Newsela, Unicorn Penyedia Konten Edukasi

Pandemi Covid-19 telah membuat edtech startup naik daun. Termasuk Newsela, platform konten digital pendidikan yang kini digunakan oleh 2,5 juta guru dan 37 juta siswa dari 90% sekolah di AS. Inikah akhir era buku teks konvensional?

Matthew Gross, CEO Newsela (Foto: CNNbusiness.com).
Matthew Gross, CEO Newsela (Foto: CNNbusiness.com).

Masa pandemi Covid-19 memang telah menjadi masa sulit bagi banyak sektor industri. Namun, tidak demikian buat perusahaan yang mengembangkan dan memasarkan produk digital learning. Di masa pandemi ini, banyak sekolah yang serta-merta beralih ke digital tools, seperti platform belajar online ataupun videoconferencing, untuk mentransfer materi dan jadwal pendidikan secara daring (dalam jaringan/online).

Aplikasi atau platform yang memungkinkan interaksi online antara guru dan siswa dilaporkan mengalami pertumbuhan luar biasa. Di antara mereka ada nama Newsela dan Nearpod, aplikasi yang digunakan banyak guru untuk menciptakan video lesson secara interaktif dan bisa mengajak para siswa mengikuti field trip secara virtual.

Kedua platform ini pada dasarnya membantu guru memberikan dan memeringkatkan penugasan, memimpin pelajaran, ataupun menyelenggarakan diskusi daring dengan siswa di kelas. “Khususnya untuk pendidikan dari TK/kindergarten sampai SMA kelas 12 (diistilahkan: K-12), yang pola pembelajarannya dipicu melalui dialog antara guru dan siswa,” kata Jennifer Carolan, mitra di Reach Capital, perusahaan venture capital (VC) yang telah berinvestasi di Newsela dan Nearpod. “Kami senang dengan produk-produk yang mampu meningkatkan kapabilitas guru di ruang kelas,” ungkapnya.

Sejumlah perusahaan rintisan di bidang edtech yang melaporkan pertumbuhan bagus telah memiliki audiens kalangan sekolah yang cukup besar sebelum pandemi. Pada akhir musim semi lalu, ketika distrik-distrik sekolah beralih menggunakan pola remote learning, sejumlah aplikasi pendidikan menggunakan strategi pertumbuhan yang kira-kira sama terkait pandemi, yakni menyediakan layanan premium mereka secara gratis untuk sementara buat guru-guru sekolah hingga akhir tahun sekolah yang berjalan.

Maka, terjadilah adopsi secara masif,” ujar Tory Patterson, Direktur Pengelola Owl Venture, VC yang berinvestasi pada startup pendidikan seperti Newsela. Patterson mengungkapkan, begitu tahun sekolah berakhir, para edtech startup itu mulai mengonversi distrik sekolah menjadi pelanggan berbayar (paying customers).

Pada akhir Desember 2020, kalangan sekolah membayar untuk 11 juta akun siswa di Newsela, merupakan peningkatan sebesar 87% dibandingkan 2019. Nearpod, pemain edtech lainnya, juga melaporkan pertumbuhan eksponensial. Setelah membuat aplikasi video lesson-nya gratis, basis pengguna startup ini melejit menjadi 1,2 juta guru pada akhir 2020, alias naik lima kali lipat dibandingkan 2019.

Pandemi telah mempercepat adopsi teknologi pendidikan 5-10 tahun,” kata Michael Chasen, wirausaha edtech veteran. Pada 1997 ia mendirikan Blackboard, yang kini merupakan salah satu Learning Management System terbesar untuk sekolah dan perguruan tinggi.

Kegairahan terhadap platform pendidikan pun diikuti minat dan aksi para investor. Hal ini terlihat dari aspek pembiayaan untuk kalangan edtech startup ini yang tumbuh lebih dari dua kali lipat, dari US$ 4,81 miliar pada 2019 menjadi US$ 12,58 miliar pada 2020, sebagaimana dilaporkan CB Insights, perusahaan yang memantau perkembangan startup dan VC.

Selama periode yang sama, menurut data Futuresource Consulting, perusahaan riset pasar di Inggris, jumlah laptop dan komputer tablet yang dikirimkan ke kalangan SD dan SMP di Amerika Serikat juga meningkat hampir dua kali, dari 14 juta unit pada 2019 menjadi 26,7 juta pada 2020. “Kami melihat ledakan permintaan yang nyata,” kata Michael Boreham, analis pasar senior di Futuresource.

