Agus Sudjianto: Gempuran Artificial Inteligence Menyusup ke Seluruh Sendi Kehidupan

Agus Sudjianto, Executive Vice President-Head of Corporate Model Risk Wells Fargo
Agus Sudjianto, Executive Vice President-Head of Corporate Model Risk Wells Fargo

Dalam ajang Indonesia AI Summit 2019 di Nusa Dua, Bali, pada 21-22 Agustus 2019, Agus Sudjianto, putra Indonesia yang sudah lebih dari 28 tahun tinggal di Amerika Serikat, menjadi salah satu pembicara utama. Sebagai Executive Vice President-Head of Corporate Model Risk Wells Fargo, bank tertua papan atas di AS, Agus diminta membagi pengalaman seputar pelaksanaan artificial intelligence (AI) di dunia perbankan, terutama untuk pengembangan model layanan dalam rangka meningkatkan kinerja bank.

Memanfaatkan kesempatan pulang kampung halaman, pria asal Wates, Kulon Progo, ini selain memenuhi agenda acara di Bali, juga berkesempatan berbicara di hadapan alumni, guru, dan siswa SMA Kolese De Britto, Yogyakarta, tempat ia menempuh pendidikan SMA. Setelah dari Yogya, Agus yang akrab disapa Jiji Paijo oleh sobat-sobatnya kembali membicarakan penerapan AI bersama teman-teman satu angkatan (1983) di Jakarta. Dan, atas bantuan teman satu angkatan, Handoko Wignjowargo, CEO MAESTRO Corporation yang juga Presiden Paguyuban Alumni De Britto, majalah SWA beruntung dapat menjumpai Agus sehari sebelum kembali ke AS.

Dalam wawancara di Rumah Betawi, kediaman Handoko di Jakarta, Agus membenarkan bahwa AI memang telah mengalami perkembangan dahsyat sepuluh tahun belakangan. “Sekarang semua negara berlomba-lomba menguasai AI untuk menerapkan dan mendapatkan manfaatnya,” kata Agus tentang bidang ilmu yang sudah dikenalnya sejak 29 tahun lalu saat menempuh pendidikan di Wayne State University di Detroit, Michigan, AS.

Dua tahun setelah lulus dari Fakultas MIPA Fisika Murni Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) tahun 1987, Agus menerima beasiswa dari Ford Motor Company (FMC) untuk mengambil degree di bidang teknik industri-statistik. Kala itu, pabrikan otomotif AS sedang berjuang meningkatkan kualitas karena merasa mulai kedodoran menghadapi pabrikan otomotif Jepang. “Termasuk Ford, ingin fokus dan memberi perhatian besar di kualitas, sehingga saya mengambil bidang sesuai dengan kebutuhan tersebut,” kata Agus yang sembari kuliah sudah diperbantukan sebagai asisten riset yang fokus untuk kualitas di FMC.

Tak cukup sampai degree di bidang teknik industri, Agus melanjutkan Ph.D-nya di kampus yang sama, di bidang teknik teknik elektro. Alasannya pindah jurusan waktu itu, bidang yang baru lebih banyak menyuguhkan ilmu matematika yang digemarinya ketimbang bidang sebelumnya. Ternyata, di jurusan tersebut Agus tidak hanya menemukan ilmu matematika, tetap juga mempelajari ilmu baru Neuro Network yang sekarang berkembang menjadi ilmu AI. “Pada zaman itu, belum ada perusahaan yang membutuhkan spesifik ahli AI,” kata Agus mengenang. Ia tidak menyangka ilmu yang digelutinya saat itu sekarang menjadi bidang ilmu yang banyak dicari perusahaan karena terbilang langka.

Menurut Agus, FMC tergolong perusahaan yang tanggap memanfaatkan ilmu AI. Selepas pendidikan, ia langsung dilibatkan dalam pembuatan desain mesin-mesin besar untuk FMC yang banyak menggunakan konsep AI. Bahkan, guna memantabkan keahliannya, di antara kesibukannya, Agus disekolahkan kembali. Kali ini ia mengambil Teknik Mesin (Jurusan Manajemen dan Desain Produk, Desain Sistem) di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Field Of Study Engineering and Management (Sloan), Boston (1999-2001)

Dengan keahlian di bidang AI yang lengkap seperti itu, tak mengherankan, Agus mulai banyak diburu para head-hunter. Tahun 2004 ia terpikat oleh tawaran Bank of America yang tengah menghadapi aturan dari regulator perbankan AS bahwa tidak boleh lagi melakukan merger atau akusisi telah menguasai 10% deposit untuk AS. Bank of America hanya boleh tumbuh secara organik melalui internal growth. “Nah, kalau itu yang diminta, berarti Bank of America harus mengeluarkan produk-produk baru yang berasal dari temuan internal,” kata Agus. Ia tertantang membenahi manajemen dengan merekayasa ulang keseluruhan organ perusahaan dengan model-model baru yang sederhana dan terstandardisasi.

