IFSoc: Indonesia Harus Mempersiapkan Kebijakan IPO Startup

Indonesia Fintech Society (IFSoc) menyambut langkah startup di Indonesia untuk melakukan IPO (initial public offering). Hal ini terkait kebutuhan pendanaan startup yang tidak bisa terus-menerus berasal dari investor. "Terjadinya penerimaan masyarakat terkait digital economy berdampak penetrasi perusahaan teknologi yang semakin besar, dan kemudian perusahaan teknologi tersebut bisa exit. Nah, exit bisa dengan cara menjual kepada investor lain atau dengan IPO,” ujar Ketua Steering Committee IFSOc, Mirza Adityaswara, (9/6/2021).

Ia juga memaparkan, perusahaan teknologi telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat, sehingga harus ada penunjang bagi perusahaan teknologi untuk berinovasi. Terlebih, ia menyebut, adanya kebutuhan mempercepat transformasi dari old economy menjadi new economy, yaitu memanfaatkan internet.

Mirza menegaskan jangan sampai new economy melantai di luar negeri. Apabila hal itu terjadi, maka investor dalam negeri terutama ritel investor tidak bisa mengakses sahamnya. Untuk itu ia meminta, Indonesia mempersiapkan kebijakan dengan tepat dalam mendukung IPO perusahaan teknologi agar tidak kehilangan peluang.  

“Indonesia memiliki potensi besar untuk mencetak unicorn baru. Terdapat 70 startup dengan status centaur di ASEAN, dimana 38% atau 27 startup berasal dari Indonesia,” paparnya.  

Steering Committee IFSoc, Rudiantara, menyebutkan bahwa IFSOc mendukung langkah BEI untuk mengakomodasi perusahaan teknologi melakukan IPO. “IFSoc mendukung menyesuaikan regulasi agar lebih banyak lagi perusahaan teknologi khususnya fintech agar bisa IPO di Indonesia, bisa melalui papan pengembangan,” tuturnya. Beberapa perusahaan teknologi Asia yang udah listing di bursa adalah SEA, Alibaba, dan Tencent.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:
Ifsoc Startup

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)