Energy Oprimization System, Inovasi Schneider Electric untuk Industri Semen

CementSolutionDay

Di usia ke-40 tahun di Indonesia, Schneider Electric kembali menawarkan sebuah inovasi teknologi baru dalam efisiensi energi yang diberi nama Energy Optimization System. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat dan banyaknya pembangunan dalam rangka pembangunan segala infrastruktur mempercepat target MP3EI menjadi optimisme bagi Schneider Electric untuk menawarkan inovasinya kepada industri-industri semen di Indonesia.

Melalui inovasinya tersebut, akan terjadi efisiensi dalam hal energi sehingga produksi akan lebih optimum dan memberi sumbangsih pada pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) karena aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Dalam satu tahun, sebanyak 3,4 juta ton semen diproduksi dimana 60% produksi berada di China.  Produksi tersebut menggunakan 2% energi di bumi. Dalam satu ton produksi semen, 40-70% biaya produksi berhubungan dengan energy, khususnya energi panas. Selain itu, dalam setiap ton semen yang dihasilkan, pabrik semen juga mengeluarkan 0,5-1 ton karbon dioksida (CO2).

Sistem yang ditawarkan Schneider Electric ini diklaim dapat melakukan optimasi di segala level dengan meminimalisasi bahan baku yang digunakan dan mengoptimalkan produksi sehingga mengurangi biaya produksi per ton semen. Menurut Rosy Wang, Global Solutions Director for Cement Shcneider Electric, efiesinsi yang dihasilkan dapat mencapai 30% meski hal tersebut tergantung pula pada berbagai kondisi. Lebih lanjut ia mengungkapkan, teknologi ini memprioritaskan sustainable development dengan meminimalisasi emisi, mengoptimalisasi konsumsi energi dan juga memperhatikan aspek keamanan. Selain itu, ia juga mengungkapkan, teknologinya ini juga fokus pada pengurangan biaya operasional dan efisiensi secara keseluruhan. Dengan efisiensi yang dapat dilakukan, klien akan mendapatkan keuntungan yang lebih dan dampak negatif terhadap lingkungan juga akan berkurang.

Teknologi EOS ini telah dipakai di sejumlah negara-negara. Di China, sebagai produsen semen terbesar, telah dipakai di 20 perusahaan. Sementara itu, untuk di Indonesia, Schneider tengah menjajaki kerjasama dengan berbagai perusahaan semen  setelah dilakukan studi terhadap sejumlah perusahaan sejak tahun 2009. Luther Jahja, Vice President Industry Business Unit Schneider Electric Indonesia mengungkapkan, pihaknya menargetkan separuh dari perusahaan semen yang telah beroperasi menjadi kliennya disamping 10 pabrik baru yang akan berdiri di Indonesia.

Ditanya mengenai investasi yang diperlukan untuk menggunakan sistem ini, baik Rosy Wang maupun Luther Jahja tidak dapat menyebutkan angka pasti. “Kami tidak bisa menyebutkan, karena harus ada studi terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhan. Investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 200 ribu – 300 ribu,” tandasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)