Cara Highgrounds Indonesia Goda Penggemar e-Sport

 Diana Tjong, CMO PT Yamisok Tech Indonesia

Pada Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta-Palembang beberapa waktu, panitia menggelar kompetisi e-sport (electronic sport). Memang hanya sebagai kompetisi ekshibisi, yakni kompetisi yang memperebutkan medali tetapi tidak dihitung dalam daftar perolehan medali seperti kompetisi olah raga lainnya. Berkat gelaran kompetisinya di ajang Asian Games 2018 itu, diperkirakan awareness masyarakat Indonesia --khususnya kalangan anak muda-- terhadap e-sport meningkat.

Sebelumnya, boleh dibilang tak banyak orang Indonesia yang mengenal apa itu e-sport. Padahal, ini tak lain adalah jenis game – istilah yang lebih dikenal banyak orang di sini. Dalam Wikipedia, e-sport didefinisikan sebagai bentuk kompetisi video game yang dimainkan oleh sejumlah pemain (multiplayer), khususnya di antara pemain dan tim profesional. Istilah ini mulai mengemuka di akhir tahun 2000-an. Sebelumnya, video game lebih banyak dimainkan oleh para amatir. Popularitas e-sport melonjak di era 2010-an setelah meningkatnya partisipasi para gamer profesional dan ditayangkannya kompetisi ini melalui saluran live streaming. Sejak itu, e-sport menjadi faktor signifikan pertumbuhan pesat industri video game di dunia.

Perkembangan peminat e-sport ini juga memicu tumbuhnya tempat-tempat semacam warnet (cyber cafe) atau kafe game (gaming cafe) yang menyediakan fasilitas untuk permainan ini. Salah satu yang menonjol adalah Highgrounds Indonesia, gaming cafe yang berlokasi di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. “Highgrounds ini merupakan one stop gaming place untuk para e-sport gamer,” ujar Diana Tjong, CMO PT Yamisok Tech Indonesia, pemilik dan pengelola Highgrounds Indonesia.

Di Highgrounds, para penggemar game dan e-sport sepertinya begitu dimanjakan oleh pihak pengelola. Di gedung yang terdiri dari beberapa lantai itu, di lantai 2 tersedia gaming lounge, di sini sudah tersedia komputer, perangkat PlayStation dan Nintendo. Lalu, di lantai 3 ada VIP Bootcamp, sebuah ruangan di mana pehobi game bisa menikmati suasana yang lebih privat.

Highgrounds juga memiliki tournament arena. Ini merupakan fasilitas buat komunitas gamer dan e-sport untuk menggelar event kompetisi. “Kalau menggelar event di mal mungkin bujetnya akan terlalu besar, sedangkan di tempat kami tidak begitu karena sudah disediakan infrastrukturnya: meja, komputer, dan akses internet. Jadi, mereka tinggal bawa event-nya ke sini,” kata Diana. Jika tidak digunakan untuk event, ruangan ini dipakai sebagai e-sport bar, yakni fasilitas orang bisa menonton permainan e-sport sembari makan dan minum.

Namun, yang terpenting, menurut Diana, pihaknya menyediakan fasilitas komputer dengan spesifikasi tinggi (high spec). “Di tempat kami, spec komputernya sama, semuanya high spec, berbeda dengan warnet biasa,” katanya. Ia mengklaim komputer-komputer game-nya punya spec tertinggi di antara warnet dan gaming cafe lainnya di Indonesia. Maklumlah, karena yang lagi ngetren dimainkan di sini adalah game jenis e-sport.

Hubert, salah seorang pengunjung Highgrounds mengaku puas bermain game di sini. “Berbeda dengan warnet lain, kalau di sini nyaman, serasa main di rumah,” ujar lelaki 23 tahun yang cukup rajin menyambangi kafe game ini. Yang paling membuat Hubert senang, spec komputernya. “Sangat high-end, saat pertama kali main di sini, saya kaget juga lihat spec-nya,” katanya.

Menurut Diana, fasilitas game yang disediakan pihaknya ini terutama ditargetkan bisa menarik minat para penggemar game dan e-sport dari kalangan di bawah usia dewasa. “Mulai dari anak SD sampai SMA. Kalau anak kuliah agak kurang, mungkin karena jauh dari kampus,” katanya. Menariknya, pengunjung selevel mahasiswa yang datang ke tempatnya justru mereka yang sedang kuliah di luar negeri dan mencari gaming cafe dengan spec komputer tinggi. Menurutnya, di waktu weekend, biasanya kafe game ini dipenuhi pengunjung, bahkan harus diterapkan waiting list.

Diana mengakui jumlah pengunjung kafe game-nya secara umum per bulan masih naik-turun. Terutama karena dipengaruhi event yang dilewati para siswa, misalnya kalau sedang ada ulangan umum jumlah pengunjungnya juga turun. Bagusnya, untuk mendorong para siswa penggemar game tetap memperhatikan pelajaran sekolah, Highground mempunyai program: siswa yang mencapai nilai rapor rata-rata di atas 8 digratiskan untuk bermain. “Kami dukung anak-anak supaya mau belajar serius,” katanya.

Sebagai one stop gaming place, Highgrounds menyediakan pula restoran dan kafe (konvensional) di lantai 1. Fasilitas ini terutama ditargetkan untuk para orang tua, terutama ibu-ibu. Misalnya, para ibu berkumpul atau berkegiatan arisan di lantai bawah, anak-anaknya bermain game atau e-sport di lantai atasnya.

Karena menyasar kalangan middle-up, tentu saja harga yang dipatok Highgrounds lebih tinggi dibandingkan kebanyakan kafe game. Untuk sewa gaming lounge, tarifnya Rp 20 ribu/jam bila menggunakan PC dan Rp 25 ribu/jam bila menggunakan konsol game. Di warnet kebanyakan, tarif sewanya hanya Rp 5 ribu/jam. Adapun harga makanan- minuman mulai dari Rp 35 ribu sampai Rp 200 ribu.

Kafe game ini dimiliki dan dikelola oleh PT Yamisok Tech Indonesia –yang selama ini dikenal cukup rutin menggelar game event-- bekerjasama dengan Highgrounds Filipina. Menurut Diana, sistemnya bukan waralaba, melainkan lebih ke penggunaan merek (semacam lisensi).

Kafe Highground ini dibuka sejak Maret 2018, dengan investasi di atas Rp 10 miliar. “Kami targetkan balik modal tidak lama, paling lama tiga tahun, tapi itu tergantung pada banyaknya event,” kata Diana. Selama ini, katanya lagi, awareness penggemar game akan nama Highgrounds lebih karena word of mouth, terutama lewat media sosial, juga liputan dari media.

Menurut Diana, sudah ada sejumlah investor lokal yang berminat mengembangkan kafe game Highgrounds dengan pola waralaba. Kalau jadi, pengembangan ini tidak akan di Jakarta lagi. “Konsep dari Highgrounds Filipina memang tidak mau menjamur, melainkan harus eksklusif,” ujarnya. Toh, hingga saat ini, ia mengaku pihaknya masih mempelajari pasarnya dan belum ada keinginan membuka cabang baru. “Kami masih mau melihat progress di sini dulu,” ujarnya. (*)

Joko Sugiarsono & Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)