Pasar Gaming Bakal Capai US$ 117,9 Miliar di 2015

Games atau permainan biasanya identik dengan anak-anak. Namun, di era internet seperti sekarang, dan ditambah dengan percepatan konvergensi media yang terjadi, games bukan lagi menjadi konsumsi anak-anak, tetapi juga telah digemari masyarakat di berbagai usia. Industri gaming pun telah menjadi sebuah industri yang sangat menguntungkan, dan menjadi salah satu kontributor pertumbuhan dan perkembangan industri Information and Communication Technology (ICT), tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia.

gameonlineTransparency Market Research dalam laporannya menyebutkan bahwa pasar gaming dunia pada tahun 2011 mencapai US$ 70,5 miliar. Dan, pada tahun 2015 nilainya diperkirakan akan mencapai US$ 117,9 miliar. Asia Pasifik menjadi wilayah dengan pertumbuhan pasar gaming terbesar di dunia. Besarnya pertumbuhan pasar gaming disebabkan oleh semakin canggihnya fitur yang ditawarkan seluruh games yang ada di pasar dan meningkatnya jumlah pengguna internet di dunia. Sebagian orang bahkan menjadikan games sebagai bagian terpenting hidup mereka, baik itu para pembuat games, produsen hardware pendukung industri gaming, aksesoris, dan lain-lain. Adapun porsi terbesar pasar gaming dimiliki oleh para pengembang game.

Dan untuk memuaskan dahaga para gamers lokal, Dyandra Promosindo dan Digitalife menggelar Jakarta Game Show (JGS) 2013, yang berakhir hari ini, Minggu (3/11/2013). Gelaran JGS kali ini diramaikan oleh beberapa publisher game lokal, seperti Garena, Megaxus, Maingames, WaveGame, Pandawa, dan lain-lain.

Yang menjadi fokus di JGS kali ini adalah menghadirkan liga-liga game online terbesar di Indonesia yang berorentasi internasional. Dan yang paling menarik, yaitu digelarnya tiga turnamen game bertaraf internasional, yakni Asian Cyber Game (ACG) 2013, Indonesia Heroes of Newerth National Championship (IHNC), serta Counter Strike Online World Championship.

“Sampai dengan tahun lalu industri gaming Indonesia menghasilkan sekitar seribu games. Nilai pasar game di Indonesia diperkirakan akan terus bertumbuh di tahun-tahun mendatang. Ini menjadi salah satu pertimbangan mengapa Dyandra menggelar Jakarta Game Show 2013,” terang Dwi Putri Winahyu, Manager IT Division Dyandra Promosindo, Sabtu (2/11/2013). Ia menambahkan, tujuan JGS sendiri adalah untuk memberikan ruang bagi pengembang lokal untuk menunjukkan potensinya.

Selain menggelar turnamen games internasional dan berbagai games menarik lainnya, JGS 2013 juga mengadakan talkshow, seminar, serta workshop yang menjadi ajang edukasi bagi para pengunjung dan pecinta games Indonesia. Kegiatan ini membahas berbagai topik yang berkaitan dengan dunia gaming, salah satunya adalah cara membuat games menggunakan software Unity. Workshop ini digelar oleh Heroges Matrik Niames yang bekerja sama dengan HotGame dan PCPlus. “Mudah-mudahan pengetahuan ini bisa memacu mereka untuk terus menggali kemampuan dalam membuat software games dan ikut memajukan industri games Indonesia,” ujar Wira, perwakilan dari Heroges.

Ajang JGS 2013 juga dimeriahkan oleh beberapa komunitas, seperti komunitas Indonesia Tekken Battle dan Komunitas Marvel Indonesia. Komunitas gaming menjadikan ajang JGS 2013 sebagai gathering dan saling berbagai informasi mengenai game favorit mereka. Komunitas Marvel Indonesia bahkan menjadikan JGS 2013 sebagai tempat untuk memperkenalkan logo baru mereka.

Dalam sebuah acara talkshow juga dibahas mengenai pilihan gamers terkait game yang mereka mainkan, apakah dibeli secara legal atau cukup mencari bajakan. Karena tak bisa dipungkiri bahwa besarnya nilai pasar gaming ikut membuat pasar gelap gaming juga tumbuh subur. Namun, perlu diingat bahwa dengan membeli games asli dan bukan versi bajakan, para pecinta games telah ikut berperan aktif mengembangkan industri games, terutama games-games lokal yang merupakan buah karya anak bangsa yang patut diapreasiasi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)