Jurus Efisiensi Raja Shipbuilder Dunia

Di usia relatif muda, Hyundai Heavy Industries Inc. mampu meraih predikat sebagai pembuat kapal (shipbuilder) nomor wahid di dunia. Bagaimana gajah bisnis asal Korea Selatan ini bertahan di tengah terpaan resesi global yang menciutkan pasar shipbuilding?

Di masa kolonialisme, yang dikenal sebagai para pelaut ulung adalah bangsa-bangsa Eropa, semisal Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Prancis. Dengan keterampilan dan dukungan teknologi perkapalan kala itu, berabad-abad mereka mampu menguasai dunia pelayaran internasional. Namun di era modern sekarang, siapakah penguasa teknologi perkapalan dan produsen kapal laut berbobot raksasa yang melayari samudra luas itu?

Jangan kaget, yang pantas disebut sebagai jagonya pembuat kapal laut sekarang ini bukanlah bangsa Eropa, melainkan bangsa Korea. Tak percaya? Buktinya, kini perusahaan terbesar di industri pembuatan kapal (shipbuilding industry) dunia bermarkas di Ulsan, Kor-Sel, yakni Hyundai Heavy Industries Inc. (HHI). Selain itu, Kor-Sel merupakan markasnya 7 dari 10 perusahaan pembuat kapal terbesar.

HHI memang boleh dibilang lokomotifnya industri perkapalan Korea. Selama beberapa tahun perusahaan multinasional ini tercatat sebagai nomor satu di dunia dalam hal jumlah dan bobot kapal yang sudah dibangun, terbesar dalam hal jumlah mesin kapal yang telah diproduksi, dan selama bertahun-tahun (hingga kini) masih dianggap sebagai pembuat kapal terkemuka di dunia.

HHI belum bisa dibilang pemain tua, karena baru didirikan Chung Ju-yung (almarhum) pada Maret 1972. Dengan nama awal Hyundai Shipyard, perusahaan ini mulai mencatatkan jejak awalnya di belantika industri pembuatan kapal pada Juni 1974, dengan langkah spektakuler: secara simultan menyelesaikan konstruksi galangan kapal (shipyard) terbesar di dunia (berlokasi di Ulsan) dan pembuatan dua kapal very large crude carrier (VLCC).

Selanjutnya, sukses seperti menjadi bagian perjalanan shipbuilder ini. Satu dekade setelah produksi pertamanya, Hyundai Shipyard memproduksi kapal yang secara agregat sebesar 10 juta deadweight ton (DWT) dan tetap mampu menjaga dominasinya di pasar pembuatan kapal dunia.

Perkembangan Hyundai Shipyard rupanya sejalan dengan pertumbuhan industri alat-alat berat modern Korea. Karena itu, Hyundai Shipyard kemudian merentangkan sayap bisnisnya ke area industri alat berat lainnya. Dari sinilah kemudian Hyundai Shipyard beralih rupa menjadi Hyundai Heavy Industries Inc. (HHI) seperti dikenal sekarang. Catatan penting lainnya dalam pertumbuhan sejarahnya adalah ketika HHI dipisahkan dari Hyundai Group pada Februari 2002.

Sebagai perusahaan multinasional yang bergerak di industri alat berat, jaringan bisnis HHI sudah mengglobal, dengan 6 divisi bisnis: Shipbuilding, Offshore & Engineering, Industrial Plant & Engineering, Engine & Machinery, Electric Systems, dan Construction Equipment.

Divisi Shipbuilding HHI kini telah menjadi pembuat kapal nomor wahid di dunia dan merupakan bisnis inti HHI. Setelah mencatat tingkat produksi kapal 10 juta DWT pada 1982, produktivitasnya terus meningkat dengan milestone yang membanggakan, yakni: 20 juta DWT (1988), 30 juta DWT (1991), 40 juta DWT (1994), dan 50 juta DWT (2005). Hingga akhir 2008, Divisi Shipbuilding ini telah menyerahkan 1.383 kapal (tidak termasuk jenis special carrier) ke para pemesannya di lebih dari 40 negara. Pada akhir 2008 itu, HHI mencatat rekor revenue 19,9 triliun won Korea, dengan 9 triliun won disumbangkan oleh divisi pembuatan kapal.

