Jagoan-Jagoan yang Meramaikan Bisnis Point of Sale 

Ahmad Gadi, pendiri & CEO Pawoon
Ahmad Gadi, pendiri & CEO Pawoon

Teknologi informasi memunculkan sistem yang memudahkan operasional usaha. Salah satunya dikenal dengan nama Point of Sale (POS), aplikasi kasir atau cash register usaha yang dapat membantu pebisnis menjalankan usaha sehingga lebih mudah.

Aplikasi kasir ini dapat digunakan di kantor, lokasi usaha, merchant, dan tempat-tempat lain yang memungkinkan adanya aktivitas jual-beli. Dengan menggunakan jaringan teknologi internet, aplikasi kasir ini dapat digunakan di toko online dan gerai ritel fisik untuk mencatat seluruh history transaksi atau penjualan yang dilakukan sebelumnya dan jumlah ketersediaan stok barang di toko.

Saat ini, pemain bisnis POS semakin banyak karena potensi pasarnya masih terbuka lebar. Setidaknya ada beberapa pemain yang juga jagoannya di bisnis ini. Sebut saja, Pawoon, Moka, Qasir, Hellobill, Folio, Dokuku, Cashlez, dsb. Para pemain ini sudah memiliki pelanggan sendiri-sendiri dan terus berinovasi agar cengkeraman bisnisnya semakin besar.

Jumlah pebisnis di Indonesia yang diprediksi terus meningkat, dipadukan dengan tren digitalisasi bisnis UMKM dan payment di Indonesia, menyebabkan kebutuhan solusi POS yang reliable dengan fitur lengkap terus bertambah. “Dengan jumlah pelanggan Pawoon yang mencapai puluhan ribu pengusaha, sebenarnya masih banyak lagi potensi pasar yang belum tergarap oleh Pawoon. Masih banyak ruang bagi Pawoon untuk berkembang,” kata Ahmad Gadi, pendiri & CEO Pawoon.

Pawoon adalah aplikasi kasir (POS) dan manajemen stok berbasis cloud yang dapat memantau penjualan dan bisa dilakukan di mana saja secara real-time dengan memanfaatkan aplikasi pada smartphone/tablet. Menurut Ahmad, dengan aplikasi tersebut, bisnis dapat terkendali secara baik dengan mengurangi kesalahan input data (human error). Manajemen stok menjadi lebih ringkas dan lengkap; pengurangan, penambahan, dan pemindahan stok dapat dikontrol dengan lebih baik. Selain itu, database pelanggan juga tersimpan dengan baik, sehingga akan lebih mudah untuk menyusun strategi bisnis dan keperluan promosi.

“Sebagai pionir, Pawoon selalu konsisten di posisi terdepan dan terkemuka dalam peta persaingan bisnis POS,” ujar Ahmad. Pawoon pun tumbuh sangat pesat selama tiga tahun terakhir, dengan year-on-year growth yang fantastis. “Angka pertumbuhan ini menempatkan Pawoon sebagai salah satu pemain POS terbesar di Indonesia saat ini,” ujar Ahmad tanpa menyebut angka kinerja bisnisnya.

Kemudian ada pemain POS lainnya, yaitu Moka yang hadir sejak 2014. Moka didirikan oleh Haryanto Tanjo dan Grady Laksmono untuk membantu pelaku usaha di seluruh Indonesia agar dapat menjalankan bisnisnya lebih mudah, tanpa harus terjebak dengan pekerjaan administratif yang banyak menyita waktu, seperti rekap penjualan dan rekonsiliasi stok.

Saat ini, Moka telah digunakan oleh 30 ribu pelaku bisnis (merchant) di seluruh Indonesia. “Di 2020 ini, kami menargetkan bisa menggaet 100 ribu merchant. Kami juga mencatat pertumbuhan sebesar 210% dari tahun 2018, diiringi dengan jumlah transaksi yang tumbuh 126% dengan nilai transaksi sekitar Rp 21,5 triliun yang diproses merchant sepanjang 2019 melalui platform Moka,” kata Haryanto, CEO and co-founder PT Moka Teknologi Indonesia

Mitra Moka adalah merchant yang berasal dari berbagai jenis bisnis, yaitu makanan-minuman (F&B), layanan jasa, dan ritel. Kebanyakan memang masih dari F&B, yakni sekitar 2/3 dari 30 ribu merchant. Sisanya ritel dan jasa seperti barbershop, salon, dan spa.

Apa saja layanan Moka? Menurut Haryanto, Moka fokus menyediakan ekosistem bisnis end-to-end untuk memudahkan operasional dan membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing melalui pendekatan utilisasi digital dan meninggalkan cara manual.

