Gebrakan Futuready di Ceruk Bisnis Insurtech

Sendy, CEO Futuready, perusahaan insurance technology (insurtech)

Peluang bisnis besar dari mendigitalisasi pola bisnis tradisional masih terbuka lebar di Indonesia. Salah satunya di ceruk bisnis asuransi. Ini seperti yang dilakukan Futuready yang berbisnis sebagai broker asuransi berbasis digital. Tak salah bila menyebut startup yang secara resmi mulai beroperasi pada April 2016 ini sebagai salah satu perusahaan insurance technology (insurtech) angkatan pertama di Indonesia. Yang cukup menarik, meski baru tiga tahun, 58 perusahaan asuransi sudah digandeng sebagai partner dan berhasil mengumpulkan premi miliaran per tahun.

Kejelian Futuready diawali ketika pertama kali mengurus perizinan. Pada umumnya kesulitan perusahaan keuangan digital ialah pada saat mencari izin operasi. Futuready sadar akan hal itu dan punya kiat tersendiri, yakni membereskan urusan izin dari Otoritas Jasa Keuangan dulu, baru kemudian meluncurkan produk dan branding. Sebelum beroperasi, “Kami sudah mendapat izin resmi OJK, beroperasi sebagai broker asuransi dengan izin No. KEP-518/NB-1/2015 pada Juni 2015,” kata Sendy, CEO Futuready.

Selain itu, juga lebih dulu membereskan dari sisi tantangan kerahasiaan data. Banyak calon nasabah yang enggan mengisi data secara online karena takut data pribadi mereka beredar ke mana-mana. Aspek ini yang dikembangkan dulu sehingga data pribadi calon nasabah aman karena sudah dilindungi secara teknologi --sehingga calon nasabah bisa bebas melihat dan membandingkan premi dan pertanggungan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan asuransi yang listing di Futuready. Tantangan lain, tentu saja, mencari perusahaan asuransi yang mau digandeng dan mau menjadikan Futuready sebagai broker/agennya melalui situsnya.

Sendy menjelaskan, pihaknya berbeda dengan marketplace umumnya yang sekadar pasang toko. Perusahaan asuransi yang ingin listing di Futuready butuh waktu enam bulan. “Sebab, perusahaan asuransi itu harus menyamakan sistem, bahasa asuransinya, sampai proses pembuatan polis. Dari sisi santunan, coverage pertanggungan, uang penggantian, dan lain-lain, istilah-istilah ini harus disamakan dulu oleh Futuready,” katanya.

Diakui Sendy, tahun pertama (2017) merupakan tahun perjuangan Futuready dalam membangun sistem. Namun memasuki 2018, pihaknya mulai menemukan ceruk dan tiap bulan tumbuh 600 persen dari sisi jumlah nasabah.

Dalam mengembangkan pasar, Futuready membagi bisnisnya menjadi dua segmen, yaitu B2C dan B2B2C. Untuk segmen B2C, ada empat produk asuransi yang ditawarkan, yakni perjalanan, kendaraan bermotor, jiwa, dan kesehatan. Untuk segmen B2B2C, ada asuransi kredit, e-commerce, dan grup. “Apa yang terlihat di website Futuready adalah produk untuk B2C saja,” ujarnya.

Untuk asuransi jiwa, kata Sendy, “Yang kami tawarkan bukan unit link karena kami tidak akan menawarkan produk yang rumit, cukup yang sederhana.” Pihaknya menawarkan asuransi murni yang 25-40 persen lebih murah daripada produk unit link tetapi dengan pertanggungan yang sama.

Di pasar B2B2C, pihaknya menggandeng partner yang menjadi perantara penjualan produk-produk di Futuready. Salah satunya, VFS Global, perusahaan yang berbasis di Dubai, spesialis jasa alih daya dan teknologi untuk pemerintah dan misi diplomatik di seluruh dunia, termasuk penerbitan visa dan paspor untuk pemerintah kliennya.

Di website VFS Global-Indonesia, bisa ditemui fitur Futuready yang menawarkan paket asuransi perjalanan sesuai dengan negara yang dituju. “Customer VFS yang membeli asuransi itu, bukan VFS-nya, maka kami menyebutnya segmen B2B2C,” ujar Sendy seraya menyebutkan, pihaknya sudah punya sembilan mitra perusahaan dalam skema bisnis B2B2C.

Dari sisi target pasar, uniknya, Futuready tidak fokus menggarap milenial dan lebih memilih masuk ke semua segmen yang butuh layanan asuransi. “Nasabah kami banyak juga yang usianya 40 tahunan, membeli asuransi perjalanan untuk satu tahun mengingat dia kerap melakukan perjalanan dinas,” tutur Sendy. Banyak nasabah yang membeli polis di situsnya karena menilainya lebih transparan. Sejak awal nasabah membeli premi, semua serba transparan. “Data polis sudah bisa diketahui bahkan sejak di depan, setelah nasabah tertarik membeli premi,” katanya. Ia menjelaskan, pemegang 80 persen saham Futuready adalah Aegon Group, Belanda, dan sisanya lokal.

Nah, untuk mengenalkan dan mempromosikan jasa bisnisnya, Sendy membuka banyak booth di mal-mal Jakarta, termasuk Mal Artha Gading. “Ini bukan hanya upaya promosi, namun juga KYC (know your customer) point, khusus untuk nasabah asuransi jiwa yang nilainya besar,” katanya. Pihaknya juga memasang billboard di tempat-tempat strategis dan menjalankan digital marketing.

Kini, kata Sendy, rata-rata website Futuready dikunjungi 300 ribu orang per bulan. Untuk data transaksi, hingga akhir 2017 jumlah premi asuransi kendaraan bermotor (mobil) Rp 1,8 miliar, dan premi asuransi perjalanan terkumpul Rp 2,8 miliar. Sayang, untuk angka tahun 2018 ia belum bersedia menginformasikan.

Yang pasti, pada 2018 ada 400-an klaim asuransi perjalanan dan 20 klaim asuransi mobil. Sendy yakin, ke depan usaha rintisan yang ia pimpin akan tumbuh cepat seiring dengan makin berkembangnya bisnis insurtech di Indonesia dan makin tingginya tingkat melek digital konsumen. ()

Sudarmadi/Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)