MRT Jakarta, Upaya Menjadi Backbone Perubahan Kota

Bagi PT MRT Jakarta (Perseroda), perusahaan yang lahir di era VUCA, transformasi dan modernisasi bisnis bukanlah wacana asing. Menurut William Sabandar, Dirut MRT Jakarta (MRTJ), upaya transformasi dalam skala tertentu sebenarnya sudah dilakukan sebelum pandemi.

William Sabandar, Dirut MRT Jakarta.
William Sabandar, Dirut MRT Jakarta.

Namun, kejadian pandemi Covid-19 menjadi titik mula yang memaksa MRTJ melakukan transformasi bisnis secara lebih serius. Pasalnya, ketika itu jumlah penumpang mulai turun, interaksi fisik antar-orang sangat sedikit, dan masyarakat makin jarang menggunakan transportasi publik karena adanya kebijakan working from home (WFH).

“Jadi, kami memperkenalkan transformasi Beyond Normal yang memiliki tiga poros, yakni Network Provider, Urban Platformer, dan City Regenerator,” kata Willy, panggilan akrab sang dirut. Willy menyebutkan, poros kedua dari program transformasi MRTJ, yakni Urban Platformer, merupakan backbone atau tulang punggung transformasi digital tersebut. Makna Urban Platformer adalah menjadi platform atau beranda digital perkotaan.

“Prinsipnya, MRTJ menempatkan transformasi digital itu sebagai pondasi dari seluruh proses transformasi yang sedang dilakukan di MRT Jakarta hari ini,” Willy menandaskan.

Setelah mendeklarasikan program transformasi itu, pada 2020 MRTJ me-review seluruh dokumen rencana strateginya, dan mengubahnya dari rentang RJP 2014-2030 menjadi 2021-2030, demi mewujudkan tiga poros keunggulan itu.

Dalam pandangan Willy, transformasi digital adalah mengubah budaya korporasi dari yang tadinya mengandalkan pendekatan fisik menjadi pendekatan digital, untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada semua pelanggan MRTJ. Belajar dari proses transformasi digital yang dijalankan MRTJ, pihaknya memetik pelajaran penting bahwa transformasi sebetulnya bukan hanya terkait teknologi. “Komponen paling penting dari transformasi digital adalah people dan culture,” ujarnya.

Ada sejumlah tahap transformasi digital yang dijalani MRTJ. Pertama, ketika pandemi terjadi, MRTJ melakukan office restructuring, dari kantor fisik menjadi kantor digital, dengan backbone-nya bukan lagi ruangan, melainkan sistem digital di MRTJ.

BUMD ini memiliki Knowledge Management Initiative bernama Kinetic (Knowledge, Information, and Education Center), yang dijadikan platform internal korporasi dan bisa digunakan oleh semua insan MRTJ. Digunakan pula sistem e-Office Management untuk menata seluruh mekanisme transaksi korporasi.

Tahap selanjutnya adalah menerapkan pendekatan konstruksi digital (digital construction), yang dimulai pada saat mengerjakan Fase 2. Ini berbeda dengan pembangunan Fase 1 yang masih less digital.

Di Fase 2 ini, manajemen MRTJ memperkenalkan mekanisme Common Data Environment (CDE). Dalam sistem ini, data dikelola dalam satu ekosistem dan pihak-pihak yang terkait bisa melihat data tersebut. Data apa pun dalam proses konstruksi ⸺seperti pembuatan pondasi, persiapan perancangan awal, review desain, budgeting— dimasukkan ke dalam sistem CDE.

Elemen penting dari CDE bernama Building Information Modelling (BIM). Inilah yang menjadi salah satu tool penting yang digunakan dalam proses pembangunan Fase 2, yang bisa menyampaikan semua informasi secara lengkap tentang apa yang sedang terjadi di MRTJ. Ini berbeda dengan proses sebelumnya yang memakai gambar fisik.

“Komponen paling penting dari transformasi digital adalah people dan culture.”

William Sabandar, Dirut PT MRT Jakarta

Dengan BIM, meski pembangunan suatu stasiun MRT belum jadi, kita sudah bisa melihat fitur tiga dimensinya. Dengan teknologi BIM, kita bisa memodelkan stasiun MRT bawah tanah itu akan seperti apa, panjangnya berapa, bagaimana lokasi ritelnya, persiapan operasi seperti apa, dan sebagainya, meskipun pembangunannya baru selesai 3-4 tahun ke depan. Penggunaan CDE dan BIM telah dimulai pada Agustus 2020.