Namun, belakangan ini semenjak resesi global yang dimulai pada akhir 2008, HHI seperti halnya para shipbuilder lainnya, menghadapi salah satu kondisi terburuk dalam sejarah industri pembuatan kapal. Resesi global telah menciutkan secara drastis volume perdagangan dunia, termasuk permintaan terhadap kapal (baru). Sebagai gambaran betapa kuatnya dampak resesi ini, tahun 2009 order pemesanan kapal baru drop hingga tinggal 7,9 juta gros ton, padahal pada 2008 masih 150 juta gros ton. Banyak perusahaan transportasi yang lebih memilih membeli kapal bekas (seken) – yang harganya di pasar juga turun drastis. Beruntung Divisi Shipbuilding HHI masih bisa mengelola proyek pembuatan kapal hingga 2012 karena adanya antrean order di tahun-tahun sebelum resesi. Selain itu, di luar bisnis shipbuilding, secara konsolidatif HHI juga masih disibukkan oleh proyek pembangunan infrastruktur industri energi (migas) seperti pembuatan offshore rig. Kendati begitu, tanpa efisiensi proses, manajemen HHI meyakini kondisi resesi ini bakal memberikan guncangan besar bagi mereka.

Buat Divisi Shipbuiding HHI sendiri, dengan menyusutnya volume bisnis, maka efisiensi menjadi kata kunci agar tetap kompetitif. Seperti halnya perusahaan gajah lainnya, teknologi informasi (TI) tentu bukan barang baru bagi HHI. Chaebol ini malah telah menghabiskan US$ 50 juta untuk belanja factory planning software atau yang lebih dikenal sebagai enterprise resource planning (ERP). Yang dialami Divisi Shipbuilding HHI, dan mungkin juga perusahaan pembuat kapal lainnya, lingkungan “pabrikasi” mereka terbentang berhektare-hektare, meliputi area daratan dan laut. “Banyak perusahaan pembuat kapal yang telah berinvestasi di bidang ERP, tetapi efisiensinya bakal terbatas tanpa ketersediaan data real time,” kata Hwang See-young, Chief Information Officer HHI, menekankan perhatiannya.

Di Divisi Shipbuilding HHI ada sekitar 8 ribu karyawan yang bekerja membuat rata-rata 30 kapal dalam satu waktu (secara bersamaan). Jutaan suku cadang dibutuhkan dalam proses pembuatan ini, mulai dari yang berukuran paling kecil seperti mur dan paku hingga yang besar seukuran lima gedung tingkat. Galangan kapal milik HHI sendiri panjangnya lebih dari 11 km2 di sepanjang pantai Mipo Bay di Ulsan, Kor-Sel – termasuk 9 dok kering yang dilengkapi 7 crane raksasa. Dok terbesar berukuran lebih panjang dari 7 lapangan sepak bola yang mana empat kapal bisa dibuat secara simultan.

Pada 29 April 2009, HHI menandatangani kontrak dengan KT Corp., perusahaan telekomunikasi terbesar di Kor-Sel, dalam rangka membangun jaringan berteknologi wireless broadband (WiBro) untuk melayani area galangan kapal milik HHI seluas 5,94 juta m2. Proyek yang menjadi bagian proyek besar HHI yang disebut Digital Shipyard itu, dijadwalkan tuntas pada akhir Agustus 2009. Perlu diketahui, pada Maret 2008, HHI bekerja sama dengan Electronics and Telecommunication Research Institute yang berada di bawah Knowledge Economy Ministery Kor-Sel, telah mencanangkan proyek bernama IT-based Global No. 1 Shipbuilding, yang kemudian dikenal dengan proyek Digital Shipyard. “Pemasangan jaringan WiBro memang menjadi bagian dari rencana jangka panjang kami untuk membangun sebuah galangan kapal digital,” ujar Hwang See-young. “Kami memang akan mempertajam daya kompetitif kami dengan menyuntikkan teknologi informasi paling canggih pada industri pembuatan kapal,” katanya lagi menegaskan tekad perusahaannya.

Dalam perencanaannya, dengan WiBro-Office System ini, para pekerja HHI di area galangan kapal bisa mengomunikasikan berbagai informasi penting dalam pekerjaan, mulai dari format suara, data, hingga citra (image), baik ke pusat komunikasi maupun ke pekerja lain secara real time. Enaknya, komunikasi bisa dilakukan tanpa batasan berapa besar data yang hendak ditransmisikan dan cukup dengan menggunakan terminal nirkabel portabel.

Sejak beberapa bulan lalu, jaringan data nirkabel berkecepatan tinggi itu telah terpasang di sepanjang galangan kapal. Boleh dibilang, instalasi jaringan WiBro terpanjang yang pernah terpasang di industri ini. Sekarang, data bisa ditransmisikan secara real time di seantero kompleks “pabrik” kapal ini dengan kecepatan 4 Mbps, empat kali lebih cepat dari kecepatan modem kabel di rumah-rumah tangga Amerika Serikat.

