Open Labs Sediakan US$100 Juta untuk Kembangkan Startup dan UMKM

Jeffrey Yuwono, CEO Open Labs; Reinaldo Wijaya VP of Operations Open labs, Bambang Soemantri Brodjonegoro, pengamat ekonomi dan tren digital Indonesia; dan Claudia Sastra, CEO Emaku Indonesia (Foto: Jeihan/Swa)

Startup brand aggregator, Open Labs, mengumumkan telah menyiapkan program ketersediaan dana sebesar Rp 1,4 triliun (setara US$ 100 juta) untuk diinvestasikan dalam bidang usaha yang berpotensi besar untuk berkembang. Dana tersebut sekaligus membantu bisnis online mereka untuk kemudian tumbuh dan memiliki skala operasional dan menjadikan merek itu merek konsumen terkemuka.

Ketersediaan dana investasi tersebut, terbesar di antara brand aggregator lainnya di Asia Tenggara, secara khusus berfokus pada investasi modal dan menyediakan dukungan operasional bagi pebisnis e-commerce, terutama di Indonesia.

Bisnis yang bermigrasi ke platform e-commerce di Indonesia semakin berkembang pesat, terutama karena konsumen memanfaatkan pembelian online selama pandemi. Menurut Kementerian Perdagangan RI, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 64 juta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang secara kolektif menyumbang sekitar 61% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dari jumlah UMKM tersebut, 14 juta telah bermigrasi ke platform e-commerce, dan sebanyak 30 juta UMKM diharapkan dapat melakukan transformasi digital di masa depan.

Menurut Jeffrey Yuwono, CEO Open Labs, internet memberi UMKM akses yang tak terbayangkan sebelumnya terhadap pelanggan mereka di seluruh Indonesia dan memicu perkembangan bisnis digital yang pesat. Hal ini telah menciptakan berbagai bisnis yang berpotensi untuk menjadi merek-merek yang dikenal secara nasional sehingga membutuhkan pengelolaan operasional mumpuni agar dapat terus berkembang.

“Kami ingin bermitra dengan perusahaan-perusahaan muda yang berusaha meningkatkan skala operasi mereka. Kami berada di posisi terdepan dalam melakukan hal ini karena kami memiliki fokus yang jelas: dengan siapa kami ingin bermitra, besaran investasi kami, kecepatan pengambilan keputusan kami untuk berinvestasi, dan keahlian operasional kami yang mendalam di bisnis penjualan secara online,” kata Jeffrey.

Jeffrey melanjutkan, “Ketika bisnis e-commerce dimulai, biasanya pengelolaan operasionalnya cukup sederhana. Namun, seiring dengan pertumbuhan mereka yang semakin besar dalam hal volume dan ruang lingkup, kompleksitas operasional bisnis pun semakin besar.”

Selain kebutuhan terhadap modal kerja yang lebih tinggi, para pebisnis online juga menghadapi berbagai tantangan lainnya seperti bagaimana mendapatkan sumber pasokan produk yang terukur, rentang produk yang tepat, rentang harga yang tepat, strategi merek, bagaimana melakukan pemasaran yang baik secara terprogram, bagaimana melakukan layanan pelanggan secara efisien, serta bagaimana mengelola rantai pasokan yang rumit dengan persyaratan pergudangan, logistik, dan distribusi yang sangat spesifik. Banyak pebisnis online – terutama yang merupakan pendiri tunggal – tidak memiliki sumber daya yang cukup dan kewalahan mengatasi tantangan ini.

“Di sinilah kami melihat Open Labs dapat berperan ganda. Pertama, dengan ketersediaan dana investasi kami yang besar, kami dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan. Kedua, dan yang lebih penting, kami memiliki keahlian yang tepat untuk mengisi kesenjangan atau masalah-masalah operasional sekaligus melengkapi keahlian yang dibutuhkan oleh portofolio mitra kami untuk mentransformasi mereka dari bisnis yang baik menjadi bisnis yang hebat,” kata Yuwono.

Pebisnis online yang membutuhkan dana biasanya memiliki beberapa pilihan, bahkan termasuk meminjam dari bank. Kadang kala, model bisnis mereka tidak sesuai dengan kriteria perusahaan yang dicari venture capital (VC) dan private equity (PE) karena VC biasanya mencari perusahaan start-up teknologi dengan model disrupsi untuk pertumbuhan eksponensial, sedangkan PE menargetkan perusahaan yang sudah mapan dan matang. Model pendanaan Open Labs mengatasi batasan-batasan tersebut untuk permodalan.

Open Labs telah memiliki tim kelas dunia yang terdiri dari 60 ahli dalam berbagai aspek operasional dan regulasi bisnis penjualan online. Para ahli ini mewakili talenta terbaik dalam berbagai bidang, dari branding dan pemasaran, layanan pelanggan, rantai pasokan, logistik, pengelolaan keuangan, hingga kepatuhan terhadap peraturan di bidang-bidang seperti pajak dan hukum. Tim ini akan semakin bertambah hingga mencapai 150 orang ahli.

Dalam proses seleksi memilih mitra potensial untuk berinvestasi, Open Labs mengevaluasi setiap prospek perusahaan mitra dalam hal skala bisnis, tingkat pertumbuhan, profitabilitas dan kepemimpinan di industri, termasuk komitmen pendiri tunggal atau para pendiri bisnis tersebut. Tidak seperti brand aggregator lain yang menerapkan kebijakan akuisisi langsung 100%, akuisisi Open Labs dimulai dari 51%, yang mencerminkan keinginan Open Labs agar para pendiri bisnis tetap mengelola perusahaan tersebut sehingga bisnis dapat terus berkembang dengan visi, semangat, dan komitmen dari para pendiri perusahaan mitra.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)