Pegadaian, Lakukan Akselerasi dengan Strategi G-5tar+

Tahun 2022 menjadi istimewa bagi Pegadaian. Per 22 Maret 2022, Otoritas Jasa Keuangan telah memberikan pemberlakuan izin usaha sebagai perusahaan pergadaian pemerintah sehubungan perubahan nama PT Pegadaian (Persero) menjadi PT Pegadaian. BUMN ini resmi melepas atribut persero setelah bergabung dalam Holding Ultra Mikro bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan Permodalan Nasional Madani.

Sejalan dengan perubahan ini, Pegadaian juga makin berlari dalam transformasi digital, khususnya dalam mewujudkan Revolusi Industri 4.0. Dalam hal ini, mereka memiliki grand stategy yang disebut G-5tar+ (G Star Plus). 

Strategi tersebut terdiri dari enam langkah. Pertama, Grow Core. Di sini mereka mengembangkan core business melalui perluasan fitur produk dan produk turunan, serta meningkatkan integrated customer experience untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah. Kedua, Go Further: memperluas jangkauan serta mengoptimalkan fungsi sebagai agen inklusi keuangan melalui kerjasama dengan mitra strategis dan optimalisasi jaringan.

Ketiga, Grab New: mengembangkan potensi bisnis berbasis digital serta bisnis fee-based dengan memberdayakan bisnis inti. Keempat, Groom Talent: menjaring serta mengembangkan talenta yang kapabilitasnya sesuai dengan standar global.

Kelima, Gen Z Tech: mengembangkan sistem TI terkini serta mengembangkan kapabilitas dan tata kelola TI untuk meningkatkan daya saing dan menunjang operasional perusahaan. Keenam, Great Governance & Culture: menguatkan tata kelola dan manajemen risiko yang selaras dengan pengembangan bisnis serta menciptakan budaya kerja yang selaras dengan core values AKHLAK.

Salah satu sasaran grand strategy ini, menurut Teguh Wahyono, Direktur Teknologi Informasi dan Digital Pegadaian, adalah membuat perusahaan menjadi kekinian dan tetap relevan dengan zaman now, melalui layanan digital yang lebih baik, lebih murah, nyaman, dan aman. Realisasinya, Pegadaian telah menciptakan sejumlah produk berbasis digital. Di antaranya, Pegadaian Digital Sistem, Gadai Efek (Gadai Saham), G-Cash (virtual account Pegadaian), dan Gadai on Demand (pick up & delivery barang yang ditujukan bagi nasabah yang tidak sempat datang ke Pegadaian).

Mereka juga memperluas segmen distribution channel ⸺terutama demi menyasar nasabah milenial dan mereka yang sudah mahir serta cerdas digital⸺ dengan berbagai platform digital (Tokopedia, Shopee, Linkaja, Ovo, Bareksa) dan jalur perbankan. Kanal-kanal tersebut antara lain digunakan untuk memperkenalkan produk Tabungan Emas dengan pembelian mulai dari Rp 5 ribu. “Respons pasar sangat positif. Jumlah nasabah dan transaksi terus tumbuh. Tahun 2021 jumlah transaksi lebih dari 20 juta,” ungkap Teguh. 

Kolaborasi aktif dihidupkan Pegadaian. Selain pengembangan produk baru berbasis digital, produk lain juga terus diakselerasi demi menyiapkan aneka revenue stream. Pinjaman modal kerja berbasis invoce dan pre-invoice, misalnya, sudah mulai dipasarkan, baik melalui kanal milik sendiri maupun berkolaborasi dengan sejumlah P2P lending, seperti PaDi UMKM Kementerian BUMN, Investree, Akseleran, dan Modal Rakyat.

Untuk memuluskan langkah di atas, dan sesuai dengan strategi Gen Z Tech, Pegadaian sangat selektif dalam memilih teknologi yang diyakini paling tepat dengan kebutuhan serta target pasar. Sebelum mengimplementasikan teknologi baru, mereka memilih beberapa technology principal untuk melakukan prove of concept.

Pegadaian memang tidak mau sembarang memilih teknologi karena satu kesalahan bisa membawa konsekuensi panjang. Dalam kerangka Gen Z Tech, pengembangan bisnis harus dilakukan dengan mengoptimalkan teknologi digital terkini, mulai dari infrastruktur yang mengadopsi hybrid cloud dan on-premise, pemanfaatan data analytics, artificial intelligence (AI), IoT, cyber security, dan IT Governance

“Kami sangat welcome untuk berkolaborasi dengan technology partner yang sesuai dengan kebutuhan Pegadaian, tanpa harus melakukan pengembangan dari awal,” kata Teguh. Contohnya, solusi API Management dari Redhat dengan beberapa solusi yang dipakai untuk integrasi ke e-commerce beserta pihak ketiga lainnya. Lalu, dengan Telkom dalam pengembangan HCIS, serta Telkomsel dan Accenture dalam hal pengembangan CRM modern berbasis data analytics dan AI. 

Saat ini beberapa prinsipal sudah bekerjasama. Di antaranya, IBM dan Cisco untuk penyediaan infrastruktur TI, VMWare (Infrastructure as a Services Private Cloud/IaaS), Redhat (Platform Microservice as Service/PaaS), Cisco (Modernisasi Infrastructure Network as Code), Confluent (data in motion/real-time data streaming and analytics), serta Blocksphare (Blockchain). 

Khusus yang terakhir, Pegadaian juga tengah mengeksplorasi teknologi baru. Mereka mengembangkan aplikasi berbasis Blockchain untuk pengelolaan perdagangan emas. “Jika sukses, ke depan akan disiapkan untuk implementasi yang lebih luas lagi, misalnya untuk mendukung sistem bullion bank (bank emas),” ungkap Teguh. Pegadaian memang tengah didorong menjadi bullion bank pertama di Indonesia.

Selain digitalisasi di produk yang sesuai dengan target pasar, digitalisasi proses bisnis pun terus dilakukan, dengan tujuan meningkatkan efisiensi serta produktivitas. Harapannya, kata Teguh, dengan efisiensi dan produktivitas yang tinggi, Pegadaian bisa memberikan layanan yang lebih baik dan harga yang lebih murah.

“Titik terpenting dalam proses pengembangan teknologi dan digitalisasi ini adalah bagaimana mengintegrasikan keseluruhan aplikasi, baik di sisi front end maupun back end yang akan memberikan (customer) experience yang baik bagi pelanggan internal maupun eksternal,” Teguh menjelaskan.

Customer experience, menurutnya, memang menjadi tujuan dari upaya Pegadaian mewujudkan industri 4.0. Ujungnya, “Layanan Pegadaian semakin baik, lebih murah, lebih nyaman, dan tetap aman, sehingga Pegadaian tetap kekinian, dan tetap relevan dengan zaman now,” katanya tandas.

Sejauh ini, langkah-langkah yang dijalankan telah memberikan hasil yang menawan. Dalam tiga tahun terahir, kinerja Pegadaian sangat kinclong. Nasabah BUMN ini tumbuh dari 8,9 juta menjadi 19,7 juta, laba terus tumbuh dua digit, dengan rasio keuangan utama yang lebih baik daripada rata-rata industri. User layanan Pegadaian Digital Service (digital.pegadaian.co.id) mencapai 4,9 juta, tumbuh 40% lebih, dengan transaksi yang terus tumbuh. Jika langkah-langkah ini terus konsisten diayun, bukan mustahil kinerjanya semakin meningkat di tahun-tahun mendatang. (*)

Teguh Sri Pambudi & Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)