Kelincahan Direksi TVRI Kembangkan Siaran Digital

Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) mengoptimalkan dana operasional dari negara untuk menjalankan fungsinya sebagai stasiun televisi perekat bangsa. Iskandar Ahmad yang ditunjuk sebagai direktur utama dan merangkap jabatan sebagai Direktur Program dan Berita LPP TVRI, bekerja kolektif dan bahu-membahu mengemban tugas bersama Syafrullah (direktur teknik), Eka Muchamad Taufani (direktur umum dan SDM), Tellman W. Roringpandey (direktur keuangan), dan Adam Bachtiar (direktur pengembangan dan usaha).

Iskandar Ahmad Iskandar Ahmad (berbaju batik), Direktur Utama TVRI

Lima direksi TVRI periode 2012-17 tersebut berupaya mengangkat eksistensi TVRI di era disrupsi digital. Iskandar menegaskan, merujuk Peraturan Pemerintah No. 13/2005 tentang LPP TVRI, status TVRI adalah lembaga penyiaran publik yang anggaran operasionalnya dibiayai negara.

Sumber utama anggaran TVRI diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dana APBN 2017 yang disalurkan ke TVRI sebesar Rp 737 miliar. Angka itu lebih rendah dibandingkan anggaran pada 2016 yang senilai RP 762 miliar. Idealnya, menurut Syafrullah, dana yang dibutuhkan TVRI dalam setahun sekitar Rp 1,5 triliun. TVRI pada 2012-15 menerima kucuran dana dari negara sebesar Rp 758 miliar-900 miliar.

Lantas, apakah TVRI menyerah begitu saja? Pembenahan teknologi pemancar dan ketersediaan siaran digital dilaksanakan TVRI walau dana operasional relatif terbatas. “Saya menegaskan, kami tidak putus asa. Kami mengelola TVRI dengan anggaran berapa pun,” kata Iskandar tentang komitmen jajaran direksi dan karyawan TVRI. Petinggi TVRI mengoptimalkan dana yang diperoleh itu untuk menggaji 4.884 pegawai, membiayai operasional, dan meremajakan aset perusahaan. Gaji pegawai merupakan komponen biaya tertinggi, menyedot 27% dari jumlah total anggaran TVRI. Selanjutnya adalah biaya listrik, telepon, gas dan air, serta pemeliharaan aset. Anggaran stasiun TVRI di daerah bervariasi. Menurut Iskandar, Rp 2 miliar-5 miliar tiap tahun.

Dia menyebutkan, pengelolaan TVRI berdasarkan Undang-Undang No. 32/2002 tentang Penyiaran dan PP No. 13/2005. Jadi, semangat TVRI tidaklah mengejar laba sehingga tata kelolanya berbeda dari stasiun televisi swasta. Stasiun yang mengudara sejak 24 Agustus 1962 ini menjaga khitahnya sebagai stasiun televisi yang menyiarkan aneka macam informasi berwawasan kebangsaan dan perekat bangsa. “Kami tidak menayangkan sinetron, program gosip, atau variety show,” ujar Iskandar.

Syarifullah pun menegaskan, status TVRI sebagai lembaga penyiaran publik yang tidak mengutamakan aspek komersil. “Bagaimana kami bertahan? Jiwa para karyawan TVRI yang tersebar di seluruh stasiun TVRI di berbagai daerah itu memegang amanah itu,” ungkapnya.

TVRI memiliki 29 stasiun daerah dan 471 pemancar di 376 titik. Stasiun TVRI di daerah, dikatakan Syafrullah, memiliki cara masing-masing untuk menghidupi diri walau kondisi keuangan cukup minim. Stasiun televisi yang pertama kali siaran di Republik ini diamati Dewan Pengawas TVRI yang dikepalai Hidayat Thamrin.

Lantas, dari mana sumber biaya operasional TVRI? Sumber pemasukan TVRI yang mengacu pada PP No. 13/2005 ada lima, yaitu iuran penyiaran, APBN, sumbangan masyarakat, pemasukan dari iklan, dan usaha lain yang sah terkait dengan lembaga penyiaran. Sejauh ini, sumber utama dana TVRI diperoleh dari APBN, usaha lain yang sah, dan iklan yang porsinya masih rendah apabila dibandingkan dengan kedua sumber dana lainnya. “Usaha lain yang sah ini meliputi kerjasama dengan kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah,” Iskandar menerangkan.

Walau dana pas-pasan, manajemen TVRI melakukan terobosan di era konvergensi media, yakni memutakhirkan teknologi dan mengembangkan platform media, misalnya menyediakan aplikasi TVRI Klik bagi pengguna telepon seluler berbasis Android dan iOS. Aplikasi ini memudahkan penonton menikmati siaran TVRI di telepon genggam. “Metode penyiaran berubah karena tuntutan konvergensi dan multiplatform,” ujar Syafrullah.

Aplikasi Klik TVRI didesain oleh tim internal TVRI. Jumlah pengunduh aplikasi itu mencapai 50 ribu. Berikutnya, TVRI sudah menayangkan empat kanal digital. Teknologinya pun dibenahi. Hingga saat ini siaran digital TVRI sudah menjangkau 29 provinsi yang ditayangkan sejak 24 Agustus 2016. TVRI juga sudah menyempurnakan siaran melalui over the top (OTT) untuk menyongsong Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang serta menayangkan sejumlah program di YouTube.

Peluang TVRI melakukan digitalisasi di masa mendatang, menurut pandangan Syarullah, adalah bersinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi yang menyediakan stasiun pemancar bagi TVRI untuk mendukung program digital yang dilaksanakan kementerian ini di seluruh pelosok Indonesia. Sekitar 50 pemancar TVRI bakal didigitalisasi ke depannya. “Kami siap menghadapi perubahan di digital era di masa ini hingga tahun 2020 walau kondisi kami terbatas,” kata Syafrullah. Keyakinan itu tidaklah dipandang sebelah mata jika melihat kekuatan TVRI yang memiliki jumlah pemancar dan jangkauan siaran ke pelosok daerah.

Ke depan, TVRI berpotensi menghasilkan pemasukan untuk negara bila dipercaya sebagai penyelenggara tunggal multiplekser (single mux) dalam sistem siaran televisi di Indonesia yang nantinya disalurkan ke kanal-kanal swasta. Menurut Iskandar, jika ditunjuk sebagai pemegang single mux, TVRI berpotensi menghasilkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). “Sebenarnya single mux TVRI sudah diujicoba dua tahun lalu, sebanyak 53 stasiun tergabung dalam Asosiasi Televisi Swasta Digital Indonesia, di antaranya CNN Indonesia, ANTV, Net TV, dan Kompas TV,” ucap Iskandar.

Dalam waktu dekat, jajaran direksi TVRI periode 2012-17 yang dinakhodai Iskandar akan habis masa jabatannya. Mereka meninggalkan legasi untuk jajaran direksi TVRI yang akan datang. Saat ini, Panitia Seleksi Calon Direksi TVRI sedang memproses dan menyeleksi calon Dewan Direksi TVRI Periode 2017-22.

Herning Banirestu & Vicky Rahman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)