Membumikan Bisnis Agritech Berbasis Sociopreneur

Ketahanan pangan yang kuat di era saat ini sangatlah penting untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang semakin meningkat. Di sisi lain potensi sektor pertanian, peternakan, dan perikanan masih besar untuk dioptimalkan dengan bersama-sama saling berkolaborasi antar pelaku bisnis dari hulu ke hilir. Di sinilah bisnis agritech memilki prospek yang cerah untuk semakin digarap.

Dalu Nuzlul Kirom, founder & CEO Ternakesia, Utari Octaviany, Co-founder & CSO Aruna, dan Ahmed Tessario (Founder & CEO Sirtanio Organik) yang merupakan alumni Diplomat Success Challenge (DSC) 2015 dari Wismilak Foundation berbagi insight tentang bagaimana membangun bisnis yang berdampak sosial (sociopreneur) di sektor peternakan, perikanan dan pertanian dalam webinar bertajuk “Building Impactful Business in Farming & Fisheries Sector”.

Webinar ini merupakan rangkaian kegiatan virtual roadshow bertajuk “Unlocking Opportunities” yang mendapat dukungan dari Menteri BUMN, Erick Thohir dan Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki.

Memikat Wirausaha Muda Bangun Bisnis Agritech

Beberapa komponen penting penunjang kelangsungan hidup suatu bangsa, salah satunya terletak pada ketahanan pangan. Untuk memenuhi ketahanan pangan, diperlukan potensi sumber daya manusia yang optimal dalam memaksimalkan potensi sektor tersebut.  Namun, banyak generasi muda yang tidak tertarik pada dunia pertanian, peternakan dan perikanan. Inilah yang menjadi permasalahan krusial, dimana kebutuhan permintaan pangan selalu naik tapi tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah dan kualitas produsen, khususnya dari generasi muda.

Permasalahan krusial ini memantik kesadaran wirausaha muda tersebut  dengan membangun bisnis rintisan melalui misi sociopreneur.  Utari Octavianty bersama kedua rekannya, Indraka Fadhlilah dan Farid Naufal Aslam mendirikan Aruna. Sebuah bisnis rintisan  bidang perikanan dalam merevolusi ekosistem perdagangan hasil laut dengan teknologi. Dengan platform Aruna, supply chain dapat lebih ringkas karena transaksi pembelian ikan terjadi secara langsung antara nelayan atau pembudidaya ikan dengan konsumen, tanpa melalui jalur tengkulak. Nelayan mendapatkan harga jual yang layak, konsumen pun mendapatkan kebutuhan ikan dengan harga yang masuk akal.

Karena sebagian besar nelayan tidak begitu memahami perkembangan teknologi fitur pada smartphone, Aruna menghadapi tantangan saat mensosialisasikan teknologi baru yang ditawarkan aplikasi Aruna ke kelompok nelayan. Di sinilah peran wirausaha muda dalam turut berkontribusi mengedukasi sebagian besar kelompok nelayan dalam adaptasi transformasi teknologi.

Aruna pun membawa pilot project yang telah berhasil dilakukan pada kelompok nelayan tempat asal Utari dibesarkan, sebagai bukti konkrit adaptasi transformasi teknologi ini pun berdaya guna bagi dan mudah digunakan oleh nelayan. Selain itu, Aruna pun membentuk local heroes yang membantu nelayan setempat untuk memantau dan mengoperasikan Aruna.

Serupa dengan Utari yang fokus pada sektor perikanan, Dalu Nyzlul Kirom, CEO Ternakesia terpanggil untuk memajukan sektor peternakan yang kurang diminati oleh wirausaha muda. “Bisnis rintisan Ternakesia hadir sebagai bentuk jawaban kami akan permasalahan yang ada di sektor peternakan. Kami mencoba mengamplifikasikan teknologi ke bisnis peternakan sebagai salah satu usaha mengatasi kendala usaha para peternak,” kata Dalu. Ternakesia sendiri fokus di sektor peternakan yang membantu peternak Indonesia yang membutuhkan bantuan bidang permodalan, pemasaran, dan manajemen.

Dalu melihat bahwa potensi bisnis peternakan ini membutuhkan optimalisasi melalui transformasi penerapan teknologi. Apalagi berdasarkan data dari Islamic Economic Forum 2019, Indonesia adalah negara dengan konsumen makanan halal nomor 1 di dunia. Putaran dana untuk mengonsumsi makanan halal sekitar US$ 273 miliar per tahun. Tapi sayangnya Indonesia bukan termasuk 10 besar pemasok makanan halal di dunia. Inilah ironi sekaligus peluang besar kita khususnya wirausaha muda untuk memenuhi permintaan kebutuhan hasil ternak dengan standarisasi halal yang perlu kita manfaatkan.

Startup Agritech di Indonesia

Najib dan Fahma (2019) dalam penelitiannya yang berjudul “Model Peran Start-Up Pertanian dalam Peningkatan Aksesibiltas Pangan dalam Jurnal Pilar Ketahanan Pangan mengungkapkan bahwa jumlah startup bidang pertanian di Indonesia sendiri sesungguhnya masih belum terlalu banyak, yaitu baru mencapai puluhan. Sementara menurut laporan tracxn.com (2020) bahwa ada 70 startup AgriTech di Indonesia. Meskipun masih relatif baru berkembang di Indonesia startup pertanian di Indonesia memiliki profil yang beragam. Sebagian besar startup pertanian di Indonesia menawarkan jasa pemasaran, namun ada pula startup pertanian yang menawarkan pendanaan, jasa konsultasi bagi petani, dan penyedia informasi harga pasar bagi petani.

Berdasarkan laporan CompassList berjudul Indonesia Agritech Report 2020, ada empat jenis startup pertanian dan perikanan di Nusantara, yakni pembiayaan, pengembangan teknologi, e-commerce, edukasi dan pendampingan (Setyowati 2020). Rata-rata dari startup pertanian ini adalah berupaya untuk memberdayakan masyarakat petani, baik di bidang produksi tanam padi, pendanaan, maupun pemasaran produk pertanian. Startup pertanian ini tidak hanya mencari keuntungan (profit), namun juga mempunyai misi sosial, yaitu sebagai startup social entrepreneurship yang memberdayakan perekonomian masyarakat.

Inilah alasan perlunya  memikat wirausaha muda membangun bisnis agritech. Sudah saatnya membumikan bisnis agritech agar makin berkembang di negeri ini.

Dede Suryadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)