GE Dukung Target Pemerintah Tambah Daya Listrik

Keinginan Presiden Jokowi untuk menambah daya listrik Indonesia hingga sebesar 35 GW disambut baik oleh PT General Electric Operations Indonesia. Korporasi produsen alat-alat elektronik itu menyampaikan dukungannya melalui workshop bertema “The Role of Large, High efficiency Combined Cycle Gas Turbine(CCGT) in Enabling Success of Indonesia's 35 GW Program.” Acara tersebut merupakan kerja sama GE dengan bagian Komersial Kedutaan Amerika Serikat dan dihadiri oleh pemerintah, perusahaan-perusahaan produsen listrik swasta, dan pihak-pihak terkait lainnya.

George Djohan, Power Generation Product, Country Leader, GE Power & Water George Djohan, Power Generation Product, Country Leader, GE Power & Water

Sesuai dengan tema acaranya, GE memperkenalkan sebuah produk berupa turbin gas baru yang diklaim jauh lebih ekonomis dibandingkan turbin-turbin gas lama. “Dengan turbin gas ini, produksi listrik akan jadi lebih efisien hingga 61%,” ujar George Djohan, Power Generation Products, Country Leader, GE Power & Water. Tingkat efisiensi yang membaik ini, menurut George, bisa membuat biaya konversi dari bahan bakar menjadi listrik menjadi lebih rendah dan pada akhirnya memiliki potensi untuk menurunkan harga listrik.

“Banyak teknologi yang terdapat dalam turbin ini. Kondisi pembakaran di dalam turbin ini sangat tinggi, sehingga proses pembakaran menjadi lebih sempurna oleh karena itu pemanfaatan bahan bakar menjadi lebih baik,” tambahnya lagi.

Menurut George, dampak dari listrik yang lebih murah akan berefek pada banyak hal dan menyehatkan industri dan bisnis di Indonesia, “Nantinya ini akan membantu banyak pihak termasuk masyarakat dan PLN. Lalu dengan biaya listrik yang lebih murah, sebuah perusahaan industri bisa bersaing dengan lebih baik tidak hanya di pasar domestik tapi juga di pasar luar. Jika, sebagai contoh, listrik kita lebih murah dari Vietnam, kan tentunya investor asing pun lebih tertarik untuk berbisnis di sini,” George menjelaskan.

Target mencapai 35 GW daya listrik dalam 5 tahun ini mengindikasikan bahwa pembangunan pembangkit tenaga listrik akan semakin gencar dan tidak terbatas pada bahan bakar gas saja, tapi sumber daya lain juga akan tetap digunakan. Selain itu, pembangunan satu pembangkit tenaga listrik dengan daya 10 GW saja bisa menghabiskan hingga US$700,000 per MW. Ditambah lagi yang membangun pembangkit listrik tidak hanya pemerintah namun juga perusahaan-perusahaan produsen listrik swasta.

Menurut Agung Wicaksono, Pelaksana Program Ketenagalistrikan, berdasarkan hasil rapat UP3KN (Unit Pelaksanaan Program Pembangunan Ketenagalistrikan) dengan Wapres, pembagian porsi dalam pembangunan 35 GW daya listrik ini rencananya dibagi untuk PLN dan IPP (Independent Power Producer atau produsen listrik swasta). Untuk PLN, rencana pembangunannya adalah 5 GW dan sisa 30 GW diserahkan pada IPP untuk dibangun.

Banyaknya rencana pembangunan pembangkit tenaga listrik yang massive ini nampaknya dinilai sebagai hal yang baik oleh George. “Pembangunan-pembangunan ini membutuhkan jumlah orang yang tidak sedikit, jadi akan banyak yang terlibat. Begitu juga dengan maintenance nya nanti,” ujar George mengindikasikan potensi lapangan pekerjaan baru dari sektor ini. Dia juga menekankan bahwa meskipun turbinnya didatangkan dari Amerika, namun perangkat-perangkat pendukung performanya akan diproduksi di Indonesia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)