Implementasi Blockchain Siap Disrupsi Industri

Rachmat Gunawan, Direktur CTI Group. (foto: Jeihan Kahfi/SWA)

Blockchain sebagai teknologi mutakhir diyakini berpotensi mendisrupsi seluruh sektor industri berkat karakteristiknya yang terdistribusi, aman, dan tidak dapat diubah. Ini merupakan solusi teknologi yang menghubungkan data antar pihak-pihak tanpa bergantung kepada server terpusat atau terdesentralisasi.

Menurut Rachmat Gunawan, Direktur CTI Group, selama ini transaksi yang dilakukan oleh dua belah pihak memerlukan perantara dari pihak ketiga yang bertindak sebagai trusted party, seperti bank.

“Dengan adanya teknologi blockchain, transaksi dapat langsung dilakukan antar kedua belah pihak tanpa perantara yang bisa menjadi single point of failure. Itu hanya satu pengaplikasian blockchain di industri keuangan dan ke depannya akan lebih luas ke berbagai industri seperti kesehatan, supply chain management, migas, pemerintahan, dan lainnya,” ujar Rachmat saat konferensi pers CTI IT Infrastructure Summit 2018 di Jakarta, (20/2/2018).

Teknologi blockchain layaknya sebuah buku besar yang terdistribusi dan terbuka yang dapat merekam transaksi antara dua pihak secara efisien dan dengan cara yang dapat diverifikasi dan permanen. Blockchain yang merupakan teknologi di balik Bitcoin, memiliki sejumlah karakteristik yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, bahkan diprediksi mampu mendisrupsi berbagai industri.

Karakteristik tersebut di antaranya transparan, terdesentralisasi berkat tidak adanya pihak ketiga, tidak dapat diubah (immutable), bebas dari risiko downtime (high availability), aman, mudah, cepat, dan murah.

Selain keuangan, blockchain juga sudah diterapkan di industri kesehatan, seperti pada tiga perusahaan kesehatan di Amerika Serikat. Mereka menggunakan blockchain untuk menyimpan catatan medis, memonitor pemberian resep obat, mendesain rencana pengobatan yang lebih terperinci, serta menciptakan pasar penelitian medis yang lebih terbuka untuk membantu proses penyembuhan penyakit kronis. Dengan kehadiran blockhain, pasien, dokter, dan pihak berwenang lainnya dapat mengakses data pasien lebih cepat dan aman sehingga diagnosis dapat segera dilakukan dan lebih akurat.

“Blockchain dan teknologi distributed ledger berada di persimpangan berbagai sistem tambahan, dan jika ekosistem tersebut dibangun dengan tepat dapat mentransformasi cara perusahaan mencapai goal dan objektif bisnis ke depan. Namun sebagai langkah awal dalam inisiatif blockchain, perusahaan harus menentukan apakah teknologi tersebut tepat menjawab masalah dan objektif bisnis yang ingin dicapai,” ujar Adam Robyak, Field CTO for Central Region Dell EMC.

Sebagai tambahan informasi, PT Computrade Technology International (CTI Group), penyedia solusi infrastruktur TI, akan mengadakan kembali seminar dan pameran CTI IT Infrastructure Summit, pada 7 Maret 2018 di Hotel Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan, dengan topik utama blockchain. CTI IT Infrastructure Summit akan menghadirkan berbagai solusi TI terkini dan sharing best practice tidak hanya bagi profesional di bidang TI, melainkan juga bidang pemasaran, keuangan, dan lainnya dari cross-industry di Indonesia.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)