Enam tahun di BOA, tahun 2010 Agus tertarik tawaran head-hunter untuk membenahi bank ritel terbesar di Inggris, Lloyds Banking Group. Sebuah tantangan menarik karena bank tersebut menghadapi banyak masalah di kapital. Bukan karena kekurangan kapital, melainkan bank tersebut justru mendapat injeksi kapital sangat besar dari Pemerintah Inggris, sehingga Lloyds harus memiliki seseorang yang bisa membantu mengelola kapital. “Kalau terkait kalkulasi kapital, lagi-lagi matematika model jawabannya, matematika model yang bisa dipercaya oleh OJK-nya di Inggris. So, saya diminta untuk membantu memimpin dan melakukan deal dengan regulator,” ungkap Agus yang ditunjuk sebagai Director of Analytics and Modelling Capital Management.

Cukup tiga tahun, Agus kembali hijrah ke AS memenuhi panggilan Wells Fargo, salah satu bank kuno AS yang masih bertahan hingga sekarang. Pencinta film koboi zaman dulu pasti menjumpai tulisan “Wells Fargo” kalau ada kereta yang dirampok. Bank ini sampai sekarang masih menjadi salah satu yang terbesar di AS dan dikenal selalu sukses menghalau krisis.

Barangkali karena perkembangan zaman, Wells Fargo pun membutuhkan sentuhan AI. Model matematika diharapkan membantu bank tradisional ini menghadapi era perbankan yang semakin modern. “Saya diminta membantu membenahi dan deal dengan regulator seperti saat di UK,” kata Agus yang menduduki posisi EVP-Head of Corporate Model Risk sampai sekarang.

Lagi-lagi AI menjadi kunci semua kebutuhan perbankan saat ini. Dalam pandangan Agus, tidak hanya di dunia perbankan, AI memang telah menyusup ke seluruh sendi kehidupan. Dan, itu sangat terasakan di dunia perbankan. Dari hari ke hari, model matematika ini dituntut makin kompleks, detail, dan njelimet. Ia mencontohkan, dulu, model matematika domainnya masih statistical modelling atau statistik dan matematik. Yang bisa dimodel pun terbatas, seperti financial modelling dan prediksi. “Nah, dalam AI tidak hanya financial modelling. We have to model voice. We have to model nature language processing pun dapat terdeteksi,” Agus menjelaskan. Sehingga menurutnya, AI itu beyond the traditional model statistic.

Itulah sebabnya, orang menggunakan machine learning algorithms yang menggerakkan AI. Machine learning algorithms itu kan sophisticated, yang pengukuran matematikanya berangkat dan belajar dari data. Bisa melihat hubungan antara input dan output dan bisa belajar dari data,” Agus menjelaskan. Intinya, karena komputer semakin powerful, AI pun semakin digdaya.

Yang menjadi keprihatinan Agus, kemajuan teknologi AI di Indonesia masih ditanggapi di tingkat awareness. Bangsa Indonesia masih dalam tataran euforia, sementara berbagai negara lain telah menjadikan AI sebagai sesuatu hal yang dilihat serius, baik dari segi manfaat maupun dampaknya bagi masyarakat. “Saya khawatir, karena AI tumbuh cepat dan masih menjadi sesuatu hal baru, berpotensi bisa salah jalan,” Agus mengingatkan. Pasalnya, secara pengetahuan kita (Indonesia) AI yang ditawarkan itu benar atau hanya AI abal-abal.

Agus menunjukkan bahayanya jika kita hanya percaya vendor. Misalnya, data yang digunakan apakah data yang benar atau tidak. Datanya menipu atau tidak, dsb. Sebab, jika menggunakan data abal-abal, hasilnya AI pun akan tidak fair. Keputusan yang diambil menjadi salah. “Semua ada ilmunya, dan semua harus melalui uji tes,” Agus menegaskan.

Yang paling mengkhawatirkannya, AI di-take advantage perusahaan big data. Alasannya? Jangan sampai teknologi yang namanya depth learning ini dipakai juga untuk depth fake. Video dimanipulasi sehingga seolah-olah dia yang berbicara seperti itu, misalnya. “Di Indonesia, orang gampang sekali termakan hoaks dan mudah sekali membuat hoaks,” kata Agus menyayangkan. Dari gambar, video, suara, apa pun bisa dipalsukan dan kemudian dipindahkan ke AI sehingga dapat dikostumisasi satu-satu. “Sangat membahayakan karena dapat berimplikasi untuk kehidupan sosial, politik, dan keutuhan bangsa,” kata Agus meyakinkan.