Haryanto mengatakan, perusahaannya sudah berevolusi dengan tiga tahun pertama fokus membangun sistem POS. Lalu, di 2019 pihaknya sudah mulai scale up bisnis atau produk baru, seperti Moka Capital yang memberikan solusi pinjaman modal online untuk para merchant Moka yang ingin mendapatkan pinjaman modal usaha, bekerjasama dengan P2P lending dan lembaga keuangan. Ada lagi Moka Pay, yaitu aplikasi kasir dan payment untuk menerima pembayaran dari berbagai platform, khususnya untuk layanan mobile payment.

Kemudian, ada lagi Moka Fresh, platform B2B (business to business) utama milik Moka POS yang menghubungkan pemasok bahan-bahan makanan dengan mitra, khususnya yang membidangi kuliner, untuk memenuhi kebutuhannya. Sudah lebih dari 3.000 SKU yang dijual di platform ini.

Selanjutnya, Moka Connect, yaitu marketplace apps yang terintegrasi dengan backoffice Moka yang akan membantu pebisnis memenuhi kebutuhannya dalam menjalankan usaha. Salah satu partner Moka Connect adalah MRT Jakarta. Jadi, MRT sudah memiliki Moka untuk partner POS-nya sehingga semua UKM di MRT memakai Moka. Enterprise juga akan menggunakan Moka agar dapat mengintegrasikan POS mereka dengan sistem MRT.

Sejalan dengan napas membantu peningkatan inklusi keuangan untuk bisnis di Indonesia, terhitung dari awal 2019, Moka yang memiliki 800 karyawan ini telah membantu menyalurkan modal lebih dari Rp 40 miliar melalui Moka Capital kepada pelaku bisnis. Moka turut mencatat peningkatan penerimaan transaksi mobile payment di merchant dengan Moka Pay yang tumbuh 12 kali lipat dibandingkan dengan 2018.

Pemain POS lainnya adalah Qasir di bawah PT Solusi Teknologi Niaga. Qasir fokus pada pemilik usaha warung kelontong, kios, dan toko dari beragam jenis bisnis. Qasir menyediakan platform POS yang bisa diakses secara gratis ataupun berbayar tergantung pada kebutuhan usaha. Sampai 2019, Qasir telah hadir di berbagai kota dengan jumlah transaksi Rp 1,5 triliun. Angka ini merefleksikan setidaknya 0,2% total pergerakan ekonomi Indonesia. Sementara, di Januari 2020, total transaksi sudah mencapai Rp 300 miliar. Manajemen pengelola Qasir pun menargetkan transaksi dalam dua sampai tiga tahun bisa naik 15% setiap bulan.

Michael Johan Williem, CEO PT Solusi Teknologi Niaga
Michael Johan Williem, CEO PT Solusi Teknologi Niaga

“Cakupan pasar kami sudah seluruh Indonesia. Paling banyak masih di Pulau Jawa, tapi Sumatera dan Kalimantan sudah mau menyusul,” kata Michael Johan Williem, CEO PT Solusi Teknologi Niaga. Layanan belanja grosir sudah ada di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Denpasar. Harapannya, dalam dua tahun ke depan akan berkembang secara sporadis, seperti dari Bandung menjadi ke seluruh Jawa Barat, dari Yogyakarta ke seluruh Jawa Tengah, Malang ke seluruh Jawa Timur, dan Denpasar ke seluruh Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Saat ini, ada 220 ribu pengguna aplikasi Qasir dengan 70 ribu penggunannya adalah user aktif yang memang aktif sekali menggunakannya. Dari 220 ribu pengguna, 30% ada di sektor F&B, 30% ritel seperti fashion and apparel, serta sisanya layanan jasa seperti barbershop, salon kuku, penjahit, dan pangkas rambut.

Bicara kinerja, rata-rata pertumbuhan user Qasir tiap bulan 15,7%. Sementara pertumbuhan transaksi yang tercatat jauh lebih besar dari itu, yakni sekitar 20%. “Jadi, kami melihat antara yang bergabung dengan Qasir adalah usaha-usaha yang lebih besar, atau usaha yang bergabung dengan Qasir pelan-pelan bisnisnya jauh lebih besar,” kata Michael. Untuk belanja grosir, sudah ada 25 agen yang bergabung dengan Qasir yang menyuplai ke 15.000 UMKM di Jabodetabek, Bandung, Malang, dan Denpasar. Dari tiap transaksi, Qasir yang memiliki 180 karyawan ini mengutip margin 1% dari setiap produk yang disalurkan ke mitra Qasir.

Target ke depan, Michael ingin menjaga pertumbuhan yang sudah diraih saat ini; target tahun ini 1,6 juta user serta tahun depan sekitar 6 juta user. “Kami juga sedang fokus untuk mengejar user aktif menjadi 40-50%,” ujarnya. Untuk layanan belanja grosir, targetnya Rp 10 miliar per bulan. Awal tahun ini sudah Rp 8 miliar per bulan dan setiap bulan ada kenaikan transaksi 17-18% pada layanan belanja grosir. (*)

Dede Suryadi dan Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)