Minimalisir Masalah Klasik Precasting, IAPPI Kenalkan Software Tekla

Bertumbuhnya sektor properti dalam beberapa tahun terakhir turut mendukung kinerja industri precast tanah air. Namun demikian, prosesnya tak selalu berjalan mulus bahkan kerap tertimpa persoalan klasik. Dr. Hari Nugraha Nurjaman, Sekertaris Umum Ikatan Industri Pracetak dan Prategang (IAPPI) menyatakan bahwa tahap perencanan pembangunan suatu konstruksi atau bangunan umumnya masih dilakukan dengan cara konservatif.

IMG_3381

Misalnya untuk  satu unit bangunan, baik garapan negara maupun swasta, tahap pertama yang seringkali dilakukan adalah memanggil konsultan terlebih dahulu. Konsultan inilah nantinya yang akan menggambarkan infrastruktur gedungnya. “Biasanya nanti akan ada multidisiplin. Kan dalam pembangunan gedung itu pasti ada arsiteknya, ada infrastrukturnya, ataupun ada utilitasnya," jelas Dr. Hari Nugraha Nurjaman, Sekertaris Umum Ikatan Industri Pracetak dan Prategang (IAPPI).

Sementara cara kerja yang sekarang, masing-masing memiliki bidangnya sendiri-sendiri, kemudian dikomunikasikan antar disiplin tadi dengan menggunakan metode yang masih standar. "Mungkin di teknik yang paling beken ada Autocad. Nah, program anti lunak ini biasanya berbasis 2 dimensi sehingga tidak menutup kemungkinan terdapat ketidaksempurnaan karena dibuat oleh manusia,” terang Hari.

Ditambahkan pula oleh Hari bahwa ketidaksempurnaan tersebut seringkali tidak terdeteksi di lapangan. Ketika bangunan sudah jadi dan mempunyai dokumen, kemudian pemilik bangunan ingin mengaplikasikannya ke pelaksana, maka prosesnya sendiri akan memakan waktu. “Contoh, di pemerintahan saja ada yang bisa sampai 52 hari (sejak dokumen jadi hingga diajukan ke pelaksana). Kemudian pelaksana akan baca gambar kerja tersebut dan menerjemahkannya ke dalam suatu konstruksi bangunan. Nah, kalau ditemui masalah-masalah seperti itu, maka akan tidak efisien,” tambah Hari.

Kendala berikutnya adalah munculnya dua aliran. “Kalau pelaksananya agak slebor, biasanya mereka akan mengambil keputusan sendiri. Apa yang terjadi? Bangunan tidak perform, ada yang tidak berfungsi atau jelek-jeleknya interpretasinya salah sehingga tidak sesuai dengan harapan," dia mengungkapkan.

Sedangkan kalau pelaksananya cukup profesional, dia akan mengknfirmasikan terlebih dahulu perencananya. Meskipun memang proses tersebut memakan waktu lama. Apalagi jika ditambah dengan banyaknya ketidakcocokan dengan teknisinya, maka akan semakin repot karena perencana barangkali harus merevisi desainnya. Hal tersebut tentu akan berakibat pula pada masalah biaya. Jadi agak complicated.

Menyikapi kondisi tersebut, IAPPI kemudian bekerja sama dengan Tekla untuk memperkenalkan teknologi Building Information Modelling (BIM) besutannya untuk diperkenalkan kepada para precaster Indonesia. Hal ini dipertegas dengan adanya penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Precast Competency Center (PCC) dengan IAPPI untuk mendukung pelatihan dasar tersebut pada hari ini, 21 Agustus 2013.

Teknologi ini berupa seperangkat piranti lunak yang berbasis  tiga dimensi. Uniknya, dalam model tersebut, kita bisa memasukkan data-data seperti volume, data spesifikasi, dll. Para perencana minimal akan diberikan satu tools karena mereka akan berkomunikasi dengan para arsitek, struktur, dan teknisi yang sudah terfasilitasi sehingga jauh lebih mudah. Jadi, dengan adanya teknologi ini, para industri precasting bisa menawarkan one stop solution kepada para pemilik bangunan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)