Apa Saja yang Harus Disiapkan Perusahaan Era Industri X.0?

Gelombang transformasi digital telah mengubah perekonomian dunia, termasuk industri manufaktur melalui otomatisasi berbagai aspek bisnisnya. Mulai dari manajemen bisnis hingga manajemen rantai pasokan dan sistem produksi.

Kemajuan teknologi terkini kian menghilangkan batasan antara dunia digital dan dunia fisik. Beragam sistem pintar (intelligent) dan saling terhubung (interconnected) sekarang semakin mendukung proses bisnis di banyak perusahaan. Dua tahun yang lalu, industri baru saja memasuki era revolusi industri 4.0, di mana prinsipnya adalah menggabungkan semua teknlogi dan media untuk menjalankan bisnis. Tetapi, konsultan bisnis Accenture, baru-baru ini merilis hasil riset terbarunya yang menunjukkan bahwa revolusi industri terus begerak maju dan kini sedang menuju ke era industri X.0.

Riset ini menunjukkan bahwa perusahaan perlu melakukan pembaaruan pada model operasional, sistem produksi dan rantai nilai perusahaan, yang disebut sebagai Industry X.0 yang merupakan revolusi penggabungan teknologi baru secara tepat dan telah mengubah lansekap industri manufaktur. Saat ini, para perusahaan terkemuka di bidang otomotif, peralatan industri, obat-obatan dan lain sebagainya turut memanfaatkan transformasi ini untuk mendapatkan keunggulan kompetitif di industrinya.

“Mayoritas para pemimpin bisnis memahami kekuatan teknologi digital, namun mereka masih perlu memaksimalkan keuntungan dari investasi digital mereka,” ujar David Hovenden, Managing Director dari Accenture Consulting.

Lalu, apa saja yang harus dilakukan oleh para pemimpin bisnis untuk mempersiapkan perusahaan mereka memasuki era industri X.0 itu nantinya ? Leonard Nugroho T, Managing Director - Technology Consulting Lead Accenture Indonesia mengatakan ada 6 (enam) langkah utama yang bisa disiapkan perusahaan sejak dini :

1. Transformasi bisnis inti perusahaan Anda , artinya perusahaan perlu meningkatkan efisiensi seputarpenggunaan teknologi digital. Menghubungkan aspek digital dan fisik, mensinkronkan mesin dengan sistem software sangat diperlukan untuk merealisasikan efisiensi biaya – sehingga dapat meningkatkan kapasitas investasi.

2. Lebih fokus pada pengalaman dan hasil atau berinvestasi untuk memberikan pengalaman baru yang dipersonalisasi untuk konsumen, melalui beragam “titik cerdas” (touchpoints) untuk membantu mengembangkan bisnis inti dengan meningkatkan keterlibatan pelanggan.

3. Melakukan inovasi untuk model bisnis baru. Dengan kata lain, memberikan nilai tambah yang berbeda untuk klien dan membuka arus pendapatan baru bagi perusahaan.

4. Mencetak tenaga kerja handal di era digital. Perusahaan harus  mencari, melatih dan mempertahankan talenta pekerja dengan keterampilan yang siap menggunakan teknologi digital dan meningkatkan kolaborasi aktif antara tenaga kerja dan mesin.

5. Membangun ulang ekosistem baru. Dengan menciptakan ekosistem kuat terkini yang terdiri dari para pemasok, distributor, start-up serta pelanggan agar dapat mendorong skala pengembangkanmodel bisnis baru pada rantai nilai digital.

6. Bergerak secara bijak – terus menyeimbangkan alokasi investasi dan sumber daya antara bisnis inti dan bisnis baru untuk menyeimbangkan inovasi dan pertumbuhan perusahaan.

Lebih lanjut Leonard mengatakan untuk konteks Indonesia, memang belum akan terjadi dalam waktu dekat. Namun, penting bagi perusahaan untuk mempelajarinya, terutama soal keberlanjutan usaha dan kompetisi. "Dengan kombinasi teknologi, para perusahaan besar bisa jadi mendapat saingan dari startup yang beda industri, jadi persaingannya bukan lagi dalam satu kelompok industri melainkan lintas kelompok industri," jelasnya.

Industry X.0 secara signifikan lebih baik dalam mengombinasikan beragam teknologi digital dari generasi revolusi industri sebelumnya. Untuk membantu perusahaan memahami lebih baik keuntungan dari transformasi digital untuk nilai pasar dan saham perusahaan mereka, Accenture telah mengevaluasi 10 teknologi penting yang terdiri dari 5 teknologi digital, pada khususnya – autonomous vehicles, augmented and virtual reality, big data, machine learning and mobile computing – yang dapat membantu perusahaan melakukan penghematan lebih dari US$ 85,000 rata-rata per karyawan.

Selain itu, perpaduan teknologi dengan komposisi yang berbeda yaitu autonomous robots, mobile computing, autonomous vehicles, 3D printing and machine learning, perusahaan dapat meningkatkan pangsa pasar mereka (market capitalization) lebih dari US$ 6 milliar rata-rata. Namun, kombinasi teknologi yang tepat akan berbeda antar industri, dan akan berubah seiring dengan waktu dan pengembangan teknologi.

Robby, Part of Accenture Digital, mengatakan, hal lain yang juga penting untuk dipersiapkan oleh para pemilik bisnis adalah tenaga ahli untuk data analytics. "Saat ini SDM untuk keahlian tersebut memang belum tersedia di Indonesia, tetapi pemerintah sudah menujukkan itikad untuk menyiapkan jurusan ini di perguruan tinggi," jelasnya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)