Masa Depan Ekonomi Digital Nasional di Era Industri 4.0

Country Manager Director Accenture Neneng Goenadi saat memberikan keynote opening dalam ajang Digital Summit SEA 2017. (foto: Ihsan Sulaiman/MIX)

Era revolusi industri 4.0 telah mengubah lanskap dunia bisnis dan pola konsumsi masyarakat yang berbasis pada teknologi digital. Industri 4.0 adalah cyber-physical systems (CPS) yang memungkinkan teknologi untuk membawa dunia virtual dan fisik bersama-sama dalam menciptakan dunia yang terkoneksi berbasis jaringan internet.

Hal ini disampaikan oleh Country Manager Director Accenture, Neneng Goenadi, di ajang Digital Summit SEA 2017 dengan mengusung tema “The Future of Digital Economy”. Digital Summit berfokus pada inovasi, teknologi dan disrupsi sebagai komponen utama bagi keberlangsungan ekonomi digital dengan fokus pada bidang pemasaran, periklanan, mobile, pembayaran, kecerdasan buatan (AI), AR & VR (Mixed Reality), analisis prediktif, big data, komputasi awan dan internet.

“Konvergensi pada industri global membawa level baru pada konektivitas sehingga menciptakan disrupsi pada keseluruhan dunia bisnis. Kemunculan hal tersebut telah dirasakan sejak tahun 2010 yang ditandai dengan penggunaan smartphone semakin meningkat di masyarakat. Sementara pada tahun 2015 hingga sekarang pemanfaatan big data menjadi kunci dalam mengakselerasi bisnis,” ungkap Neneng di Hotel Mulia Jakarta, (8/11/2017).

Accenture memprediksikan bahwa 25% perekononomian dunia akan terdigitalisasi pada 2020 dan 45% pekerja akan menjadi kontraktor atau yang disebut liquid workforce  tahun 2025. “Perusahaan tidak akan memiliki pekerja permanen, melainkan liquid workforce. Milienial tidak suka bekerja sebagai pekerja permanen, karena mereka suka bekerja dalam beberapa perusahaan dalam waktu yang bersamaan,” tambah Neneng.

Sementara itu, US$ 400 juta dihabiskan per tahun dalam transformasi digital yang berakhir gagal. Digital adalah kunci transformasi, tetapi kalau tanpa strategi dan hanya ikut-ikutan maka akibatnya adalah pemborosan.

Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Kominfo Samuel Abrijani Pangerapan. (foto: Ihsan Sulaiman/MIX)

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan, mengungkapkan, transformasi ekonomi digital memungkinkan kekayaan terdistribusi secara merata yang selama ini terdapat kesenjangan. Ekonomi digital memberi kesempatan yang sama bagi semua orang untuk berpartisipasi yang sifatnya inklusif.

Samuel mengatakan langkah yang ditempuh pemerintah untuk mengembangkan ekonomi digital adalah mendorong dan menfasilitasi platform bisnis digital yang inovatif dalam menciptakan sharing economy, tenaga kerja, digitalisasi dan inklusi keuangan.

“Pemerintah harus cepat menerima dan beradaptasi dengan menciptakan regulasi yang mendukung ekonomi digital. Tantangan regulasi harus ditangani dengan memberikan solusi yang memastikan ekonomi digital dapat diterima masyarakat dan stakeholder terutama bisnis digital yang memberi manfaat dan meningkatkan perekonomian bagi masyarakat,” ujarnya.

Untuk diketahui, Digital Summit SEA 2017 yang diselenggarakan atas kerja sama Accenture dengan Asosiasi Big Data Indonesia, Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia dan Fintech Indonesia ini dihadiri oleh lebih dari 200 pemimpin bisnis, baik dari kalangan korporasi maupun startup yang fokus membahas kondisi industri yang ada saat ini sehingga dapat memberikan inspirasi untuk menghadirkan model layanan teknologi baru.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)