mengevaluasi alternatif hemat biaya seperti low-code. Perusahaan di Indonesia mulai memandang IT sebagai keharusan strategis untuk mengatasi masalah teknologi yang ketinggalan zaman, dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendorong adopsi transformasi digital seperti penghematan biaya, efisiensi operasional dan keunggulan kompetitif.

“Ada kebutuhan bagi perusahaan untuk menemukan cara yang lebih cepat dan lebih sederhana untuk membangun fitur dan aplikasi baru untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berkembang. OutSystems memahami tantangan yang dihadapi bisnis dan akan terus mendukung mereka dalam upaya transformasi mereka," ujar Weaser.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)