Di antara deal terbesarnya di tingkat dunia, sebagaimana diungkapkan CB Insights, yakni: Zuoyebang, raksasa edtech China yang menawarkan aplikasi online lesson and homework untuk para siswa K-12, tahun lalu berhasil menghimpun dana US$ 2,35 miliar dari investor, termasuk Alibaba dan Sequoia Capital China.

Lalu, Yuanfudao, startup tutorial online China, sukses mengumpulkan total dana US$ 3,5 miliar dari investor seperti Tencent. Ada juga Kahoot, aplikasi khusus kuis dari Norwegia, yang telah digunakan oleh jutaan guru dan siswa, baru-baru ini berhasil menghimpun dana sekitar US$ 215 juta dari Softbank.

Sementara di AS, capaian terbesar dicatat oleh Newsela, yang pada Februari 2021 berhasil mengumpulkan dana US$ 100 juta dari putaran pendanaan seri-D. Besaran pendanaan itu lebih besar dibandingkan agregat dana yang berhasil diperoleh Newsela dari putaran-putaran sebelumnya. Ini menggambarkan betapa besarnya atensi investor saat ini. Yang menjadi lead investor pada momen pendanaan seri-D tersebut adalah Franklin Templeton Investments, didukung sejumlah pendana lainnya, yakni Owl Ventures, TCV, Tao Capital Partners, Chan Zuckerberg Initiative, dan Waycross Ventures.

Dengan capaian di pendanaan seri-D itu, valuasi Newsela mencapai US$ 1 milar, alias mencapai status unicorn. Ini sebetulnya pencapaian yang biasa untuk aplikasi konsumer seperti Instacart ataupun Deliveroo, tetapi tidak biasa bagi aplikasi pendidikan di AS.

Kendati begitu, seiring dengan makin banyaknya distrik sekolah di AS yang membuka kembali sekolah tatap muka dengan mode “new normal”, miliaran dolar yang telah ditanamkan oleh sekolah dan para investor ke bidang edtech kini akan diuji. Beberapa layanan remote learning ada kemungkinan akan mencatat penurunan jumlah audiensnya dari kalangan pelajar.

Akan ada guncangan di tahun-tahun mendatang,” ujar Matthew Gross, CEO Newsela, penyedia konten reading lesson populer untuk sekolah, mengakui. “Saya menyebutnya sebagai the Great Crunch untuk edtech,” ujarnya lagi.

Meskipun pasar edtech berkontraksi, kalangan pelaku industri ini mengatakan, tak akan putar balik. Alasannya, pandemi Covid-19 telah mempercepat penyebaran laptop dan aplikasi pembelajaran di sekolah-sekolah, serta membiasakan digital education tools untuk jutaan guru, juga pelajar dan keluarga mereka.

Newsela sendiri, sebagai salah satu platform pendidikan populer di sekolah-sekolah AS, telah mampu memikat sejumlah pengikut setia di kalangan pendidik karena alasan fleksibilitas. Aplikasi ini membantu mereka memilih artikel berita atau cerita pendek untuk diskusi kelas, dengan versi yang berbeda-beda tergantung pada reading level para siswa.

Menurut Gross, aplikasi ini juga menyediakan umpan balik cepat kepada para guru mengenai kemajuan tiap siswa, serta mengingatkan mereka siapa saja siswa yang butuh perhatian, baik di kelas online maupun di ruang kelas. “Para guru makin menyadari mana tools yang betul-betul bisa berjalan bagus, baik di ruang kelas maupun secara online,” kata Gross, percaya diri.

Newsela pada dasarnya merupakan suatu platform pendidikan berpola SaaS (Software as a Service) yang menyimpan ribuan materi pelajaran untuk siswa K-12. Pendiri Newsela juga pendidik/guru, yang sebelum mendirikannya membayangkan layanan seperti Spotify atau Netflix untuk konten edukasi di sekolah-sekolah. Karena itu, mereka mendesain layanan platform SaaS sesuai dengan realitas praktis di ruang-ruang kelas.

Newsela menciptakan platform untuk menyediakan konten-konten dari sejumlah pihak ketiga. Misalnya, berupa dokumen sumber primer ataupun artikel terbaru dari National Geographic. Gross sendiri lebih suka mendefinisikan konten-kontennya sebagai “materi yang tidak dibuat untuk tujuan pendidikan, tetapi dibangun agar menarik dan informatif”.

Pada Februari 2020, Newsela mendapatkan the Research-Based Design Product Certification dari Digital Promise. “Sekolah dan keluarga ingin tahu mana produk edtech yang betul-betul bisa membantu siswa belajar,” kata Karen Cator, CEO Digital Promise, mengomentari sertifikasi yang diperoleh Newsela. Serfikasi yang dilakukan Digital Promise pada dasarnya untuk membantu memperkuat tingkat kepercayaan konsumen dalam memilih produk yang berbasis riset.