Tantangan di Fase 2 ini, menurut Willy, jauh lebih berat dibandingkan Fase 1. Pasalnya, untuk Fase 2 semua proses konstruksi di bawah tanah, kondisi lahannya lebih lunak (sehingga lebih susah), dan settlement lahan yang terjadi di kawasan Jakarta Utara lebih sulit karena banyak bangunan cagar budaya. “Jadi, digital construction merupakan sebuah keniscayaan kalau kita menginginkan pembangunan secara efektif,” katanya.

Teknologi virtual reality (VR) pun mulai digunakan dalam program pelatihan. Dulu, pelatihan harus dilakukan di gerbong kereta, sekarang sudah bisa dilakukan secara simulasi dengan bantuan VR. “Saya juga sudah mendorong teman-teman untuk belajar Metaverse,” ujar Willy.

Di sisi operasional, sebetulnya sejak Fase 1 MRTJ sudah menerapkan otomatisasi dalam wujud Grade of Automation (GoA) 2, di mana peran masinis sangat minimal. Jadi, kereta MRT itu otomatis dikendalikan secara komputerisasi, sehingga kinerja on time performance (OTP) bagus.

Sekarang, ungkap Willy, di stasiun MRT makin banyak perangkat intelligence system yang terpasang. Salah satunya disebut DINA (Digital Intelligent Assistant) yang baru ada di tiga stasiun, dan akan dikembangkan untuk semua stasiun.

Peluncuran DINA dilakukan di Stasiun MRT Bundaran HI pada 3 Desember 2021. DINA merupakan fasilitas komunikasi di stasiun MRT Jakarta yang dapat digunakan oleh seluruh penumpang guna mengurangi kontak fisik, yang juga dilengkapi dengan fitur ramah disabilitas.

Satu langkah penting yang kini sedang dilakukan adalah mengintegrasikan seluruh sistem ticketing di Jabodetabek dalam satu sistem bernama JakLingko. JakLingko belum diluncurkan secara resmi, tapi sudah berjalan untuk beberapa jalur di MRT dan Transjakarta.

Di luar operasional bisnisnya, MRTJ telah bekerjasama dengan banyak startup di bidang digital. Ada dua inisiatif yang dijalankan perusahaan di bawah Pemda DKI Jakarta ini, yakni MRTJ Accel dan MRTJ Incubator.

Untuk menjalankan program transformasi korporat ini, pada 2020 MRTJ membentuk gugus tugas yang bertanggung jawab kepada dirut. Kemudian, BoD menunjuk salah seorang Kepala Divisi Pengembangan Bisnis untuk mengetuai gugus tugas tersebut.

Lalu, di awal 2022, untuk memperkuat gugus tugas tersebut, dibentuk Komite Transformasi Digital, yang terdiri dari unsur seluruh divisi terkait. Komite ini dipimpin oleh salah seorang direktur.

 Apa hasil yang dicapai MRTJ sejauh ini dari program transformasi korporatnya? “Yang jelas, we survive the crisis,” ujar Willy. Ia menuturkan, MRT bisa tetap beroperasi dengan standar internasional, nilai sejumlah parameter bisnis juga naik, dan level of customer satisfaction-nya bahkan lebih baik.

“Selama pandemi, nilai indeks kepuasan pelanggan MRT Jakarta meningkat. Padahal, orang jarang naik transportasi tetapi masyarakat tetap memberikan apresiasi yang lebih tinggi,” katanya. Selain itu, tidak ada karyawan yang dirumahkan dan seluruh kewajiban berhasil dipenuhi.

Menurut Willy, visi sebenarnya dari langkah transformasi korporat di MRTJ adalah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Jakarta, dan MRTJ bisa menjadi backbone perubahan kota. Harapannya, masyarakat kota ini bisa menjadi lebih bahagia, sejahtera, serta nyaman. Dan, Jakarta bisa menjadi global metropolis setelah tidak menjadi ibu kota negara. (*)

Joko Sugiarsono & Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)