Jurus Grup CTI Raih Pendapatan Rp 1,7 Triliun

Grup  Computrade Technology International (CTI), perusahaan distributor dan peyedia solusi teknologi informasi, meraih pendapatan sebesar Rp 1,7 triliun pada 2012 lalu, naik 50% dibanding dengan pendapatan pada 2011. Hal ini dinyatakan Harry Surjanto, Presiden Direktur Grup CTI, di sela Konferensi dan Pameran Virtus Showcase 2013 yang bertema “Enabling Business Transformation with IT” di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (10/4)

Sebagian besar pendapatan itu disumbang oleh penjualan hardware dan software. “Pendapatan dari service hanya 10%,” tambahnya. Ia mengatakan faktor utama yang mendorong pertumbuhan pendapatannya cukup besar adalah pasar Indonesia yang memang tengah sangat bagus. “Itu alasan mengapa orang-orang regional masuk banyak ke Indonesia,” tambah Harry.

Namun untuk tahun 2013, Harry tidak berani pasing target pertumbuhan yang sama dengan tahun lalu. “Target pertumbuhannya belasan persen saja,” katanya. Target pertumbuhan yang jauh lebih kecil dibanding dengan pertumbuhan periode sebelumnya, dikatakan Harry, disebabkan oleh kekahawatirannya terhadap krisis keuangan yang terjadi di beberapa negara di Eropa dan Amerika. “Saya percaya Indonesia tidak imun terhadap krisis. Maka saya tidak targetkan pertumbuhan tinggi,” tambahnya.

Berencana Go Regional

Walaupun begitu, Harry menargetkan untuk bisa go regional tahun ini. Pihaknya akan ekspansi ke negara tetangga dengan membuka kantor di dua negara tetangga. “Yang sudah pasti Malaysia. Satu negara lain, masih kami pertimbangkan. Kami sudah memiliki cara kerja yang sudah matang di sini dan kami akan masuk menggunakan model kami sendiri ke pasar Asean,” ungkap Harry yang juga mengatakan bahwa visinya untuk go regional muncul sejak tahun 2012 lalu.

Menurutnya, tantangan untuk masuk pasar negara lain adalah kurangnya pengetahuan terhadap kondisi pasar negara tersebut. Oleh karena itu pihaknya merekrut tenaga lokal. “Kami akan rekrut orang lokal di sana, namun pusat teknologinya akan tetap di Indonesia,” kata Harry. Ia juga mengungkapkan alasannya memilih Malaysia sebagai negara pihaknya melakukan ekspansi, yaitu selain karakter budaya masyarakat di Malaysia yang mirip dengan masyarakat di Indonesia, pihaknya juga sudah memiliki mitra di sana. “Kami sangat hati-hati dalam memilih mitra. Perusahaan TI model kerjanya tidak sederhana, hanya sebagai distributor, tapi banyak sekali variasinya. Kami harus memiliki orang yang tepat. Itu yang lebih sulit,” tegas Harry tanpa menjelaskan lebih rinci mengenai mitra lokalnya di Malaysia. (EVA)

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)