Kolaborasi PLN-AGIT Kelola Aset Transmisi

Perusahaan Listrik Negara mendeklarasikan gerakan "PLN Bersih" bersama para mitranya, di Jakarta, Jumat (21/12/2012).

PLN memanfaatkan teknologi informasi untuk mengelola asetnya melalui program Enterprise Asset Management (EAM) di bidang pembangkitan, transmisi, dan distribusi. Implementasi EAM di bidang pembangkitan sudah berjalan di anak perusahaan PLN, yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan PT Indonesia Power (IP), dan saat ini juga sedang dilaksanakan di Unit pembangkit di Sumatra dan Sulawesi.

Implementasi EAM di sisi distribusi juga sudah go live di PLN Distribusi Bali, dan akan dilanjutkan di unit lainnya. Manajemen aset untuk bidang transmisi siap diimplementasikan untuk tiga unit PLN, yakni di PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Jawa-Bali, P3B Sumatera, dan PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar). Implementasi EAM transmisi di tiga unit PLN tersebut rencananya akan diselesaikan dalam 12 bulan.

Dalam pelaksanaannya, PLN dibantu oleh perusahaan konsultan teknologi informasi PT Astra Graphia Information Technology (AGIT). EAM transmisi ini menggunakan modul Plant Maintenance (PM) dari SAP yang sudah terintegrasi dengan sistem yang sudah berjalan di PLN.

Sebagai tanda dimulainya implementasi EAM transmisi ini, dilakukan penandatanganan dokumen kick-off (project charter) antara pihak PLN dan AGIT. Penandatanganan dokumen dilakukan oleh Direktur (Operasi Jawa-Bali-Sumatera) PLN, Ngurah Adnyana, dengan Presiden Direktur AGIT, Michael AR Roring, di Jakarta, Senin (26/8/2013).

Menurut Adnyana, implementasi EAM ini diharapkan mampu menyediakan sistem informasi yang dapat digunakan untuk memonitor kinerja peralatan transmisi yang terkait dengan biaya selama masa manfaatnya. Juga dapat dijadikan evaluasi bagi kinerja penyedia jasa yang melakukan pemasangan maupun yang menangani aset tersebut selama masa manfaatnya, serta tersedianya proses bisnis yang terintegrasi dengan sistem informasi PM dan peran pegawai sesuai dengan deskripsi pekerjaannya. “Penerapan EAM ini bertujuan untuk menghasilkan kinerja operasi excellent dengan fokus pada optimasi pemanfaatan aset, efisiensi finansial, dan mitigasi risiko,” tutur dia.

Sebagai informasi, seiring dengan pesatnya pertumbuhan kebutuhan listrik masyarakat maka perkembangan aset PLN juga meningkat tajam untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik tersebut. Kebutuhan listrik rata rata tumbuh sekitar 9-10 persen per tahun. Di sisi aset, khususnya aset transmisi yang berfungsi untuk menyalurkan listrik dari pembangkit ke distribusi meningkat rata-rata 2,9 persen per tahun, yaitu dari Rp 67,4 triliun pada tahun 2012 dan diprediksi menjadi Rp 80 triliun pada tahun 2018.

Kapasitas gardu induk (GI) pada tahun 2012 sebesar 76.328 Mega Volt Ampere (MVA) juga terus tumbuh rata-rata sebesar 13,4 persen per tahun, sehingga pada tahun 2018 diperkirakan menjadi 162.457 MVA. Panjang jaringan transmisi bertambah sebesar 14 persen per tahun, dari 37,924 km pada tahun 2012 akan menjadi 83,106 km pada tahun 2018. Sedangkan biaya operasi dan pemeliharaan transmisi juga meningkat dari Rp 2,35 triliun pada tahun 2012, dan akan menjadi Rp 3,06 triliun pada tahun 2018.

Dengan aset transmisi dan biaya pemeliharaan yang besar dan terus bertambah serta tuntutan para pemangku kepentingan untuk mengoperasikan dan memelihara sistem penyaluran secara handal, efisien, dan berkualitas, maka diperlukan implementasi manajemen aset yang dilengkapi dengan sistem informasi sehingga dapat memberikan informasi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan aset portofolio, kondisi aset, investasi, dan keuangan secara transparan sehingga dapat dievaluasi dan dianalisa secara komprehensif dengan pertimbangan manajemen risiko. Sistem informasi yang mendukung aset manajemen dikenal sebagai EAM.

Sejalan dengan PLN, Presiden Direktur AGIT, Michael AR Roring, menyatakan bahwa suksesnya implementasi EAM transmisi di PLN adalah tersedianya sistem informasi yang dapat menghasilkan standardisasi proses bisnis pemeliharaan dan integrasi sistem yang lebih efektif dan efisien. “Suksesnya implementasi EAM ini adalah tersedianya sumber informasi bagi manajemen untuk pengambilan keputusan yang akurat dan cepat serta tersedianya mekanisme kontrol dan pengawasan sistem pemeliharaan yang lebih baik dan terukur,” ujar Michael.

Sementara itu, Senior Account Executive PT SAP Indonesia, Ardianto Surya Nugraha, mengungkapkan, dengan membantu PLN mentransformasikan bisnisnya maka diharapkan PLN bisa menjadi perusahaan berkelas dunia melalui kinerja yang sempurna. Hasilnya adalah peningkatan pelayanan kepada masyarakat, dan turut mensejahterakan rakyat di berbagai lapisan baik secara pribadi maupun perusahaan. “Selama 16 tahun beroperasi di Indonesia, SAP selalu memberikan kontribusi terbaiknya bagi negeri ini,” ujar Ardianto. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)