Efisiensi dan fleksibilitas dalam proses kerja juga sudah dirasakan. Dengan menggunakan sensor radio, manajemen HHI bisa memantau pergerakan suku cadang, dari gudang ke pinggiran dok kering ataupun ke dalam kapal yang sedang dibangun (underconstruction). Para pekerja yang ada di atas kapal yang belum jadi itu bisa mengakses rencana kerja (work plan) lewat notebook handphone mereka guna melakukan konversasi video dua arah dengan para desainer kapal yang bekerja di kantor markas HHI yang jaraknya sekitar 2 km.

Langkah pengembangan jaringan terbaru yang belum lama ini dijalankan, cukup inovatif. Kali ini, HHI mulai mengujicobakan jalur komunikasi dengan para pekerja yang berada di dalam kapal (yang sedang dibangun) di bawah daratan ataupun di atas permukaan laut. Maklumlah, sebelumnya para pekerja yang ada di dalam tubuh kapal dan menghadapi problem proses kerja, mesti naik dulu ke atas dok kapal untuk berbicara dengan petugas yang dibutuhkan menggunakan ponsel ataupun walkie-talkie.

Lantas, bagaimana cara komunikasi yang inovatif ini bisa dijalankan? Petugas TI HHI dengan bantuan vendornya menghubungkan jaringan WiBro dengan jalur kelistrikan (electric line) yang meneruskan data digital yang masuk ke transmiter Wi-Fi yang ditempatkan di sekitar lambung kapal selama proses konstruksi kapal. Jaringan Wi-Fi ini bisa menjangkau PC, webcam, ataupun perangkat telepon berbasis Internet (VoIP), yang digunakan para pekerja di kapal itu.

Jadi, kini para pekerja di dalam kapal yang sedang dibangun, dengan mudah cukup memencet nomor Skype untuk berbicara dengan rekan kerja mereka yang ada di atas permukaan. Begitu pula, para desainer yang bekerja di gedung kantor yang berjarak sekitar 2 km itu bisa mengontrol dan membantu mengatasi problem yang dihadapi dengan melihat pada webcam.

Sebelum ada sistem ini, kami harus berulang kali naik-turun tangga untuk bisa berbicara. Tapi sekarang tak butuh lagi,” kata seorang pekerja yang menggunakan perangkat video dua arah. “Kami sekarang bisa bebas berkomunikasi dengan rekan pekerja yang lain. Jadi, kami berharap ini bisa memangkas waktu kerja kami,” katanya lagi.

Perubahan yang paling terlihat adalah pergerakan truk pengangkut di galangan kapal. Setiap harinya ada 30 truk pengangkut yang memindahkan mesin kapal, kerangka baja ataupun suku cadang lain, dari gudang ke pinggiran dok. Nah, truk-truk ini telah dipasangi alat penerima sinyal (receiver) yang secara otomatis akan terkoneksi dengan jaringan WiBro setiap 20 detik sekali guna meng-update posisi mereka buat diinformasikan ke ruang kontrol (control room). Karena itu, para petugas pengatur armada (dispatcher) akan dengan mudah memadankan lokasi truk pengangkut dengan permintaan suku cadang di tiap lokasi. “Ketika satu jarak sudah diselesaikan, kami akan melihat mana lagi posisi di sekitar truk yang akan dituju berikutnya,” ujar seorang petugas ruang kontrol menggambarkan bagaimana efisiennya kerja truk pengangkut. Tak heran, bila sebelumnya tugas pendistribusian suku cadang ini baru selesai jam 8 malam, kini bisa tuntas dua jam lebih cepat, yakni jam 6 sore.

Sejak semula sistem WiBro ini dibangun untuk mengefisienkan dan merampingkan proses produksi. Di antaranya juga untuk mengurangi pengeluaran yang dibutuhkan dalam proses ini. Menurut klaim Hwang See-young, dengan implementasi sistem ini pihaknya bisa menghemat biaya hingga US$ 40 juta per tahun. Ya, setidaknya langkah efisiensi cerdas ini bisa tetap menjaga predikat HHI sebagai pembuat kapal nomor wahid dunia.

Riset: Rachmanto Aris D.

BOKS:

Produk-produk Divisi Shipbuilding HHI

  • VLCC, tanker chemical, dan tanker produk lainnya.

  • Kapal kontainer, bulk carrier, OBO carrier.

  • LNG carrier, LPG carrier.

  • Kapal Ro-Pax, Ro-Ro, dan pure car carrier.

  • Perangkat kapal selam (submarine), destroyer, dan kapal perang (frigate).

Sumber: http://english.hhi.co.kr

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)