Dampak Positif Investasi Global di Unicorn Indonesia

Target 44 startup unicorn di tahun 2020. (Ilustrasi Foto : Istimewa).

Kehadiran investor global terutama di perusahaan rintisan (startup) Unicorn Indonesia merupakan bukti nyata yang menunjukkan prestasi anak bangsa dalam mengadaptasi perubahan teknologi informasi di tingkat global.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, mengatakan investor asing berani ambil risiko tinggi membiayai bisnis perusahaan rintisan alias startup Indonesia lantaran memperhitungan serta menganalisa dengan matang.”Tantangan perusahaan rintisan di tahap awal adalah memeromosikan produk dan jasanya ke konsumen. Hal ini membutuhkan biaya operasional. Biasanya kinerja keuangan startup di tahap awal ini masih negatif,” ungkapnya di Jakarta pada pekan ini.

Investor global yang dengan pertimbangan matangnya mampu mengambil keputusan untuk menanam investasi pada bisnis startup sejak awal. Sebaliknya investor lokal lebih berhati-hati dan memiliki pertimbangan berbeda. Maka investor global, menurut pria yang juga anggota Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) itu terkesan lebih agresif dalam menanamkan modalnya di perusahaan startup. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di perusahaan startup potensial lainnya di negara lain seluruh dunia.

Maka tidak heran jika kepemilikan saham Jack Ma tersisa 5,6% di perusahaan yang dia dirikan, Alibaba. Sebesar 8,8% di Ant Financial, anak usaha Alibaba bidang pembayaran digital (Alipay).Begitu juga Mark Zuckerberg di Facebook. Data Nasdaq per 17 September 2018 mencatat pemegang saham institusi mendominasi sebesar 74,06% dan sisanya adalah investor ritel.

Dari total pemegang saham institusi itu nama perusahaan investasi besar seperti Vanguard Group Inc, Blackrock Inc, FMR LLC, State Street Corp, dan Price T Rowe Associates Inc/MD/ berada di daftar pemegang saham pengendali. Kepemilikan saham pendiri bukan lagi menjadi prioritas sebab yang terpenting adalah perkembangan dari layanan atau produk yang dibangun agar semakin berkembang dan dampaknya dirasakan oleh banyak pihak.

Internet Consultant, Sjahrazad Alamsjah, mengungkapkan industry teknologi informasi (TI) merupakan era industri baru secara global. Para investor yang benar-benar mengerti dan punya visi tentang dunia TI itu yang berani mengambil risiko tinggi itu. ”Masuknya investor-investor asing dengan modal yang besar di Indonesia justru merupakan hal yang sangat berguna untuk kemajuan TI di Indonesia. Jangan dilihat sebaliknya,” tegasnya.

Masuknya investasi asing di Indonesia, menurutnya, justru membuktikan Indonesia tidak tertinggal dengan bangsa lain. ”Bahkan bila punya visi berpotensi masuk di papan atas dunia justru kondisi ini yang akan membantu mengubah visi orang-orang di pemeritahan dan swasta lokal mulai melihat potensi ini semakin serius,” terangnya.

Maka jika ada investor lokal unicorn yang mulai berani masuk mengambil risiko, seharusnya diberi acungan jempol. ”Bisa memerkenalkan Go-Jek ke Vietnam, itu juga prestasi, model yang zaman dulu tidak mungkin kita capai,” ucap Sjahrazad. Lagipula, Sjahrazad melanjutkan, jaringan Internet tidak bisa dimonopoli oleh satu negara mana pun. ”Pengembangan Internet Of Things (IoT), AI, machine learning atau deep learning di industri apapun, semisal di tenaga solar, pertanian, flora fauna yang spesifik untuk geolokasi Indonesia tidak akan bermanfaat untuk Kanada, Rusia, atau Australia,” imbuhnya.Fakta itu sekaligus membantah anggapan bahwa kehadiran investor global di unicorn Indonesia serta merta menghapus status perusahaan seperti Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, atau Traveloka sebagai karya anak bangsa. Justru menjadi bukti kesuksesan karya bangsa di kancah dunia.

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)