Octopus Menyokong Omzet Pemulung Hingga Rp 10 Juta

Pelestari Octopus mengumpulkan sampah daur ulang.(Foto : Istimewa)

Octopus, aplikasi pengumpulan kemasan bekas pakai, diunduh oleh Sulaiman (43 tahun) untuk menghimpun pendapatan senilai Rp 10,4 juta dalam satu bulan pada Oktober 2020. Octopus berkembang pesat seiring semkain tingginya literasi masyarakat terhadap lingkungan, terutama memberdayagunakan produksi sampah secara sistematis.

Dengan aplikasi ini, memungkinkan penggunanya menyetorkan kemasan bekas pakai untuk didaur ulang. Pengguna, dengan target utama anak muda yang sudah peduli lingkungan, akan mendapat imbalan seperti voucher potongan harga saat membeli kopi-kopi kekinian.

Ada 3 mobile apps, yaitu untuk pengguna (consumers), pelestari (waste collectors), dan pebisnis produksi sampah (checkpoints). Ketiga aplikasi ini telah besinergi sangat baik, hingga selama enam bulan terakhir ini, Octopus telah berhasil mengumpulkan 9,9 juta produk sampah dari para pengguna. Aplikasi ini diapresiasi masyarakat, salah satunya Sulaiman yang menggunakan Octopus dan meraih penghasilan sejumlah Rp 10,4 juta dalam satu bulan pada Oktober tahun lalu.

Awalnya, Sulaiman terbelit utang dari 3 platform pinjaman online (pinjol). Ia tak memiliki rumah dan menafkahi dua anaknya. Saat itu tak punya pilihan untuk menyelamatkan perekonomian keluarganya sehingga meminjam dana di pinjol. Kemudian, Sulaiman menemukan Octopus. Ia mengajukan diri sebagai pelestari/pengangkut sampah daur ulang pada Februari 2020.

Sampah yang diangkutnya itu dibawa untuk dijual ke bank sampah. Lalu bank sampah mitra Octopus menjualnya ke industri daur ulang. Berkat kerja kerasnya, dalam sebulan Sulaiman bisa melunasi utang-utang, membayar uang sekolah anak-anaknya, dan mengamankan perekonomian keluarganya. Penghasilan Sulaiman sebagai pelestari penuh waktu di Octopus diawali sekitar Rp1 juta per bulan, lalu naik menjadi Rp 3 juta per bulan, dan akhirnya mencapai Rp 10,4 juta per bulan. Pendapatan Sulaiman ini menjadi rekor tertinggi bagi Octopus.

Sulaiman adalah satu dari sekitar 8 ribu orang yang menjadi pelestari di Octopus yang beroperasi di Makassar dan Bali. Mayoritas pelestari ini dulunya adalah para pemulung yang diberi pelatihan cara memakai aplikasi dan mengenali sampah yang bisa diterima oleh industri daur ulang. Selain pemulung, pelestari juga terdiri dari mahasiswa, korban PHK akibat pandemi Covid-19 dan mitra pengemudi ojek online.

Octopus Indonesia berdiri di Makassar pada awal 2020, terdiri dari 7 orang dengan beragam latar belakang, seperti lulusan kampus Amerika Serikat seperti Harvard Business School dan MIT, dan UC Berkeley.

CEO sekaligus Co-founder Octopus, Moehammad Ichsan, mengatakan pihaknya melakukan proyek percontohan (project pilot) pertama di Makassar untuk mengawali inovasi dari Indonesia bagian timur. “Saya kemudian bertemu dengan Hamish, dan ternyata kami memiliki visi yang sama dengan Hamish mengenai mengelola sampah yang dikonsumsi masyarakat tidak terbuang ke tempat sampah, tapi bisa menjadi penggerak industri daur ulang yang dapat meningkatkan aktifitas sirkular ekonomi,” ujar Ichsan di Jakarta, Jumat, (5/3/2021). Hamish Daud Wylie yang merupakan suami penyanyi Raisa kini menjadi Chief Marketing Officer  Octopus.

Hamish menyampaikan Octopus adalah ekosistem ekonomi sirkular yang bisa jadi solusi permasalahan sampah di Indonesia. “Kami membantu industri memperoleh material daur ulang lebih bagus, membantu pemulung mendapat kerjaan lebih layak, bahkan bantu standarisasi harga material daur ulang di setiap kota, everybody is happy, it’s a win-win solution,” ungkap Hamish. Saat ini, Octopus Indonesia memiliki 35 ribu pengguna aplikasi, 1.600 mitra pengepul dan bank sampah tempat Pelestari menyetorkan sampah yang diangkut. Aplikasi Octopus telah hadir di kota Makassar, Badung (Bali), Gianyar (Bali), Denpasar, dan akan segera hadir di Bandung.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)