Bio Farma, Adopsi Teknologi Digital untuk Ciptakan Business Value Lebih Besar

Soleh Ayubi Ph.D,Direktur Transformasi dan Digital Bio Farma.

PT Bio Farma (Persero) mendatangkan Soleh Ayubi Ph.D, untuk mengawal digitalisasi (transformasi digital) di perusahaan pelat merah ini. Sarjana Teknik Informatika dari Intitut Teknologi Bandung ini bergabung ke Bio Farma pada Agustus 2020, setelah sebelumnya berkarier di Amerika Serikat. Dan, jabatan yang dipegang saat ini adalah Direktur Transformasi dan Digital Bio Farma.

Sebagai produsen vaksin, Bio Farma memang harus mempunyai kemampuan tinggi dalam mengadopsi perkembangan teknologi digital, mulai dari pengembangan produk atau research & development (R&D) hingga distribusinya. Dan, saat ini BUMN ini telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai holding company BUMN farmasi, yang membawahkan Bio Farma operasional, PT Kimia Farma (Persero) Tbk., dan PT Indofarma (Persero) Tbk.

Dari sisi bisnis, sebagaimana dijelaskan Soleh Ayubi, Bio Farma terbagi dalam empat kelompok unit. Pertama, R&D, yang merupakan basis bisnis Bio Farma. Kedua, unit manufaktur, yang memproduksi vaksin, alat-alat kesehatan, dsb. Ketiga, unit distribusi obat, vaksin, alat-alat kesehatan, dan sebagainya, yang ditangani tiga (cucu) perusahaan. Dan, keempat, kelompok ritel, seperti apotek, klinik, laboratorium, dan saham di rumah sakit.

Menurutnya, Bio Farma sudah mengimplementasikan teknologi 4.0. Misalnya, R&D telah dilengkapi dengan sensor. Juga, mengimplementasikan artificial intelligence (AI) dan machine learning, salah satunya untuk penentuan masa panen vaksin. “Kami sudah implementasikan pada vaksin hepatitis, polio, dan sekarang Covid-19,” ujarnya.

Di kelompok manufaktur, ia menambahkan, salah satu pabrik Kimia Farma yang paling canggih ada di Banjaran, dan pabrik Bio Farma di Pasteur juga sudah bersiap ke arah teknologi 4.0. Contohnya, setiap orang yang masuk ke dalam area pabrik dipantau suhunya, juga kondisi kesehatannya, untuk memastikan bahwa Bio Farma mengikuti Good Manufacturing Practices (GMP) yang ada di dunia.

Selanjutnya, di kelompok distribusi, terjadi perubahan drastis ketika Bio Farma menangani distribusi vaksin Covid-19. Di tahun 2021 sampai minggu ke-3 Maret 2022, BUMN ini sudah mendistribusikan 380 juta dosis vaksin Covid-19.

“Untuk mendistribusikannya, kami menggunakan teknologi 4.0 juga. Kami menggunakan sensor suhu, sensor lokasi, sensor behavior dari driver, sensor kecepatan kendaraan. Itu semua untuk memastikan bahwa vaksin tersebut terdistribusi dengan baik dan aman, sesuai dengan standar cara distribusi obat yang baik, juga terjaga kualitasya,” ungkap Soleh Ayubi, yang meraih gelar doktor di University of Pittsburgh, Pennsylvania.

Untuk kelompok ritel, menurutnya, Bio Farma pun telah mengimplementasikan teknologi 4.0. Misalnya, pada saat ada orang masuk ke apotek Kimia Farma (anak usaha Bio Farma), suhunya sudah terpantau, perilaku dan transaksinya pun sudah bisa terpantau secara real time. “Dan, transaksinya juga sudah mandiri. Jadi, ada apps screen yang bisa diakses customer saat datang ke apotek,” katanya.

Bio Farma pun telah meraih INDI 4.0 Award dari Kementerian Perindustrian untuk teknologi supply chain atau unit distribusi. Terkait teknologi supply chain ini, Soleh Ayubi bercerita, di dalam satu botol vaksin itu ada barcode yang mengandung informasi yang sangat penting, yaitu tanggal produksi, masa kedaluwarsa, dan nomor seri vaksin; sehingga bisa dikatakan, vaksin tidak akan dapat dipalsukan.