Di website-nya, dijelaskan bahwa Newsela mengambil konten yang otentik dari sumber-sumber terpercaya dan menyediakan materi instruksional siap-pakai untuk ruang kelas K-12. Setiap materi teks dipublikasikan pada lima reading level, yang dapat diakses setiap siswa.

Dengan lebih dari 14 ribu judul konten/teks pada platform Newsela dan 10 judul teks baru yang dipublikasikan setiap hari pada lebih dari 20 genre, Newsela membantu para pendidik untuk makin mendalami setiap mata pelajaran yang mereka pilih. Berdasarkan rilis beritanya, Newsela telah mengoleksi belasan ribu judul teks materi ajar pada berbagai subjek pelajaran (dengan materi terakurasi) dari lebih dari 174 penerbit besar, termasuk Associated Press dan Encyclopedia Britannica.

Manajemen Newsela dalam rilis beritanya juga menyebutkan, recurring revenue tahunannya selama 2019-2020 tumbuh 81%. Kini, Newsela melayani sekitar 37 juta siswa dan 2,5 juta guru, dengan sekitar 90% penggunanya berasal dari sekolah-sekolah dari kelompok TK-SMA (K-12) di AS. Popularitas platform semacam Newsela ini seperti makin memperkuat tanda-tanda berakhirnya era buku teks dan materi ajar berbasis kertas lainnya.

Gross menceritakan, ketika ia mendirikan Newsela pada 2012 dan meluncurkan beta produknya di tahun berikutnya, baru sekitar 30% sekolah di kalangan K-12 yang telah memiliki akses internet broadband. Namun, di akhir 2019, angkanya telah mencapai 99%. “Ketika kami baru memulai, sangat jarang sekali ada sekolah yang memiliki satu laptop untuk setiap siswa. Tetapi sekarang hal itu sudah dianggap normal,” katanya.

Hasil riset Newsela menemukan para guru rata-rata menggunakan buku teks 2-6 hari per bulan, padahal kalangan sekolah nasional masih membelanjakan US$ 5 miliar setahun untuk pengadaan buku teks. Menurutnya, itu pengeluaran yang besar padahal penggunaannya cuma sedikit.

Gross melihat meskipun buku teks konvensional sudah hampir mati di ruang kelas, pembeliannya masih terjadi. Ia berpendapat, kalangan pembuat kebijakan harus memberikan perhatian besar melihat pemborosan yang terjadi dengan belanja sebesar US$ 5 miliar, padahal penggunaannya minimal.

Dalam perkembangan terbaru, kesempatan untuk menyediakan materi digital ke tangan para siswa makin terbuka dengan penandatanganan the American Rescue Plan Act di tahun 2021, yang akan menggaransi US$ 7,1 miliar untuk konektivitas broadband, hotspot, router, dan perangkat lainnya.

Newsela mematok fee untuk mengakses produknya sebesar US$ 6-14 per siswa. Ini lebih murah jika dibandingkan dengan biaya untuk text-book yang harus dikeluarkan sekolah yang berkisar US$ 20-40 per siswa. Perusahaan rintisan ini memperkirakan nilai booking secara kasar tumbuh 115% selama masa pandemi. Adapun dari segi revenue tumbuh 81%.

Semenjak merebaknya pandemi Covid-19, Newsela telah digunakan untuk remote learning di dua pertiga sekolah di AS. Bisa dipahami, karena dengan menggunakan platform ini, para guru tetap bisa meneruskan social-emotional learning selama proses pengajaran, serta memonitor kemajuan dan engagement siswa. (*)

BOKS

Sekilas Profil Newsela

-Nama perusahaan : Newsela

-Situs : Newsela.com

-Jenis layanan : platform yang menyediakan konten pendidikan digital dari mitra penerbit besar untuk para guru dan siswa TK-SMA

-Tahun berdiri : 2012

-Pendiri : Matthew Gross (hingga kini masih sebagai CEO)

-Koleksi : 14 ribu judul materi teks

-Mitra konten : 174 penerbit besar

-Pengguna : 2,5 juta guru dan 37 juta siswa (TK-SMA) di sekolah-sekolah AS

-Valuasi : US$ 1 miliar (berdasarkan pendanaan senilai US$ 100 juta pada Februari 2021)

-Investor : Franklin Templeton Investments, Owl Ventures, TCV, Tao Capital Partners, Chan Zuckerberg Initiative, dan Waycross Ventures.

Dari berbagai sumber.

Joko Sugiarsono; Riset: Armiadi Murdiansah (dari berbagai sumber)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)