Sebab itu, menurut Agus, gempuran AI yang menyusup ke seluruh sendi kehidupan harus segera diantisipasi dengan pendidikan dan strategi yang tepat. Pemerintah seharusnya secepatnya menyiapkan undang-undang dan cara menangkalnya. “Kalau Facebook beroperasi di Indonesia, Facebook harus ditekan bagaimana bisa menyaring hoaks,” Agus menyarankan. Toh, di Amerika saja juga begitu. “Kalau tidak, denda,” lanjutnya. Hal itu harus dilakukan agar Facebook tidak bebas sebebas-bebasnya.

Menurut Agus, pemerintah belum terlambat jika ingin membenahi peraturan. Di Eropa, peraturan pembatasan data baru diketok tahun lalu. Di China, menggunakan facial recognition ada aturannya. Apalagi, di AS yang sangat menghargai privasi, real-time facial recognition tidak boleh sama sekali karena bisa untuk rasial profiling. Bagaimana Indonesia? “Bebas sebebasnya. Pengguna media sosial malah merasa senang jika fotonya bisa dikenali Facebook. Ini aneh, tapi nyata,” tuturnya. Itu semua, kata Agus, berkat pekerjaan AI.

Patut disadari semua pihak, dulu, negara yang punya sumber minyak banyak adalah negara yang kaya. Sekarang, negara yang punya data banyak itulah negara yang kaya raya. Contohnya, Facebook. Revenue tahun 2018 sebesar US$ 55 miliar, atau sekitar Rp 770 triliun. Ibarat untuk mendanai ibukota baru pun masih tersisa banyak. Mengapa? Karena, Facebook punya data. Perusahaan seperti Google, Facebook, hingga Amazon adalah penambang data. “Bangsa kita begitu murah hati mengobral data sehingga kita menjadi sasaran AI,” Agus mengeluhkan.

Semua harus menyadari, bahwa data is the new oil; strategic asset,” kata Agus tandas. “Semestinya data Indonesia harus milik Indonesia. Data Indonesia harus digunakan untuk kepentingan Indonesia. Data ini bisa untuk memengaruhi opini rakyat, opini manusia, dengan mudah lewat media sosial,” lanjutnya. Ia berharap pemerintah segera menyadarinya. Ia khawatir, dengan tingkat pendidikan yang belum merata, AI justru menjadi sumber pembiakkan hoaks.

Agus menegaskan, yang dimiliki AI adalah kepintaran, sedangkan yang tidak dimilikinya adalah kreativitas dan etika (empati). Pembedanya tidak diametral, sebagaimana AI asimetris terhadap banyak nilai-nilai kemanusiaan. Pintar tidak lagi kemewahan. Ia dengan mudah dan enteng ditiru, digantikan, bahkan diabaikan. AI memanipulasi kepintaran menjadi semata-mata data untuk meminggirkan manusia itu sendiri.

"Saya mempekerjakan seribu orang, 500 di antaranya Ph.D, untuk menciptakan AI, yang AI ciptaan mereka itu akan membuat mereka kehilangan pekerjaan," ungkap Agus. Di negara-negara modern, menurutnya, AI akan menyingkirkan orang-orang pintar; tetapi tidak akan bisa menggantikan orang-orang yang kreatif dan bekerja dengan menggunakan etika (empati).

Barangkali kekhawatiran banyak profesi akan tergantikan oleh AI belum sampai di Tanah Air, karena jelajah AI belum sampai di titik tersebut. Namun, justru menurut Agus, pemerintah harus lebih siaga sebab potensi penyelewengannya jauh lebih besar. Di Indonesia, jika data ibarat minyak, AI adalah listriknya. Maksudnya, memang saat ini kita masih menikmati kenyamanan hidup dari listrik, tetapi lupa bahwa sumbernya itu berasal dari minyak atau data.

Data diolah menjadi sesuatu yang berguna dan mengatur kehidupan, termasuk cara berbelanja, cara berlibur, cara mendapatkan kesenangan, semua diatur oleh AI. Seperti belanja online; setelah beli ini, beli itu, dan seterusnya itu kan sebenarnya diatur oleh AI. “Nah, semua sumbernya data. Kalau tidak ada data, tidak bisa. Makanya, harus ada UU pembatasan data agar data yang kita miliki tidak melayang ke luar negeri,” kata Agus menandaskan. Ia berharap pemerintah segera mengantisipasi. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)