Inovasi demi Buah Hati

Abraham Auzan, Chief Product Officer Sehati TeleCTG

Tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia (setiap tahun sekitar 20 ribu perempuan meninggal akibat komplikasi melahirkan) telah membuat sekelompok inovator bertindak cepat. Untuk membantu menekan angka itu, sekaligus menekan angka stunting pada anak, mereka menciptakan TeleCTG, alat CTG portabel.

Cardiotocography (CTG) adalah alat untuk mengecek keadaan janin, detak jantung bayi, pergerakan bayi, serta kontraksi rahim. Pendek kata, ini adalah alat untuk mendiagnosis apa yang terjadi dalam kandungan.

Melihat fungsinya itu, keberadaan CTG sangatlah krusial. Sayang, disparitas layanan kesehatan di Tanah Air membuat tak semua klinik persalinan dan rumah sakit selalu memiliki alat ini. Jangan heran, tingginya angka kematian ibu dan anak ditengarai lantaran faktor 3T: telat didiagnosis, telat dirujuk, dan telat mendapatkan pelayanan. Karena terlambat didiagnosis lewat CTG, ibu hamil pun telat dirujuk untuk mendapat layanan memadai.

TeleCTG memungkinkan bidan memonitor kesejahteraan janin dan berkonsultasi dengan dokter dari jarak jauh. Bentuknya yang ringkas dan portabel memungkinkan alat ini digunakan di daerah terpencil sekalipun. “TeleCTG yang kami buat adalah produk inovasi yang menyimplifikasi fungsi-fungsi CTG konvensional, bukan mengubah fungsinya,” kata Abraham Auzan, Chief Product Officer Sehati TeleCTG, produsen alat ini.

Sehati TeleCTG didirikan Abraham bersama rekan-rekannya: dr. Ari Waluyo, Sp.OG, Anda Sapardan, Rizki Rahmat, dan Endang Rasio. Awalnya, ide ini datang dari Ari dan Anda. Sebagai orang-orang yang berkecimpung di dunia kesehatan, pasangan suami-istri itu melihat masih ada masalah yang dihadapi ibu hamil, terutama di wilayah terpencil. Awal 2018, Sehati TeleCTG berkibar.

Untuk membuat produk yang inovatif dan diterima pasar, mereka melakukan riset. Maklum, Indonesia adalah negeri kepulauan dengan kondisi pembangunan yang tak merata. “Misalnya, kami harus membuat produk ini menggunakan baterai yang chargeable, yang bisa bertahan hingga dua hari karena banyak daerah yang listriknya hanya menyala 3-6 jam,” kata Abraham.

Kemudian, karena mengutamakan lokasi yang sulit dijangkau, sejak awal mereka berupaya mendesain produk CTG yang portabel, hanya berukuran 5 cm, tetapi dengan kualitas diagnosis yang bagus, yang bisa dicetak (print), agar bisa dikirim ke dokter yang akan menganalisisnya. “Kami memiliki fungsi untuk mendigitalisasi hasilnya, kemudian dikirim ke dokter kandungan,” dia menjelaskan. Untuk mendampingi alat tersebut, mereka juga membuat aplikasi Sehati yang digunakan para bidan setelah mengunduhnya di Playstore.

Tak lama setelah meluncur, produk ini mendapat sambutan luas. Kini produk TeleCTG sudah beroperasi di delapan kabupaten, yaitu Mentawai, Indramayu, Pandeglang, Bangkalan, Bondowoso, Kupang, Sumba, dan Lombok Timur. Setelah itu, rencananya akan bergerak ke Bumi Serambi Mekkah.

Sejak Desember 2018, sudah ada 100 unit (terjual). Juli 2019 akan mass production yang pertama, memproduksi 1.000 unit. Targetnya, sampai akhir 2019 akan ada 3.000 unit,” ungkap Abraham yang alumni Jurusan Teknologi Informasi, Monash University ini. Komponen produk ini, tambahnya, mayoritas (70%) berasal dari Indonesia, dibuat di Cikarang. Hanya beberapa komponen yang diimpor dari negara lain, karena belum diproduksi di Tanah Air.

Melani Lalang, bidan di Puskesmas Oesao, Kupang, merasa sangat terbantu dengan adanya alat yang mobile ini. “Karena, dengan alat ini kami dapat memantau kesejahteraan bayi dan kondisi ibu hamil. Hasil dari CTG langsung dianalisis dokter kandungan di rumah sakit sehingga kami bisa tahu intervensi apa yang harus diberikan sesuai dengan kondisi pasien dan janin,” katanya.

Bukan hanya itu kegunaannya. Karena didampingi aplikasi Sehati, seorang bidan akan mengetahui detail kondisi ibu hamil di wilayah kerjanya. “Aplikasi ini menjadi (semacam) buku kesehatan ibu dan anak (KIA) elektronik yang sudah didigitalisasikan. Di mana pun kami berada: di rumah, di kantor, lagi jalan-jalan di mal, maka hanya dengan satu kali klik, datanya sudah bisa kami peroleh,” Melani menambahkan.

Besarnya sambutan dari pengguna tak ayal mengundang apresiasi pihak lain. Terbukti, beberapa waktu lalu, Sehati TeleCTG ditunjuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menjadi salah satu wakil Indonesia di festival South by Southwest (SXSW) di Austin, Texas, Amerika Serikat. Di sana, Abraham mengungkapkan, mereka mendapat respons positif. Bahkan, sudah mendapatkan penawaran pertemuan lanjutan dengan salah satu NGO asal AS yang fokusnya kesehatan di Afrika, selain tawaran sebuah perusahaan medical record yang memungkinkan Sehati TeleCTG masuk ke dalam integrated system-nya.

Abraham mengakui peluang bagi bisnis rintisannya bersama rekan-rekannya terbuka lebar. Dari segi harga, katanya, mereka bisa memberikan harga yang lebih murah dengan produk yang sama. “Alat yang sama buatan luar negeri dihargai Rp 100 juta-150 juta. Harga kami seperlimanya. Jika dihitung, dengan alat kami, rumah sakit harusnya bisa memiliki alat ini lebih banyak,” katanya penuh antusias.

Tentu saja, masih ditunggu kelanjutan cerita perjalanan Abraham dkk. dengan alat portabelnya itu. Namun, sejauh ini setidaknya para bidan di pelosok seperti Melani sudah merasakan manfaatnya. Dan, bila program SDGs (sustainable development goals) kian digalakkan, bukan mustahil alat ini makin laris mengingat dari ke-17 program tersebut, salah satunya menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia (good health and well being). (*)

Teguh S. Pambudi & Anastasia A. Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)