ICT Diperlukan untuk Membangun Smart City

Berangkat dari prediksi pertumbuhan penduduk kota Jakarta yang akan mendekati angka 70% hingga tahun 2025 nanti, sebuah gagasan pengelolaan kota yang lebih terampil diperlukan, yakni Smart City. Hal ini diperlukan sebagai solusi mengatasi social gap yang terjadi di masyarakat, dimana semakin banyak jumlah penduduk, semakin sempit pula kebutuhan lahan dan ruang geraknya.

smart city

Bambang Heru Tjahyono, Direktorat Jenderal Aplikasi dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informasi RI, mendefinisikan Smart City sebagai kota yang berbasis IT. Tujuannya antara lain dapat menjadi sarana untuk mengetahui permasalahan kota, seperti prediksi titik kemacetan, mitigasi bencana, serta pengembangan tata kelola kota, baik itu dari lini residensial, perkantoran, maupun taman kota.

Karena untuk menjalankan sistem Smart City akan banyak bersinggungan dengan teknologi, diperlukan sumber daya manusia yang sudah terliterasi IT (melek teknologi), “ jelas Bambang. Pengurangan gap digital ini bisa sangat bermanfaat kala Smart City sudah diimplementasikan secara utuh. “Masalahnya untuk mengetahui titik kemacetan, masyarakat juga perlu mengerti akses menuju berita tersebut secara fleksibel,” tambahnya.

Sementara itu, Akademisi ITB, Prof. Dr. Ir. Suhono H. Supangkat, merekomendasikan satu alternatif untuk menunjang sistem Smart City tersebut, di mana konsep tersebut diberi nama “Ganesha Smart City”. Dalam konsepnya ada tiga point penting yang bisa dihadirkan, yakni dapat menginvestigasi masalah – masalah krusial di masyarakat, dapat mengembangkan sistem smart yang cocok berdasarkan model dan platformnya, serta dapat mengsingkronisasikan antara pengembangan platform dengan ekosistem kotanya. Untuk mendukung konsep tersebut ia juga sediakan beberapa aplikasi penunjang untuk berbagai fungsi yakni observasi, dan control.

Konsep Smart City juga akan memposisikan Jepang sebagai role model dalam penerapan dan pengembangannya. Hal ini berakar dari segi efektivitas sistem tata kota di beberapa kota di Jepang, seperti Tokyo, Yokohama, dan Osaka, dimana hampir setiap jawaban kebutuhan tata kota Jakarta terletak disana, Misalnya saja konsep percontohan kendaraan berbahan bakar baterai yang ramah lingkungan, sangat mungkin diterapkan di Jakarta untuk menekan tingginya angka polusi udara.

Masih seputar Jepang, Indonesia juga akan mencontoh konsep 'Katsuragi City' yang begitu sistematis bertumpu pada aplikasi manajemen data. Sebagai contoh, untuk memetakan mana area industri,  bisnis, serta residence, diperlukan suatu pola pencitraan yang akurat berbasis ICT (Information and Communication Technology), sehingga bisa lebih terpusat.

Permasalahan yang ada di Jepang tentunya berbeda dengan permasalahan yang ada di Indonesia, di mana Jepang lebih banyak berhadapan dengan bencana yang datang silih berganti,” ujar Yasuhiro Kawai, Senior Researcher Nikkei BP Cleantech Institute of Japan. Namun terlepas dari hal tersebut, Jepang mampu memprediksi kapan akan terjadinya bencana. “Kami juga menciptakan aplikasi weather news yang mampu memberikan atensi bahwa akan terjadi bencana, misalnya “Guerilla Rainstorm," tambahnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)