Botol-botol vaksin tersebut dikemas dalam kotak kardus berkapasitas 10 botol vaksin. Di kotak ini pun ada barcode-nya yang juga mengandung informasi penting. Pada saat vaksin itu didistribusikan, misalnya dengan tujuan Semarang, dalam perjalanan Bandung-Semarang setiap lima menit suhu vaksin terpantau. “Lokasinya terpantau, tiba di tempat tujuan jam berapa pun terpantau,” ujarnya.

Dengan begitu, selama proses produksi sampai distribusi, kualitas vaksin terjaga. Soleh Ayubi menjelaskan, selama 2021 Bio Farma sudah mendistribusikan vaksin Covid-12 ke 512 kota dan kabupaten di Indonesia, sampai ke berbagai pelosok. Dan, pada akhirnya semua pihak yang berkepentingan dengan vaksin, seperti Kementerian Kesehatan dan Kepolisian RI, bisa memantau distribusinya.

“Itu yang kami lakukan, sehingga distribusi vaksin yang telah kami lakukan sangat efisien,” katanya. Ia menambahkan, vaksin yang diangkut dalam satu truk nilainya bisa mencapai Rp 200 miliar.

Menurut Soleh Ayubi, Industri 4.0 adalah salah satu bagian atau output dari digitalisasi. Ini merupakan pembuktian bahwa teknologi digital bukan hanya sebagai supporting, tapi mempunyai peran penting.

“Dalam sejarah Bio Farma, kami sudah cukup lama menggunakan teknologi digital. Namun, dulu digitalisasi hanya sebagai pendukung yang diimplementasikan di tataran, misalnya, manajemen keuangan, manajemen SDM, operasional, dan komunikasi. Sekarang, digitalisasi sudah masuk ke semua bagian bisnis dan organisasi,” ungkapnya.

Bagi Bio Farma, mengadopsi teknologi digital bertujuan menciptakan business value yang lebih besar. Menurutnya, ada beberapa tujuan dari implementasi teknologi di bisnis Bio Farma.

Pertama, cost cutting; fokusnya ke efisiensi. “Jadi, bagaimana teknologi digital/4.0 secara khusus digunakan untuk mengurangi biaya produksi,” katanya. Salah satunya, seperti disebutkan di atas, terkait penggunaan machine learning untuk menentukan saat panen vaksin. Secara total hal itu bisa mengurangi produksi sampai dua batch, yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.

Tujuan kedua, peningkatan revenue. Artinya, Bio Farma juga memanfaatkan teknologi digital untuk menaikkan pendapatan.

Kemudian, tujuan ketiga, terkait dengan customer experience, Bio Farma ingin memastikan bahwa tekonlogi digital digunakan untuk meningkatkan customer experience. Adapun pelanggan Bio Farm terdiri dari institusi (misalnya, Kemenkes, rumah sakit, klinik, dan apotek) serta individu.

Dan, tujuan keempat, penggunaan teknologi 4.0 untuk percepatan R&D. Soleh Ayubi menerangkan, sebelumnya, pengembangan produk kesehatan makan waktu lama. Namun, dengan teknologi, bisa lebih efektif dan lebih efisien dalam hal biaya dan waktu.

Baginya, sekarang berinvestasi untuk digitalisasi bukanlah sesuatu yang unik atau luar biasa karena sudah seperti kebutuhan. Dan, di Bio Farma, ada direktorat dan anggaran khusus untuk pengembangan dan implementasi digitalisasi secara keseluruhan.

Ia menegaskan, hasil yang dicapai dari implementasi teknologi digital tersebut sangat signifikan. “Saya tidak bisa sebutkan angkanya, tapi sangat signifikan,” ujarnya. Memang belum maksimal, tapi arahnya sudah ke sana. Yang sudah kelihatan adalah dari sisi efisiensi; pengurangan biaya produksi yang sudah terbukti berhasil.

Namun, Soleh Ayubi menilai apa yang sudah dijalankan BioFarma saat ini masih butuh improvement. Belum selesai, dan masih di fase invasi, jadi masih masa awal sekali.

“Saya bergabung dengan Bio Farma 1,5 tahun lalu. Dan, selama 1,5 tahun ini kami fokus di penanggulangan pandemi. Namun, dalam beberapa waktu ke depan, kami akan fokus pada deliver business value,” kata Ketua Forum Human Capital Indonesia BUMN Muda 2021-2024 itu. (*)

Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)