ICE House: Bisnis Mobile Apps Kian Menjanjikan

Orang semakin sering menggunakan ponsel pintar (smartphone) miliknya ketimbang PC. Mulai dari mengambil gambar, mendengarkan musik, bermain game, hingga belanja online. Mulai dari peralatan rumah tangga hingga tiket pesawat dan voucher hotel, semuanya bisa dibeli dengan mudah lewat smartphone. Inilah yang membuat CEO ICE House Indonesia, Redmer Schukken yakin bisnis mobile apps akan tumbuh pesat pada tahun ini.

“Jumlah pengguna PC lebih sedikit, seharusnya perusahaan mengembangkan mobile apps. Setahun lalu, di Amerika ada perdebatan apakah lebih baik menggunakan mobile web atau apps, karena tingginya pemakaian smartphone, yaitu 80%, semua setuju untuk memakai apps baru sisanya web,” ujarnya.

Menurutnya, perusahaan yang telah memiliki website sendiri harus segera melengkapinya dengan mobile apps. Itu bisa menjadi bagian dari strategi untuk memenangi persaingan di era pasar bebas seperti sekarang. Sampai saat ini, klien ICE House sudah mencapai 30-40 perusahaan dengan masing-masing perusahaan dibuatkan satu mobile apps. “Jadi, sekarang untuk perusahaan di Indonesia, kalau Anda tidak punya mobile strategy, Anda akan mendapat masalah,” katanya.

Schukken menjelaskan, perusahaan juga banyak menangani startup di Amerika Serikat. Untuk di Indonesia, Ice House juga mengembangkan ICE House Platform, terutama untuk majalah. Saat ini, majalah cetak memiliki keunggulan ukuran life size sehingga enak untuk dibaca. Namun, majalah yang versi elektronik pun punya kelebihan dan bisa dibuat dalam bentuk rich media, yang didalamkan bisa dimasukkan video, game, dan lain-lain.

Ilustrasi mobile apps Ilustrasi mobile apps (Foto: IST)

“Platform yang kami kembangkan unik. Apps ini bisa menscan isi majalah, jika ada iklan produk yang kita suka kemudian di-scan dan masuk langsung ke toko online yang menjual produk tersebut. Apps ini bahkan bisa mengeluarkan obyek 3d-nya juga. Jadi seolah-olah keluar dan hidup,” katanya.

Untuk menggarap aplikasi model seperti ini, lanjut dia, perseroan bisanya bekerja sama dengan beberapa vendor. Sayangnya, masyarakat di Indonesia belum banyak yang tertarik untuk berbelanja online. Oleh karena itu, perusahaan menyiasatinya dengan mengembangkan Bluetooth Beacon yang saat ini sudah digunakan di Pacific Place.

“Ini berguna untuk macro location. Berbeda dengan GPS yang berfungsi di luar untuk mencari tempat dengan jarak 30-50 meter. Kekurangan GPS, sinyal langsung hilang begitu masuk mall. Makanya, di dalam mall, kita menggunakan Bluetooth Beacon. Dengan begitu, pengunjung bisa langsung mengetahui produk yang dicarinya berada di ruangan sebelah mana di lantai tersebut,” katanya.

Pacific Place menjadi mal pertama di Asia Pasifik yang mengintegrasikan teknologi Bluetooth Beacon. Teknologinya sudah tersedia di setiap tenant di semua lantai. Konsumen yang menggunakan smartphone di dalam mal akan semakin dimanjakan dengan hadirnya teknologi tersebut. Bagi Pacific Place sendiri, teknologi tersebut membantu memantau pergerakan pengunjung di seluruh sudut mal.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)