Ini Manfaat Adopsi Teknologi di e-ASEAN

Kesenjangan digital di regional ASEAN adalah tantangan terbesar menjelang dimulainya era pasar bebas, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Negara dengan tingkat perkembangan teknologi informasi dan infrastruktur yang mapan berpeluang menciptakan produk dan inovasi baru dengan biaya yang lebih efisien. Namun, pengembangan teknologi digital terintegrasi di e-ASEAN masih menjadi tantangan tersendiri.

Konsep e-ASEAN sangat bermanfaat untuk 12 sektor industri prioritas MEA, yakni perawatan kesehatan, turisme, jasa logistik, jasa angkutan udara, produk berbasis agro, barang-barang elektronik, perikanan, produk berbasis karet, tekstil dan pakaian, otomotif, dan produk berbasis kayu.

“Diantara kedua belas sektor, konsep dari e-ASEAN sangatlah mempengaruhi semua sektor prioritas. Misalnya di perawatan kesehatan, kita bisa dapat layanan lebih mudah. Di sektor agribisnis, teknologi memudahkan petani melihat data cuaca, kesuburan tanah, kapan waktu tanam dan panen,” kata Alison Kennedy, Managing Director, Accenture Strategy ASEAN.

Konsep teknologi ini juga berdampak bagus pada sektor pendidikan. Masyarakat di daerah bisa mengakses pendidikan di luar negeri lewat internet. Penguatan kemampuan individu akan lebih maksimal jika bisa kuliah di Harvard misalnya. Dengan catatan, pemerintah Indonesia telah lebih dulu melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Yang tak kalah penting, teknologi juga akan menguatkan jutaan pelaku usaha UKM di Tanah Air. Akses terhadap pendanaan, teknologi, pemasaran, termasuk analisis data yang berbasis cloud tak akan lagi menjadi masalah. Inilah pentingnya teknologi digital.“Konsep di MEA, pooling UKM agar bisa memanfaatkan teknologi yang ada. Namun, regulasi perdagangan yang ada tidak melihat faktor elektronik, masih ke perdagangan yang bersifat fisik,” katanya.

Alison Kennedy, Managing Director, Accenture Strategy ASEAN Alison Kennedy, Managing Director, Accenture Strategy ASEAN

Penggunaan teknologi digital akan sangat pesat. Lewat internet, perusahaan bisa melakukan analisis data untuk membuka pasar baru. Potensi transaksi via internet pada 2012 lalu hanya US$20 miliar, bisa naik berkali-kali lipat menjadi US$500 miliar pada 2020 mendatang. Dengan integrasi teknologi digital dalam e-ASEAN, daya saing pengusaha akan meningkat.

“Hanya saja, masalah data, termasuk privacy, pengelolaan, dan security masih menjadi tantangan tersendiri di Indonesia. Jika e-ASEAN tidak berjalan di Indonesia, semua juga tidak jalan. Indonesia masih yang terkuat dari segi pasar dan sumber daya alamnya,” katanya.

Adopsi teknologi ini juga akan membantu usaha pemerintah mengurangi angka pengangguran, meningkatkan jumlah wirausahawan baru untuk mempercepat perluasan kesempatan kerja, termasuk meningkatkan perhatian pada sektor informal.

"Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial di dunia. Tidak hanya itu, Indonesia membuka peluang bagi para investor untuk menginvestasikan bisnis mereka di sini. Sebegitu besar dan potensialnya, Indonesia sangat menentukan keberhasilan ASEAN dalam melakukan integrasi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015," ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)