GDI Analytics Fokuskan Analisa Data Media Sosial

GDI Analytics perkuat ekosistem bisnis dengan menggandengn IBM, Twitter dan Digital Associates, Thailand. GDI Analytics perkuat ekosistem bisnis dengan menggandengn IBM, Twitter dan Digital Associates, Thailand.

Perkembangan dunia digital yang begitu pesat, terutama kehadiran aplikasi media sosial di dunia maya, mengakibatkan ledakan data yang tidak bisa dibendung. Ratusan hingga miliaran data tercecer begitu saja di berbagai platform tanpa ada yang mengolah menjadi suatu digital market insight.

Padahal, nyaris semua perusahaan baik skala mikro, kecil hingga besar sekalipun memanfatkan jejaring media sosial yang ada sebagai bentuk engagement kepada para pelanggan dan klien mereka. Profesi dan posisi baru pun bermunculan, seperti social media specialist, social media marketing dan sebagainya.

“Melihat peluang tersebut, kami dari PT Generasi Digital Indonesia (GDI Lab) mengeluarkan produk analitik baru, yaitu GDI Analytics yang khusus menganalisa platform media sosial Twitter, Facebook dan Instagram,” jelas Billy Boen, Co-Founder GDILab di Theater Cinemaxx, Jumat (18/3).

Perlu diketahui, GDI Lab adalah perusahaan startup bidang TI yang didirikan pada Desember 2013. Lewat mesin pintar yang dikembangkan sendiri bernama Genesis (generate analysis), GDI Lab bisa menangkap dan memonitor unstructured data dari media sosial yang kemudian diolah menjadi digital market insight untuk kepentingan strategi bisnis brand atau perusahaan.

Selain Billy Boen, pendiri GDI Lab terdiri dari Yopie Suryadi, Jefri Dinomo dan Masas Dani. Guna melengkapi kinerja dan jangkauan yang lebih global, GDI Lab menggandeng salah satu perusahaan analitik terbaik dari Thailand, yaitu Digital Associates Co. Ltd sejak setahun yang lalu. Begitu juga kerjasama dengan Twitter yang menjadi bagian dari ekosistem.

Produk GDI Analytics dikembangkan dalam bentuk dashboard, lewat fitur-fitur yang dibuat, Billy menjanjikan pengguna dapat mengetahui apa yang dibicarakan publik terhadap suatu brand. Mengukur performa buzzer, siapa saja yang terlibat dalam kampanye marketing beserta lokasinya.

“Lewat produk ini pula, pengguna dapat dibantu dengan waktu yang paling efektif dalam menjangkau pelanggan,” lanjut Billy.

Untuk tarifnya sendiri, setiap pengguna cukup mengeluarkan dana Rp 500 ribu setiap bulannya. Namun jika pengguna tidak sempat untuk menggunakan dashboard sendiri dan perlu data seperti weekly atau monthly report, tarif yang dipatok bisa mencapai Rp10 juta. Sedangan untuk layanan sampai pada presentasi report kepada pelanggan, tarifnya bisa mencapai Rp30 juta lebih.

GDI Analytics diklaim Billy sebagai perpaduan dari dua produk yang dikembangkan sebelumnya, yaitu Polaris dan Iris. Kehidran GDI Analytics dinilai semakin menguatkan dan mengukuhkan posisi GDILab sebagai perusahaan Indonesia pertama yang menyediakan perangkat lunak alat analitik terbuka sebagai bagian dari Software as Service . (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)