HP Perkaya Converged Store Tier 1 untuk Midmarket

Dalam suatu perusahaan, kompleksitas arsitektur penyimpanan dan pusat data ternyata bisa menyebabkan pemborosan hingga 70% dari anggaran. Pemborosan tersebut berasal dari anggaran untuk kapasitas yang sebetulnya bukan untuk menyimpan data. Sementara itu administrator TI berupaya mengelola puluhan arsitektur storage yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan terjadinya infrastruktur yang berdiri sendiri dan beragam, dan akhirnya mengharuskan perusahaan memilih antara fitur dan kemampuan belanja TI.

searah jarum jam: Hengkie Kastono dan Katharine Wahyuri

Paparan di atas merupakan hasil riset dari Evaluator Group yang menemukan bahwa perusahaan pada umumnya hanya menggunakan 30% kapasitas fisik disk untuk aplikasi mereka. Untuk perusahaan yang sedang tumbuh dan pertumbuhan data terus meningkat, penyimpanan data atau storage tradisional kerap menghabiskan waktu untuk mengaturnya. Belum lagi di masa sibuk seperti penyusunan laporan akhir tahun, tenaga pun terkuras ketika harus membongkar data yang tidak sedikit, melakukan back-up, hingga kerumitan teknis saat memindahkan platform satu ke platform yang lain.

“Inilah yang menjadi dasar pemikiran dari HP untuk melakukan converged di storage,” papar Hengkie Kastono, Direktur HP Enterprise Group untuk HP Indonesia. Jelang peluncuran HP 3PAR StoreServ Storage dan HP StoreOnce Backup besok, Kamis (17/1), Hengkie mengungkapkan rasa bangganya atas masuknya kedua produk inovasi tersebut. “Saat kompetitor struggling dengan pendekatan tradisional, kita sudah ke arah converged. Gartner pun mengakui ini adalah suatu vision yang belum pernah muncul.”

Kepada SWA Online, Hengkie menuturkan, “kalau kompetitor kita itu tier-1 sendiri, kemudian mengatur aplikasi juga sendiri, nah itu manage-nya berbeda-beda, pusing kan? Sekarang customer tidak perlu pusing-pusing dengan pengumuman ini.” Ia pun optimis dengan pasar enterprise untuk converged storage di Indonesia dan berkontribusi merengkuh peluang pasar external disk US$ 11 miliar. Chief Information Officer yang ditemui Hengkie pun mengungkapkan, mereka ingin teknologi yang sederhana karena mengatur barang terlalu banyak dengan hasil maksimal.

HP menamakan konsep inovasi kemudahan menyatukan beragam infrastruktur ke dalam satu arsitektur semacam ini sebagai polymorphic simplicity. Konsep inilah yang memungkinkan arsitektur sistem tunggap dapat berfungsi dalam beberapa bentuk dan ukuran dengan tetap menjaga ketersediaan data untuk aplikasi, file, dan database. Polymorphic simplicity juga mendukung optimalisasi penggunaak hard disk drives (HDD) dan solid state drive (SSD) yang semakin marak di pasaran. “Polymorphic bisa digunakan dari yang paling low sampai high-end karena arsitektur infrastrukturnya yang sama,” Katharine Wahyuri, Manajer Produk Divisi Storage HP Indonesia, menjelaskan.

Meski mengklaim inovasi ini sebagai platform storage baru yang paling signifikan selama lebih dari satu dekade, Hengkie mengakui ia menghadapi tantangan untuk mengkampanyekan converged storage ke tingkat daerah. “kalau perusahaan-perusahaan yang memang pusatnya di sini cabangnya di daerah, nggak masalah karena keputusannya dari Jakarta. Tapi untuk mereka-mereka di daerah itu kadang informasinya tidak banyak terdengar di sana. Jadi kita harus roadshow ke Surabaya, Medan, Makassar, karena ini sekali lagi sasarannya adalah mid-market, tidak terpusat di Jakarta.”

Untuk mengoptimalkan HP 3PAR StoreServ dan HP StoreOnce Storage, HP juga meresmikan HP Storage Management Service. Layanan tersebut membantu klien memaksimalkan investasi dengan menciptakan lingkungan yang tepat bagi mereka. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)